Saturday, April 07, 2007

Tukul vs SBY-JK




Christovita Wiloto
CEO Wiloto Corp. Asia Pacific
email: powerpr@wiloto.com

"Tak sobek-sobek mulutmu" teriak Tukul Arwana ke Christine Hakim, disusul kalimat yang jadi trade mark Tukul "puas... puas... puas...?!" Christine-pun terpingkal-pingkal hingga terjongkok-jongkok dan (maaf) ngompol di celana.

Kejadian itu nampaknya hanya bisa terjadi di acaranya Tukul Arwana, Empat Mata. Nama Tukul terus meroket semenjak menjadi host program Comedy Talk Show “Empat Mata”. Memang talk show yang dibawakan Tukul ini sangat unik dan berbeda dengan talk show lainnya. Perancang acara ini membuat Empat Mata sebagai sebuah talk show yang menggunakan perspektif komedi dan selalu saja menghadirkan Selebriti di setiap episodenya.

Tukul selalu membahas topik / kasus yang sedang hot di masyarakat dan topik-topik yang unik, menarik dan timeless. Selain terdiri dari unsur talk show dan komedi, Empat Mata juga dibumbui oleh unsur entertainment lain, seperti musik dan tak lupa berbagai kejutan-kejutan tidak hanya untuk penonton saja, namun juga untuk bintang tamu ataupun host.

Selain menawarkan informasi, Tukul juga menyajikan komedi yang segar. Dia memang seorang Commedian yang multitalent, dapat menghibur kita sampai terpingkal-pingkal dengan celotehan spontan yang segar.

Tukul Arwana, yang mengaku "wong ndeso" alias orang desa ini selalu memposisi kan dirinya sebagai orang yang jelek, bodoh dan kampungan. "Face country money city" begitu katanya berseloroh, yang kira-kira berarti wajah kampung rejeki kota.

Acara Tukul ini mulai ditayangkan Mei 2006 di TV7, sebelum berubah menjadi Trans 7. Saat itu TV7 melihat potensi Empat Mata semakin digemari pemirsa. Acara yang semula hanya sekali dalam seminggu ini, kemudian ditingkatkan menjadi seminggu 2 kali, naik lagi menjadi 4 kali, dan kini menjadi 5 kali seminggu, Senin sampai Jumat.

Fenomena Tukul ini agak-agak mirip dengan Inul, orang desa yang meroket dengan cepat. Semoga selanjutnya Tukul tidak bernasib sama seperti Inul, yang kini makin merosot populeritasnya.

Pada awalnya Tukul hanya dibayar Rp 3.5 juta per episode, kemudian seiring dengan ratingnya yang terus meroket, fee Tukul pun meningkat menjadi Rp 7 juta per episode. Tapi kini dengar-dengar Tukul menerima honor Rp 20 juta setiap kali muncul di Empat Mata, sedangkan jika kita ingin menanggap Tukul, kita harus rela mengeluarkan dana sekitar Rp 40 juta untuk 2 jam pertunjukkannya.

Bukan hanya itu saja, Tukul-pun dikontrak sebanyak 260 episode oleh Trans 7. Bisa dibayangkan pendapatan Tukul dari Empat Mata pun meroket menjadi Rp. 5.200.000.000,- belum termasuk acara-acara di luar itu, plus honor dari iklan-iklan yang makin banyak dibintanginya.

Tukul, yang lahir pada 16 Oktober 1963 tersebut bernama asli Riyanto. Berasal dari Semarang. Ketika tim TV 7 menghubunginya pertama kali, Tukul sempat kaget saat diminta sebagai pembawa acara talkshow, "Biasanya pembawa acara talkshow itu S3 atau S2, minimal S1, lha wong saya ini hanya SMA kok membawakan talkshow?" begitu kenangnya. Namun tim TV7 yang saat itu dikomandani Apollo menyakinkan Tukul, bahwa justru begitulah "ramuan khusus" dari acara Empat Mata, yaitu tampil unik beda dari yang lain.

Ramuan khusus ini mengingatkan kita pada buku-buku seri "for dummies", seperti Finance for Dummies, Sex for Dummies dan lain sebagainya yang meledak penjualannya di seluruh dunia.

Populeritas SBY-JK

Lain Tukul lain juga pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK). Kalau Tukul populeritasnya terus meroket, sebaliknya SBY-JK populeritasnya terus merosot.

Tiga tahun lalu saat dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden, popularitas SBY mencapai 80% dan Kalla 77%, namun sekarang makin merosot ke posisi 49,7%, sedangkan Jusuf Kalla tinggal 46,9%.

Ini menurut Lembaga Survei Indonesia, yang melakukan survei pada 17-24 Maret 2007 di 33 provinsi dengan responden 1.238 orang. Menurut Direktur Eksekutif LSI Syaiful Mujani situasi perekonomian yang makin memburuk merupakan penyebab utama anjloknya popularitas duet SBY-JK.

Popularitas di bawah 50% adalah situasi yang membahayakan, karena telah menembus ambang batas psikologis. Ini merupakan indikator bahwa kepuasan publik pada kinerja Presiden dan Wakil Presiden sangat rendah. Kurang dari 50% dari pemilih nasional yang merasa puas dengan kerja Presiden. Ini merupakan tingkat kepuasan publik terendah terhadap kerja Presiden SBY sejak dua setengah tahun lalu ia dilantik menjadi presiden.

Dibanding sekitar dua setengah tahun lalu (November 2004), kepuasan terhadap SBY menurun sekitar 30%, dan jika dibandingkan dengan Desember 2006, kepuasan publik pada SBY menurun sekitar 17%. Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng mengatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta supaya penurunan popularitasnya, dapat diambil hikmahnya untuk bekerja lebih baik. Menurut Andi, hal yang paling penting adalah survei itu merupakan masukan bagi pemerintah untuk melihat apa saja yang harus dilakukan. “Apa yang bisa dipertajam, diperbaiki untuk bisa menjadi lebih baik dalam melindungi meningkatkan taraf hidup rakyat,” katanya.

Lain halnya dengan Menkominfo Sofyan Djalil yang berpendapat anjloknya popularitas Presiden SBY dalam hasil survei LSI tidak mencerminkan hal yang penting. “Survei itu sangat kondisional. Itu tidak mencerminkan apa-apa,” kata Sofyan. “Di AS saja hasil survei naik turun. Tidak masalah,” ujarnya.

Pendapat mana yang lebih tepat, semuanya akan kembali kepada kita semua. Ya kita semua sebagai rakyatlah yang bisa merasakan apakah kita saat ini cukup puas dengan kinerja SBY-Kalla atau tidak.

Manajemen ekspektasi

Jika melihat hasil survey yang sangat tinggi saat SBY-JK dilantik, sebetulnya kita bisa melihat bahwa rakyat sebenarnya memiliki harapan yang sangat tinggi terhadap duet SBY-JK. Maklum pasangan ini merupakan hasil dari pemilihan langsung yang pertama terjadi di negeri ini. Namun rupanya, harapan rakyat tersebut tidak kunjung terpuaskan dengan berbagai kinerja SBY-JK, yang faktanya bukan semakin baik, namun justru semakin buruk.

Nah, jadi apa yang kita bisa pelajari dari dua kasus di atas? Manajemen ekspektasi! Ya Tukul tidak pernah menjanjikan apa-apa, dia tampil bahkan dengan menonjolkan berbagai kelemahannya, baik pendidikannya, penampilannya, bahkan Tukul selalu mengingatkan kita bahwa ia hanyalah orang desa yang masuk tivi. "Keadaanku seperti kutu kupret." katanya mengelikan.

Sehingga publikpun tidak memiliki ekspektasi atau harapan apapun terhadap Tukul, dan menganggap Tukul adalah bagian dari publik. Publik pun menjadi kagum dan tercengang-cengang ketika Tukul dengan bantuan Note Booknya, ternyata bisa berpikir luar biasa dalam bahasa dan gaya yang sangat biasa. Hal ini justru terjadi sebaliknya pada kasus SBY-JK, yang dari awal mulanya memang mau tidak mau harus tampil dengan berbagai janji yang super muluk. Penampilannya pun harus selalu klimis sempurna.

Namun justru inilah yang menjadi bumerang, ekspektasi atau harapan publik yang sengaja dibuat melambung sangat tinggi ini tidak dapat dipenuhi. Wajarlah kalau kekecewaan publik pun makin menggunung, dan makin hari makin besar.

Dalam guraun rakyat sehari-haripun sering kita dengar orang-orang berseloroh, "SBY-JK membuat rakyat stress, Tukul membuat rakyat tertawa."

Manajemen ekspektasi adalah masalah strategis bagi kita semua, baik Presiden, Tukul, perusahaan, produk atau siapapun dan apapun yang memerlukan dukungan publik untuk bisa exist. Sampai di sini apakah kita perlu mengangkat Tukul yang "katro" tapi menyenangkan itu menjadi presiden? Wah embuh lah, he..he..he.. nggak tahu.....lebih baik kita kembali ke....LAP TOP!

Bisnis Indonesia Minggu, 08-APR-2007

2 comments:

Andreas Harsono said...

Dengan hormat,

Saya membaca naskah ini di mingguan Bisnis Indonesia. Pikir saya, tumben ada kolom ditulis dengan renyah begini di mingguan itu. Saya suka dengan intro dan cerita-cerita soal Tukul Arwana. Juga penutupnya bagus. Analisisnya mungkin agak kering tapi namanya juga analisis. Terima kasih.

Dedi Dwitagama said...

"SBY-JK membuat rakyat stress,
Tukul membuat rakyat tertawa,
IPDN membuat rakyat mati" :)

www.wiloto.com

www.wiloto.com