Sunday, August 14, 2005

Ronald Reagan



The Great Communicator, begitu The Washington Post menyebut Ronald Reagan. Dia telah pergi. Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) ke-40 ini, meninggal dunia di usia 93 tahun, setelah sepuluh tahun menderita penyakit Alzheimer. Reagan meninggal dunia di kediamannya kawasan Bel Air, Los Angeles. Reagan tetap dikenang sebagai salah satu presiden terbaik AS.Bahkan, sahabat terdekatnya, mantan Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher mengenang Reagan sebagai "pahlawan besar Amerika yang sebenarnya".

Reagan mengumumkan kepada publik AS pada akhir1994 bahwa dirinya menderita Alzheimer yang menyebabkan kekacauan otak yang membawa pada disorientasi mental dan kemunduran fisik.Ia menjalani kehidupan yang tenang di rumahnya sejak itu. Reagan yang berdinas di Gedung Putih tahun 1981-1989, merupakan presiden AS yang paling lama hidup. Ia adalah presiden AS tertua yang pernah dipilih dan orang paling tua yang berkuasa, yang meninggalkan masa jabatan keduanya hanya beberapa hari sebelum hari ulang tahunnya yang ke-80.

Walaupun sudah tiada, namun kini suara tajam Reagan tetap akan terdengar di tengah publik. Telah diproduksi boneka Reagan yang bisa berbicara. Boneka Reagan merupakan keluaran terbaru Talking Presidents. Boneka tersenyum dengan tinggi 30 cm itu dioperasikan dengan batere dan bisa mengeluarkan 11 kalimat politik Reagan. Kalimat-kalimat politik favorit yang pernah diucapkan oleh Reagan, termasuk, "Tuan Gorbachev, runtuhkan tembok ini," dan "Anda dan saya dipertemukan oleh takdir." Yang diluncurkan oleh boneka tersebut adalah rekaman suara asli Reagan. Boneka ini laku keras, bak kacang goreng, begitu menurut John Warnock, kreator Talking Presidents.

"Reagan merupakan salah satu presiden AS favorit bagi kebanyakan orang Amerika," kata John. The Great Communicator Jika orang ditanya tentang siapa Ronald Reagan menurut mereka, maka sebagian besar orang langsung menjawab: Presiden AS atau Bintang Film. Tetapi saya cenderung setuju dengan The Washington Post, Ronald Reagan adalah seorang komunikator yang sangat hebat. Reagan dijuluki sebagai presiden paling komunikatif setelah Roosevelt. Abraham Lincoln dikenal sebagai jagonya pidato tertulis, sementara Roosevelt dijuluki jagonya pidato radio, sedang Reagan adalah Sang Aktor, dialah bintang televisi dunia.

Reagan sadar betul bagaimana peranan TV yang sangat besar sebagai media yang luar biasa daya jangkau dan pengaruhnya terhadap tiap individu di seluruh dunia. Jika kita ditanya tentang Reagan, maka kita dapat bercerita panjang lebar tentangnya. Tetapi berapa banyakkah dari kita yang memiliki kesempatan secara langsung melihat dia? Sadar atau tidak, televisi membuat segala seuatu seolah-olah nyata dan hampir-hampir diingat sebagai pengalaman pribadi setiap individu penontonnya. Pencitraan yang dibentuk oleh televisi sangatlah dahsyat. Dan Reagan adalah ahlinya. Saat ini kita hidup dalam sebuah kebudayaan reality TV di mana batas antara fakta dengan fiksi sangatlah kabur, maka disinilah Reagan memainkan peranan strategisnya.

Selain itu Reagan mampu membuat seluruh hidupnya menjadi sebuah “show” yang memikat untuk diperhatikan setiap orang, layaknya sebuah runtutan cerita film yang menarik. Hal ini tidak terlepas dari pengalamannya baik sebagai penyiar radio dan bintang Hollywood. Saya ambil beberapa contoh yang sangat menarik untuk kita pelajari bersama.

Pertama, ketika pertama kali Reagan berdinas di gedung putih pada tahun 1981. Pada saat itu lawan-lawan politiknya mencoba merusak reputasi Reagan dengan berbagai anekdot-anekdot lucu dan bodoh tentang Reagan. Sama seperti cerita-cerita konyol tentang Capres dan Cawapres via sms yang saat ini sering kita terima. Dan hasilnya? Popularitas Reagan menurun drastis. Positioning yang terbentuk saat itu tentang Reagan adalah presiden AS yang bloon dan mantan artis.

Dua bulan kemudian. DOR! Seorang pria, John Hinkley, menembank Reagan di Hotel Washington dengan enam tembakan. Satu peluru bersarang satu inci dekat jantung, begitu menurut berita.Rekaman video berita penembakan itu disiarkan berulang-ulang. Setelah penembakan itu popularitas Reagan melejit bak meteor, luar biasa jauh, sangat jauh melebihi Inul!! Satu bulan kemudian, dia sudah sembuh! Dan mengejutkan rakyat AS dengan program ekonomi baru: pemotongan pajak & anggaran negara.

Terlepas dari kontroversi yang ada, ada bisik-bisik dikalangan elit komunikator, bahwa penembakkan itu sekedar merupakan rekayasa ala Hollywood, maklum di Hollywood, dar der dor macam itu merupakan makan sehari-hari para Cowboy disana. Betul atau tidak bisik-bisik itu? Wah siapa yang tahu?! Tapi yang jelas penembakkan itu mampu meningkatkan simpati publik dunia pada Reagan.

Kedua, Star Wars, atau perang bintang. Ini adalah program yang brilian dari Ronald Reagan. Kira-kira intinya, kalau mau perang jangan di bumi, tapi di antara bintang-bintang, di luar angkasa. Program ini digembar-gemborkan keseluruh dunia melalui berbagai media terutama televisi. Karena televisi mampu menampilkan bentuk-bentuk audio visual. Seluruh mata publik dunia terpukau dan tertuju pada proyek Star Wars ini. Sampai-sampai Uni Sovyet yang saat itu menjadi musuh terbesar AS “termakan kampanye AS” itu, dan habis-habiskan mengeluarkan budgetnya untuk mampu menjawab perang bintang AS itu. Soviet menyiapkan proyek Soyuz. Dan apa yang terjadi? Uni Soviet pun bangkrut karena proyek itu. Dan dengan berbagai strategi komunikasi yang sangat luar biasa, maka hancurlah Uni Soviet menjadi berkeping-keping.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana keahlian komunikasi Reagan? Fakta membuktikan bahwa program Star Wars sebenarnya tidak pernah ada! Itu hanya isapan jempol belaka dan sekedar gertak sambal Reagan! Ha..ha..ha… siapapun yang menyadari ini akan terhenyak, ternyata inilah makna kata-kata Margareth Thatcher, “ Reagan membuat revolusi paling bersejarah di Uni Soviet tanpa ada perang dan baku tembak.” Ini merupakan bukti yang sangat nyata betapa powerful-nya startegi komunikasi, bahkan lebih dahsyat dari perang dan baku tembak.

Ketiga, Reagan juga sangat piawai dalam berpidato, kalimat-kalimatnya singkat namun tajam mengena pada sasaran. Seperti kalimat, "Jika Anda mencari perdamaian, kesejahteraan untuk Uni Soviet dan Eropa Barat, jika Anda menginginkan liberalisasi, datanglah ke gerbang ini, Pak Gorbachev. Buka gerbang ini, Pak Gorbachev," kata Reagan kepada Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev, pada saat ia secara khusus mengunjungi Gerbang Brandenburg, Berlin, 12 Juni 1987. Atau kalimat: "Saya berterima kasih kepada seluruh rakyat Amerika karena telah diberi kesempatan melayani Anda sebagai presiden," katanya 10 tahun lalu. Perhatikan kata “melayani Anda”, kalimat yang sangat sederhana namun sangat dahsyat efeknya, karena disampaikan oleh seorang presiden AS. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain tentang kehebatan Reagan berkomunikasi strategis.

Mimpi rasanya memiliki presiden RI seperti Reagan suatu saat nanti. Tapi apakah dalam konteks Indonesia saat ini seorang Reagan dapat efektif memimpin Indonesia? Mungkin jawabannya belum. Indonesia saat ini lebih memerlukan pemimpin yang rendah hati dan memiliki rasa kasih sayang yang sangat tinggi terhadap seluruh rakyat Indonesia yang sudah penat menanggung beban. Jadi yang lebih diperlukan Indonesia saat ini adalah pemimpin yang memiliki sikap melayani.

Strategic Communications



Bisnis Indonesia, Minggu 14 Agustus 2005

Strategic Communications

Oleh Christovita Wiloto
CEO Wiloto Corp.
powerpr@wiloto.com

Saya sempat takjub, ketika seorang teman dengan amat detil mengatakan, betapa Starbucks Coffee bukan sekadar jaringan kedai kopi dari AS. Melainkan juga tempat bersosialisasi -- terutama bagi masyarakat urban di negeri itu.

Teman saya tadi amat paham, bahwa perusahaan yang berpusat di Seattle, Washington, ini mengambil namanyadari nama salah satu karakter di novel Moby-Dick,dengan logo seorang siren. Lalu, ia seperti hafal diluar kepala saat mengungkapkan pada Januari 2005,Starbucks telah memiliki 8.949 outlet di seluruh dunia-- dengan rincian 6.376 outlet di AS dan 2.573 outletdi negara lain.

Ia juga bisa dengan lancar menceritakan, Starbuckskali pertama dibuka pada 1971 oleh Jerry Baldwin, ZevSiegel, dan Gordon Bowker. Howard Schultz bergabung dengan perusahaan ini pada 1982, dan terinspirasi oleh bar espresso di Italia, membuka jaringan Il Giornalepada 1985. Beberapa saat setelah pemilik aslinyamembeli Peet's Coffee and Tea, Starbucks dijual pada Schultz yang kemudian me-rebranding Il Giornale dengannama Starbucks pada 1987.

Sebenarnya, saya maklum, karena teman tadi memang seorang maniak kopi. Tapi yang membuat saya takjub,adalah pemahamannya terhadap apa pun yang berlabel Starbucks. Tentu saja, ia adalah penikmat sejati semua varian kopi Starbucks.

Persepsi positif

Apa yang terjadi pada teman saya tadi, adalah contohkecil -- namun konkret -- keberhasilan sebuah strategic communications (SC). Dalam hal ini, SC yang digencarkan Starbucks di seluruh dunia. Starbucks memang salah satu dari banyak perusahaan global yangmengoptimalkan SC untuk ''menguasai dunia.''

Hal serupa dilakukan pula, misalnya, oleh Microsoft,Coca Cola, McDonalds, Kentucky Fried Chicken, Nokia,Mercedes, Disney, Samsung, Honda, Sony, dan ratusan perusahaan global lainnya. Mereka rajin berkomunikasi dengan konsumennya tidak melulu dengan iklan, namun dengan berbagai pemberitaan positif yang dirilis secara by design dan terus menerus.

Dengan cara seperti itu, hampir setiap orang di kolong bumi pasti mengenal -- setidaknya pernah mendengar --nama-nama global tadi. Tentu saja, seperti yang terjadi pada teman saya tadi, tak sedikit di antarakita yang tak sekadar ''ngeh'', tapi paham betul seluk beluk produk dan sejarah sebuah perusahaan.

Selain itu, banyak pula penduduk dunia yang punya persepsi positif tentang masing-masing produk tersebut. Persepsi positif itulah yang mampu menciptakan trust dari seluruh penduduk dunia. Yang pada akhirnya akan menciptakan loyalitas global.

Tak cuma dalam skala korporasi. Pemerintah sejumlahnegara besar juga telah mampu memfungsikan SC untukmembangun citra positif. AS, misalnya. Kita akanmelihat gambaran amat manis mengenai negara itu, jikamenyimaknya dari apa yang disodorkan Hollywood, CNN,dan sejumlah situs internet.

Value of Corporation

Pada tataran lebih strategis, SC tak sekadar bisamendongkrak merek atau brand sebuah produk. Tapi secara siknifikan juga mampu meningkatkan nilai perusahaan di pentas global. Sehingga investor memiliki sentimen positif untuk terus mengucurkan dananya ke sana. Dan, saat nilai sahamnya kianmembaik, value of corporationnya juga bakal melambung.

Selain itu SC dapat meningkatkan sentimen positif pemerintah berbagai negara di belahan dunia yg berbeda-beda terhadap perusahaan. Sehingga negara-negara itu dengan tangan terbuka lebar menerima perusahaan-perusahaan global tersebut untuk beroperasi di negaranya. Dalam banyak kasus, si perusahaan justru diundang masuk dengan berbagai insentif yang menggiurkan.

Dengan asumsi yang sama, persepsi positif tentu jugabisa diimplementasikan di tataran hubungan antar negara.Bila pemerintah sebuah negara mampu mengoptimalkan SC citra negara tadi akan menjadi bagus.

Kalau di tingkat korporasi citra positif tadi akan berbuntut pada loyalitas, dalam skala pemerintahan, gambaran sejuk tadi akan mempertebal trust atau kepercayaan internasional. Dengan modal tersebut, takakan sulit bagi pemerintah negara tersebut untuk menggalang investasi -- khususnya dari pemodal asing-- untuk menanamkan dananya di sana.

Dan, kita tentu paham, investasi jangka panjang dan berkesinambungan yang masuk, secara otomatis akan memacu perekonomian negara yang bersangkutan ''berlarilebih cepat'' untuk menggapai kesejahteraannya. Untuk itu diperlukan strategi yang matang, cermat dan sistematis untuk melakukan strategic communications.

www.wiloto.com

www.wiloto.com