Sunday, November 17, 2002

Paradigma baru atau mati


Paradigma baru atau mati
Bisnis Indonesia 17 Nov, 2002

Menjalankan aktivitas public relations, hampir tak berbeda dengan menyusun sebuah ''strategi perang''. Karena hubungan yang baik dengan publik adalah strategis dan vital. Sehingga, siapa yang mampu membuat skenario public relations dengan format yang tepat, maka dipastikan dia bakal tampil sebagai pemenang dalam pertempuran yang dihadapinya -- baik itu pertempuran dalam arti persaingan bisnis, upaya pengembalian image yang sedang merosot atau memenangkan reputasi.

Dalam situasi seperti itu, aktivitas public relations, tak bisa dijalankan dengan cara-cara konvensional, yang cuma sekadar mengungkapkan kisah sukses, atau segala sesuatu yang sekilas tampak manis belaka. Salah satu penyebabnya, saat ini masyarakat yang harus dihadapi, sudah jauh lebih kritis ketimbang generasi-generasi sebelumnya. Sehingga, kita pun dituntut untik menjalankan komunikasi bisnis dengan langkah-langkah yang lebih strategis.

Karena itu, sebuah paradigma baru public relations menjadi sangat kontekstual. Dan, paradigma baru yang dimaksud di sini adalah perpaduan aktivitas komunikasi dan langkah-langkah konkret untuk memperbaiki kinerja.

Sebagus apa pun kualitas sebuah produk, atau sedahsyat apa pun kinerja sebuah perusahaan, tak akan ada artinya jika tak mampu terkomunikasikan dengan baik ke publik. Masyarakat, tetap saja tak akan memakai jasa atau membeli produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan.

Sebaliknya, semanis apa pun, pemberitaan yang dirilis mengenai sebuah perusahaan, di masa depan juga akan percuma belaka, jika pemilik dan pengelola perusahaan yang bersangkutan tetap tak mampu mendongkrak kinerja usaha. Memang, ada yang mengatakan, kebohongan yang terus-menerus, suatu ketika bisa dianggap sebagai sebuah kebenaran. Tapi ingat pula, serapat apa pun kita menyimpan bangkai, suatu ketika bau busuknya pasti akan tercium juga.

Clinton & Gus Dur

Dalam konteks seperti itu, namun di tataran kenegaraan, ada sebuah cerita menarik mengenai strategi public relations yang dijalankan oleh pemerintah Amerika Serikat semasa kepemimpinan Bill Clinton dan pemerintah Indonesia saat kursi kepresidenan diduduki oleh Abdurrahman Wahid. Saat berkuasa, kedua presiden tersebut sama-sama sempat digoyang isu selingkuh. Clinton dengan Monica Lewinsky, dan Gus Dur dengan Aryanti.

Namun, strategi public relations yang dijalankan oleh para pembela kedua presiden itu sungguh berbeda. Di Amerika Serikat, ketika pamor Clinton hampir hancur akibat tuduhan pelecehan seksual yang dilakukannya kepada Lewinsky, Gedung Putih memilih menonjolkan sisi humanis Clinton untuk meredam isu tersebut.

Berkali-kali, Gedung Putih melansir aktivitas Clinton bersama istrinya, Hillary, dan putrinya, Chelsea. Di sana digambarkan, misalnya, kunjungan Clinton dan Hillary ke sekolah putri tercintanya itu.

Pemberitaan seperti itu, secara tegas menggambarkan image bahwa Clinton Family adalah sebuah keluarga bahagia, keluarga harmonis yang bisa menjadi panutan seluruh bangsa Amerika. Betapa tidak, sebagai seorang presiden sebuah negara adi kuasa, Clinton ternyata masih bisa menunjukkan sikap ke-bapak-annya.

Hasilnya, skandalnya dengan Lewinsky pun, harus dimaklumi sebagai sebuah ''keteledoran'' masa lalu yang tak perlu diingat lagi. ''Selain itu, siapa sih, laki-laki yang tak pernah melakukan kegenitan seperti itu di masa mudanya,'' ujar Clinton, saat pamornya sudah pulih kembali.

Namun, berbeda dengan apa yang dilakukan Gedung Putih, di Indonesia, orang-orang dekat Gus Dur malah mencoba melawan isu Aryantigate, dengan mengungkap skandal yang tak kalah hebohnya. Ketika arus pemberitaan mengenai kabar ''perselingkuhan'' Gus Dur dengan Aryanti sedang kencang-kencangnya, tiba-tiba sejumlah media melansir kabar rencana Abdurrahman Wahid untuk membeli pesawat khusus, semacam Air Force One milik presiden Amerika.

Otomatis, semua pemberitaan memang berbelok ke isu tersebut. Tak ada lagi pemberitaan mengenai Aryanti -- yang secara frontal bisa menjadi aib besar bagi kalangan nahdliyin. Tapi mengalihkan isu itu ke skandal Air Force One sebenarnya juga bukan langkah yang bijaksana. Karena pembelian pesawat khusus itu -- kalau memang benar-benar direalisasikan – dipastikan bisa merontokkan anggaran negara yang sedang defisit.

Memang, kabar soal Air Force One ala Gus Dur itu cuma sekadar isu belaka. Karena sebenarnya pemerintah Indonesia kala itu sama sekali tak berniat merealisasikannya. Di sini, tampak jelas bahwa orang-orang dekat Gus Dur memilih untuk menjalankan skenario public relations nya dengan strategi pengalihan berita. Karena, meski terbebas dari gunjingan kasus Aryanti, presiden keempat Indonesia itu tetap dicerca karena impiannya yang tak masuk akal, dan menurut saya secara keseluruhan makin menambah jajaran masalah; menyelesaikan masalah tidak harus dengan menciptakan masalah baru kan?

Sampai di sini, kita, tentunya bisa memilih strategi seperti apa yang seharusnya dilakukan untuk mengkomunikasikan suatu hal tertentu.

Di sini, kecermatan kita untuk menerapkan paradigma baru public relations akan diuji. Apakah Anda sudah siap untuk itu? Kenyataannya siap tidak siap kita harus siap!

www.wiloto.com

www.wiloto.com