Monday, February 27, 2006

Petrokimia

Petrochemical Refinery UK
Bisnis Indonesia
Februari 28, 2006

oleh
Christovita Wiloto
CEO
Wiloto Corp Asia Pacific
powerpr@wiloto.com

Kita tidak bisa menutup mata bahwa perekonomian nasional kita mulai merangkak mencoba bangkit. Walau dampaknya terutama di kalangan bawah belum terasa. Walau harus diakui pemerintahan nampak cukup konsisten dengan upaya memberantas korupsi. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya kasus korupsi yang secara perlahan namun pasti dibongkar habis.

Di luar itu, meskipun tanpa regulasi-regulasi baru, kehidupan industri, termasuk industri petrokimia baik hulu maupun hilir berjalan seperti adanya. Kenyataan ini membuktikan bahwa industri yang bergerak di sektor ini mampu menghidupi dirinya sendiri dan tetap eksis untuk menopang mitra bisnisnya yang lain.

Dalam beberapa tahun terakhir, industri petrokimia (baik hulu maupun hilir), praktis berjalan dan mampu melindungi dirinya tanpa harus minta proteksi pemerintah. Ini jelas berbeda dengan kebiasaan pemerintah kita tempo hari yang sebentar-sebentar mengeluarkan kebijakan yang setengah memaksa yang akhirnya malah menjadi bumerang buat industri ini.

Di tengah semakin terus melambungnya harga minyak dunia, kita tidak bisa pungkiri bahwa salah satu pilar kekuatan perekonomian Indonesia adalah hasil tambang, khususnya minyak dan gas. Selama ini, pengelolaan minyak dan gas bumi di Indonesia lebih difokuskan pada ekspor.

Karenanya kita sayangkan bila sumber daya alam migas Indonesia yang sangat besar ini tidak dikembangkan dalam satu industri yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. Padahal industri hulu migas tidak kalah penting jika dibandingkan dengan industri hilirnya.
Idealnya pengembangan industri hulu migas inilah yang harus dimanfaatkan sebagai salah satu strategi dalam mengejar ketertinggalan ekonomi Indonesia dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Misalnya Thailand dan Vietnam, yang telah jauh mengembangkan industri ini.

Potensi Strategis
Dalam soal pengembangan industri petrokimia hulu ini, sebenarnya kita sudah mempunyai potensi strategis. Industri ini memang sempat mengalami krisis keuangan. Tapi lambat laun, industri petrokimia hulu ini secara swadaya terus melakukan konsolidasi dan berbenah diri. Kita tidak bisa bayangkan bagaimana jika industri pretrokimia hulu yang sudah berdiri ini tidak beroperasi, padahal begitu banyak industri hilir yang mengandalkan perusahaan ini, terutama dalam pengadaan bahan baku.

Strategis karena jika industri petrokimia hulu ini tidak beroperasi, otomatis industri hilirnya seperti pabrik tekstil berskala besar maupun kecil akan menyusul mati. Belum lagi para distributor, pedagang tekstil, dan sebagainya. Jika ini terjadi, tidak bisa kita bayangkan betapa repotnya pemerintah, sebab jumlah pengangguran pasti bakal meningkat.

Sebagai gambaran, jumlah pengangguran di Indonesia hingga saat ini masih bertengger pada angka 40 juta orang. Berita-berita yang dilansir media massa, angka pengangguran itu tidak pernah turun. Akhir-akhir ini, media massa bahkan sering memberitakan ribuan orang berbondong-bondong memperebutkan formulir pendaftaran untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS).Bukan cuma itu, acara bursa-bursa kerja yang banyak digelar di sejumlah kota disesaki banyak calon pekerja.

Bahwa industri petrokimia -- baik hulu maupun hilir -- sudah terbukti sebagai industri yang penyebarannya hampir merata di Indonesia menyerap banyak tenaga kerja. Kita harus menggantungkan optimisme bahwa ke depan industri ini harus terus dikembangkan ke arah yang lebih baik.

Mengembangkan industri petrokimia jelas menguntungkan. Mengapa? Sebab produksi industri petrokimia seperti aromatic dan olefin sangat berperan dalam menunjang industri tekstil, plastik, karpet, benang untuk ban mobil, pestisida, dan obat-obatan.

Peranannya yang sangat strategis inilah yang juga telah berperan membuat harga produk petrokimia pernah berkisar US$400 sampai di atas US$1.200 per ton. Dari setiap tonnya, dapat menghasilkan keuntungan antara US$80-US$200 dari setiap 1 ton.

Prospek keuntungan inilah yang melatarbelakangi mengapa negara-negara Timur Tengah seperti Saudi Arabia, Iran, Qatar, dan Abu Dhabi termotivasi membangun industri petrokimia sampai tahun 2010 yang diperkirakan memproduksi olefin (ethylene) sebesar 15 juta ton per tahun.

Untuk keperluan itu, usaha patungan Saudi Arabia, Exxon Mobil, Shell, BP, dan Phillip akan menginvestasikan senilai US$10-15 miliar. Arab Saudi sendiri melalui Sabic memperoleh laba senilai US$1 miliar lebih dengan revenue US$ 7,6 miliar.

Demikian juga dengan Eropa Timur yang memprogramkan pembangunan industri petrokimia hulu dan turunannya sebesar 5 juta ton per tahun. China ternyata tidak mau ketinggalan, ikut mengembangkan industri petrokimia hulu ini. Informasi yang diperoleh, sampai tahun 2006, mereka merencanakan membangun industri petrokimia hulu berkapasitas 6,35 juta ton per tahun. Hal ini belum termasuk pembangunan industri petrokimia hulu hasil kerja sama antara Fujian Petrochemical, Exxon Mobil, dan Saudi Aramco berkapasitas 800.000 ton per tahun dengan nilai investasi sebesar US$ 3 miliar.

Indonesia yang sudah tertinggal dari negara-negara lain dalam hal pengembangan industri petrokimia hulu ini, sudah seharusnya mengejar ketertinggalannya. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah memaksimalkan kapasitas aset yang telah dimiliki. Sekali lagi tanpa industri petrokimia hulu, kita bukanlah apa-apa

Sunday, February 19, 2006

Garuda; Berubah atau Mati



Bisnis Indonesia
Minggu 12 Februari 2006

Oleh Christovita Wiloto
CEO Wiloto Corp. Asia Pacific


Perubahan "logic of business" industri penerbangan ternyata
tak cuma memakan korban maskapai penerbangan gurem.
Perusahaan penerbangan sekelas Garuda
Indonesia pun harus ''mati-matian" memikul "warisan" beban utang ratusan juta dolar
AS. Perundingan restrukturisasinya pun berlarut-larut, tak kunjung
mencapai kesepakatan.

Dari 800 juta dolar AS utang Garuda, sebesar 510 juta dolar AS merupakan
utang ke European Credit Agency (ECA), 130 juta dolar AS ke pemegang surat
utang (promisorry note), sedangkan sisanya 160 juta dolar AS ke Bank
Mandiri dan kepada PT Angkasa Pura I dan II. Garuda juga belum sanggup
membayar utang sebesar 55 juta dolar AS kepada pemegang promissory note
yang jatuh tempo pada akhir Desember 2005.

Selain karena amat besarnya beban utang, tak kunjung selesainya negosiasi
dengan para kreditor, juga terkait pola penyelesaian utangnya. Secara
umum, para kreditor minta agar manajemen Garuda meng-update rencana
bisnisnya. Terutama terkait dengan dampak peristiwa bom Bali. Selain itu,
kreditor juga minta jaminan pemerintah Indonesia berupa kesanggupan
membayar utang, suntikan dana, dan jaminan kelangsungan bisnis Garuda.

Pemerintah Indonesia sudah mencoba membantu Garuda dengan memberi talangan
sebesar 56 juta dolar AS. Dana talangan dimaksudkan untuk menambah modal
kerja perusahaan.

Sementara, dalam arahannya, Kementerian Negara BUMN mendorong Garuda agar
melakukan aliansi strategis dengan perusahaan penerbangan skala global.
Selain melakukan tranformasi bisnis untuk mengantisipasi sengitnya
persaingan di industri penerbangan.

Intinya, apa pun pola restrukturisasi yang akan diajukan kepada kreditor,
usulan aliansi strategis merupakan salah satu pilihan yang harus
dijalankan Garuda. Tak heran kalau Garuda aktif melakukan penjajakan
dengan sejumlah perusahaan penerbangan asing, khususnya dari negara-negara
Eropa.

Namun, usulan aliansi strategis dengan maskapai asing inilah yang sempat
memicu pro dan kontra. Tak cuma di kalangan anggota DPR. Tapi juga di
antara pengamat dan praktisi industri penerbangan. Bahkan, Wapres Jusuf
Kalla pun sempat memberikan penilaian yang cukup mengagetkan.

Akhir tahun lalu, Wapres mengatakan, pemerintah tak lagi menganggap Garuda
sebagai simbol negara (flag carrier). Alasannya, era saat ini berbeda
dengan zaman dulu, sehingga bisa saja Garuda dijual kepada investor --
baik asing maupun dalam negri.

''Saat ini hampir tidak ada satu negara pun di dunia yang memiliki flag
carrier,'' kata Wapres, usai salat Jumat di kantornya.

Tren penjualan pesawat terbang yang menyimbolkan negara tertentu, lanjut
Kalla, sebenarnya telah berlangsung sejak lama. Ia mencontohkan maskapai
penerbangan Qantas, KLM, atau Malaysia Airlines System (MAS).

Nilai Strategis Garuda

Sampai di sini, sebenarnya tak perlu ada silang pendapat. Sebab, saya kira
kita semua sebagai warga negara Indonesia, pasti berharap Garuda bisa
tetap gagah mengarungi udara. Tak sekadar menjadi ''jembatan'' dari
Indonesia ke negara lain (dan sebaliknya), tapi juga mampu menjadi duta
bangsa di pentas internasional.

Bahwa Indonesia memiliki seorang duta besar di hampir semua negara di
dunia, itu tetap harus diapresiasi. Namun, dengan berbagai kesibukannya di
tingkat elit, saya yakin seorang duta besar tak akan cukup intens
bersosialisasi dengan masyarakat, atau publik negara setempat.

Yang justru bisa lebih dalam ''masuk'' ke ruang publik, adalah perusahaan
penyedia jasa, semacam Garuda. Dengan fungsi dan perannya sebagai jembatan
udara bagi masyarakat yang ingin bepergian ke dan dari Indonesia,
keberadaan Garuda saya kira lebih ''eye catching'' dan familiar. Warga
beberapa negara Eropa, misalnya, mungkin lebih tahu di mana kantor
perwakilan Garuda, dibanding kantor kedutaan dan nama dubes Indonesia di
sana.

Dalam posisi seperti itu, dan tanpa mengurangi hormat pada apa yang telah
dilakukan atase kebudayaan di masing-masing kedutaan, saya kira Garuda
juga bisa lebih efektif dan efisien mempromosikan tidak hanya pariwisata
Indonesia, tapi Indonesia itu sendiri.

Nah, sekarang coba bayangkan seandainya Garuda tak lagi menerbangi jalur
ke kota-kota besar di dunia. Barangkali, popularitas Indonesia bakal
semakin buruk. Artinya, apa pun yang terjadi, rasanya
Garuda harus tetap mengudara, dan membawa kejayaan Indonesia di dunia
internasional.

Hanya saja, untuk itu, Garuda wajib mengubah total paradigmanya, dari
yang "hanya" sekedar sebagai sebuah BUMN, menjadi sebuah korporasi kelas dunia.
Sehingga ia mampu "bersaing" dengan maskapai-maskapai dunia,
semacam Singapore Airlines, Qantas, MAS atau Thai Airways.
Tidak hanya sekedar bersaing dengan masakapai-maskapai baru yang
sedang naik daun dan terus menggeliat
semacam Lion Air, Adam Air, Awair dan semacamnya.

Yang jadi persoalan sekarang, mengubah paradigma secara total bukanlah hal yang mudah.
Perlu "keteguhan hati" dan ''tangan besi'' untuk melakukannya. Bukan tak mungkin, langkah itu
akan sangat menyakitkan bagi sebagian kalangan. Baik di dalam Garuda
sendiri, maupun di pihak yang terafiliasi. Dan pasti banyak resistensi, terutama dari dalam
Garuda sendiri.

Crew dan manajemen Garuda tidak bisa terus berparadigma sebagai "anak emas"
dan merasa "berbeda". Paradigma lama harus segera berganti dengan pardigma baru yang selalu bersaing
untuk lebih melayani, lebih memuaskan. Garuda harus memahami dan mampu bersaing dengan "logic of business"
yang baru dari dunia penerbangan saat ini.
Agar menjadi Garuda yang "sehat", lincah dan siap terbang
bebas mengudara, bersaing dengan dunia.

Jelaslah, kini Garuda hanya punya dua pilihan saja.
Merubah total paradigmanya atau mati.

Friday, January 27, 2006

Playboy Indonesia?

Foto: Tiara Lestari Model Playboy Agustus 2005 Asli Indonesia
Bisnis Indonesia,
Minggu 29 Januari 2006

Playboy Indonesia?

Oleh Christovita Wiloto
Managing Partner Wiloto Corp. Indonesia
www.wiloto.com
email: powerpr@wiloto.com

Siapa tak kenal majalah Playboy? Logo kepala kelinci putihnya telah mendunia. Walaupun menjadi simbol perlawanan terhadap segala sesuatu yang bersifat konservatisme, dia juga menjadi ikon para pemuja 'revolusi seksual' yang menjadi tren di kalangan muda Amerika pada era 1960/1970-an.

Kehadiran Playboy tentu saja tak dapat dilepaskan dari sosok Hugh Marston Hefner. Penggagas ''ide liar' menerbitkan majalah berkategori triple X' ini. Lahir di Chicago, Illinois, 9 April 1926, dia pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Filosofi di Universitas Illinois, Urbana-Champaign. Dia lalu masuk wajib militer menjelang berakhirnya Perang Dunia Kedua.

Naluri wirausaha dan bakat menulisnya-Hefner pernah menjadi copywriter di majalah Esquire-diwujudkan dengan menerbitkan majalah yang dia dedikasikan pada kekasihnya. Majalah itu semula diberinya nama Stag Party. Tapi kemudian diubah menjadi Playboy, karena sebelumnya sudah ada majalah bernama mirip, yakni Stag Magazine.

''Nama Playboy diusulkan oleh seorang teman,'' kata Hefner dalam biografinya. Tapi dia tak pernah menyebut siapa teman yang dimaksudnya.
Sebagai majalah yang dikonsepkan untuk konsumsi pria dewasa, Playboy memang bertabur foto-foto wanita cantik dengan pose menantang, plus busana yang serba minim. Bahkan tak jarang ada model yang tampil nyaris-maaf - telanjang. Yang menarik, hampir semua model Playboy berambut pirang. ''Saya memang selalu tertarik dengan perempuan berambut blonde,'' ujar Hefner.

Dalam perkembangannya, Playboy tak cuma memajang model-model semitelanjang. Tapi juga menyajikan wawancara dengan sejumlah tokoh terkenal - khususnya artis dan politikus-dengan format yang amat lugas. Tak heran kalau model jurnalistik Playboy sempat jadi acuan majalah lain.

Maaf, saya bukan mempromosikan Playboy. Tapi deskripsi di atas sengaja saya paparkan untuk referensi terhadap apa yang akan kita diskusikan berikut ini. Yakni kontroversi seputar rencana penerbitan Playboy edisi Indonesia oleh PT Velvet Silver Media.

Pornografi dan pornoaksi

Sejak muncul kabar bakal diterbitkannya Playboy edisi Indonesia, awal Januari, berbagai komentar ramai berseliweran di media massa. Banyak yang menghujat, tapi tak sedikit pula yang memberi dukungan. Di antara keduanya, ada yang mencoba memberi jalan tengah.

Pihak Velvet Silver Media beberapa kali mencoba menjelaskan Playboy versi Indonesia tak akan sama dengan versi aslinya-artinya tak akan gegabah memajang model-model semitelanjang di majalahnya.

''Lihat dulu, baru komentar,'' kata Director Publisher Velvet Silver Media, Ponti Carolus. Ponti sebelumnya dikenal sebagai calon anggota legislatif Partai Demokrat dari wilayah pemilihan Kalimantan Barat. Dia juga pernah menjabat sebagai wakil Sekjen partai bentukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu.
Tanpa disadari, pro-kontra tersebut, menjadi promosi gratis bagi rencana penerbitan Playboy versi Indonesia. Sehingga, meski coba dihadang oleh berbagai kalangan, Velvet Silver Media 'katanya' tak akan mundur dari rencananya semula.

Apalagi, secara hukum, memang tak ada aturan yang melarang penerbitan Playboy edisi Indonesia. UU Pers bahkan tak memberi ruang bagi pemerintah untuk mengintervensi rencana tersebut. ''Sesuai UU Pers, kita bisa diancam dua tahun kalau melarang peredaran sebuah media,'' ujar Menkominfo, Sofyan Djalil, seperti dikutip Republika.

Tapi kontroversi Playboy Indonesia sebenarnya tak perlu berlarut-larut. Khususnya, jika pemerintah punya visi yang jelas, mau dibawa kemana negeri ini. Artinya, kalau pemerintah memang berkomitmen untuk membangun 'generasi emas' di masa depan, segala sesuatu yang bisa merusak tekad itu harus dieliminasi sejak dini.

Soal pornografi dan pornoaksi, misalnya, pemerintah tak perlu menunggu selesainya RUU yang saat ini sedang dibahas di DPR. Tumpas saja masalah pornografi dan pornoaksi dengan aturan pelanggaran kesusilaan yang jelas tercantum dalam KUHP.

Etika ketimuran kita rasanya juga bisa dipakai sebagai landasan untuk menolak kehadiran Playboy Indonesia. Sebab, bagaimana pun, citra Playboy sebagai majalah porno sudah melekat di benak hampir setiap orang. Dan itu tak sesuai dengan etika kesusilaan di Indonesia.

Sebagai benchmark, di beberapa negara tetangga di Asia Tenggara, memperjualbelikan majalah-majalah porno macam Playboy termasuk dalam tindakan kriminal. Ini jelas untuk melindungi generasi penerusnya dari kehancuran. Apalagi menerbitkannya.

Sebenarnya kehadiran Playboy ini menjadi momentum yang tepat bagi pemerintah, negarawan, para pendidik, tokoh-tokoh masyarakat, para orangtua dan berbagai pihak yang peduli akan masa depan generasi muda, untuk bersama-sama menentang semua bentuk pornografi dan pornoaksi yang kini kian marak di Indonesia.

Pemerintah tak perlu takut pelarangan peredaran majalah, koran atau tabloid porno, dan tayangan mesum yang kini banyak bermunculan di televisi, dianggap melanggar kebebasan pers. Sebab, kebebasan pers sama sekali tak ada hubungannya dengan pornografi. Bahkan, kalangan pers mengaku justru tabloid dan tayangan mesum adalah 'penumpang gelap' kebebasan pers. Karenanya harus dienyahkan.

Wednesday, January 18, 2006

Longsor & Formalin




Longsor & formalin
Oleh Christovita Wiloto
Managing Partner Wiloto Corp. Indonesia
www.wiloto.com,
email: powerpr@wiloto.com

Awal 2006 sejatinya akan kita sambut dengan suka cita. Dengan semangat baru untuk membangun Indonesia yang lebih sejahtera, lebih berkualitas, lebih cerdas, lebih martabat, lebih sehat, lebih berbudaya, dan bebas korupsi. Tapi, ternyata alam berkehendak lain. Rentetan musibah langsung mengharu-biru bangsa ini. Di Jember, Jawa Timur, banjir lumpur menerjang sejumlah desa di kabupaten yang berada di lereng Gunung Argopuro itu.
Ratusan orang meninggal dalam musibah yang terjadi persis di saat pergantian tahun. Sementara di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, sebuah bukit longsor, menimbun lebih dari 200 orang di Desa Sijeruk.
Bencana serupa, dalam skala yang lebih kecil, juga terjadi di beberapa daerah lain. Seperti biasa, berbagai silang pendapat soal penyebab bencana lalu muncul di media massa. Ada yang bilang, bencana tersebut murni karena perubahan iklim, akibat badai yang terjadi di belahan dunia lain.
Tapi banyak pula yang memastikan, banjir lumpur dan tanah longsor adalah ulah manusia-yang seenaknya menggunduli hutan, atau mengubah peruntukan lahan tanpa mempedulikan akibatnya. Akibatnya, ''Alam murka karena kejumawaan kita,'' ujar seorang teman.
Banjir, sebenarnya bukan monopoli saudara-saudara kita yang berada di kawasan perdesaan, tapi juga kita semua yang tinggal di daerah perkotaan. Pada 2002, misalnya, banjir besar merendam Jakarta-termasuk halaman Istana Presiden.
Banjir itu mengakibatkan 70% ruas jalan termasuk jalan tol dan pusat Bisnis rusak parah. Lebih dari 50 orang meninggal terbawa arus banjir diikuti puluhan korban lainnya akibat penyakit demam berdarah dan malaria. Ratusan ribu penduduk meninggalkan tempat tinggal untuk mengungsi. Total kerugian diperkirakan miliaran rupiah atau setara dengan ratusan ribu dolar AS.
Ironisnya, kita seperti pasrah saja menerima musibah itu. Tak ada perbaikan signifikan pada tata ruang kota untuk mencegah terulangnya bencana itu. 'Sabuk hijau' yang idealnya mencapai sepertiga dari total wilayah kota- jika ingin kota itu memiliki areal resapan air yang cukup untuk mencegah banjir-justru makin tergerus. Jakarta, hanya memiliki kurang dari sepersepuluh wilayah 'hijau' di seluruh kota.
Dengan kondisi itu, tak heran kalau banjir seperti menjadi 'tamu tahunan' bagi Jakarta. Dan, sebuah perusahaan rokok dengan jitu menyindir ketidakmampuan Pemprov DKI Jakarta mengatasi banjir dengan iklannya bertajuk, Banjir kok jadi tradisi. Tanya Kenapa?
Kebodohan atau kejahatan
Bencana yang tak kalah mengerikan, juga mengancam dalam makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Penelitian yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Oktober dan November 2005 lalu menyebutkan, sejumlah makanan yang beredar di pasar mengandung bahan kimia berbahaya, semacam formalin, boraks, pewarna tekstil dan sebagainya.
Bahan-bahan kimia itu kalau dikonsumsi terus menerus bisa merusak kesehatan-mulai dari kanker, kelumpuhan syaraf, bahkan kematian. Yang menyedihkan, kejadian itu-pencampuran bahan kimia berbahaya-ke berbagai makanan yang umum kita konsumsi tadi, telah berlangsung tahunan. Temuan serupa seperti yang diperoleh BPOM juga pernah terungkap beberapa tahun lalu.
Tapi kita semua-para konsumen-seakan terbutakan. Atau memang merasa tak peduli. Entah karena tak paham. Atau tak dapat menghindar dari kenyataan-kenyataan tersebut. Sehingga oknum yang melakukan praktik tak terpuji itu terus melakukannya tanpa 'merasa bersalah.'
Walau, mereka-para pengoplos makanan dengan bahan kimia berbahaya tadi-juga melakukannya lantaran dua hal. Pertama, karena tak paham, bahwa bahan kimia yang dicampurnya ke makanan tadi bisa mengancam nyawa konsumen. Ini adalah sebuah kobodohan.
Kedua, mereka paham (bahkan sangat paham) bahaya bahan-bahan kimia tadi. Tapi hanya karena ingin memperoleh keuntungan lebih, mereka melakukannya tanpa merasa perlu peduli pada dampak negatif yang bakal diterima konsumennya. Artinya, ada unsur kesengajaan, dan kejahatan di sini.
Keduanya harus diberantas. Hanya, cara memberantasnya yang berbeda. Untuk yang pertama, karena itu terkait kebodohan, tentu saja, solusinya adalah dengan memberi pengetahuan dan pembelajaran. Ini harus menjadi sebuah 'program nasional'-karena mencerdaskan kehidupan bangsa tak bakal efektif jika cuma dilakukan secara parsial. Hanya menyentuh sekelompok orang saja. Tapi harus dilakukan hingga ke pelosok negeri.
Sedangkan untuk yang kedua, sanksinya perlu lebih tegas. Kesengajaan mencampur bahan kimia berbahaya pada makanan yang dikonsumsi umum adalah kejahatan yang amat keji. intellectual, kalau motifnya adalah untuk mencari keuntungan pribadi.
Oknum yang melakukan harus dijerat dengan hukuman pidana. Sanksi untuk mereka bisa disamakan dengan para pengedar narkoba. Bukan cuma karena kadar bahaya serta dampak yang ditimbulkannya. Tapi juga lantaran korban yang paling banyak terkena adalah anak-anak, generasi penerus bangsa. Kalau anak-anak tak terlindungi dari ancaman seperti itu, sulit membayangkan, apa jadinya negeri ini kelak.

Saturday, December 31, 2005

Selamat Tinggal Tahun Nestapa

Bisnis Indonesia
Minggu 1 Januari 2006
Oleh Christovita Wiloto
Managing Partner Wiloto Corp. Indonesia
http://www.wiloto.com/

Senin, 26 Desember 2005, warga dunia mengenang setahun bencana tsunami yang melanda Nangroe Aceh Darussalam dan Nias. Sebuah tragedi yang menelan nyawa hampir 200.000 orang warga wilayah yang kerap disebut Serambi Mekkah itu. Tsunami Aceh 2004 tercatat sebagai bencana terburuk dunia dalam 30 tahun terakhir, setelah badai Bhola di Bangladesh 1970.
Bencana dahsyat berupa gempa berkekuatan 8,9 skala Richter yang diikuti gelombang raksasa itu kemudian menjadi awal dari rangkaian peristiwa memilukan yang melanda Indonesia. Saat bangsa ini mencoba bangkit dari bayangan buruk ''geulumbang raya'' (istilah orang Aceh terhadap gelombang raksasa yang meratakan desa-desa di pantai).
Selain itu, sejumlah wilayah di Indonesia terserang penyakit yang dideteksi sebagai lumpuh layuh dan polio. Padahal, Indonesia sudah
dinyatakan bebas polio sejak 1995. Kemudian, merebak lagi penyakit yang lebih ganas. Yakni flu burung (Avian influenza). Di Indonesia, virus flu burung telah merenggut nyawa 11 orang.
Sementara, sepanjang tahun ini, ratusan orang meninggal akibat serangan demam berdarah dengue (DBD) di seluruh Indonesia. Kebanyakan dari mereka adalah warga miskin yang memang terpaksa harus hidup dalam lingkungan dengan kualitas sanitasi amat buruk.
Kemiskinan, agaknya memang amat akrab dengan sebagian masyarakat negeri ini. Mereka yang sudah hidup pas-pasan, cuma bisa merintih saat "dihantam" kenaikkan BBM sekitar 30% pada 1 Maret, dan rata-rata lebih dari 100% pada 1 Oktober 2005. Oh betapa malangnya negara kita.
Buntutnya,masyarakat yang termasuk kategori miskin dan mendekati miskin semakin bertambah. Menurut Badan Pusat Statistik, pertambahannya mencapai 2,5 juta kepala keluarga (KK) atau 10 juta orang.
Tak cuma penyakit dan kemiskinan, nestapa yang melanda negeri juga menampakkan jasadnya dalam bentuk peledakan bom bunuh diri pada 1 Oktober 2005. Mirip dengan Bom Bali 2002, Bom Bali 2005 juga menyasar sejumlah kafe-yakni Cafe Nyoman, Cafe Menega dan
Restoran RAJA'S di Kuta Square. Akibatnya, 15 orang meninggal-rinciannya, 15 warga Indonesia, satu orang warga Jepang, empat warga Australia, dan tiga orang yang lain diduga adalah pelaku pengemboman.
Aksi terorisme melalui serangkaian pengemboman yang terjadi sejak awal 2000-an-mulai dari pengemboman rumah duta besar Filipina Leonidas Caday, Bom BEJ, bom malam Natal 2000, Bom Bali 2002, Bom JW Marriott 2003, Bom Kedubes Australia 2004, hingga Bom Bali 2005-berhasil diredam, setelah Dr Azahari, salah satu gembong terorisme di Indonesia, tewas dalam baku tembak di Batu, Malang, Jatim, November lalu.
Ironisnya, dunia olah raga pun-yang biasanya tampil sebagai ''penyelamat'' di tengah keterpurukan bangsa-ikut memberi andil pada kepedihan bangsa ini. Kontingen Indonesia, salah satu kekuatan olah raga utama ASEAN, terkapar di peringkat lima perolehan medali pada SEA Games XXIII Manila, November-Desember lalu. Indonesia (yang merebut 38 medali emas, 53 perak dan 64 perunggu) berada di bawah tuan rumah Filipina (80-60-67), Thailand (53-62-81), Vietnam (52-50-62) dan Malaysia (47-37-38).
Benar-benar malang negara kita tercinta ini. Apakah kita akan makin malang, atau si malang berubah menjadi pemenang? Itu semua tergantung perjuangan kita. Tidak akan ada orang lain yang akan membantu mengangkat kita, kecuali kita sendiri.
Harus bangkit!
Tentu saja kita tak ingin terus meratap. Tahun 2006 Indonesia harus bangkit! Kita harus yakin, 2006 harus berubah total menjadi lebih baik dari 2005. Kita buka wawasan baru, perspektif baru, dan harapan baru. Kita perbaiki semua kekeliruan yang telah lalu.
''Saatnya telah tiba untuk melihat dan melangkah ke depan,'' kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di sambutan mengenang tsunami, di Banda Aceh, Senin lalu.
Segera melangkah ke depan. Segera bangkit dari keterpurukan. Agaknya itu lah kata kunci yang perlu digenggam erat.
Sebelumnya SBY mengajak semua rakyat mengatasi turbulensi kehidupan bukan hanya dengan berperilaku efektif, tetapi juga menjadi pribadi agung. Yaitu dengan menanamkan filosofi, betapa untuk mencapai
kemajuan perlu didukung dengan tekad, ''kita harus bisa, kita harus berbuat yang terbaik, kalau orang lain bisa, mengapa kita tidak bisa.''
SBY juga menginginkan pada suatu saat ''budaya unggul'' bisa terwujud menjadi kultur nasional. ''Kita harus bisa melihat budaya unggul itu ada di universitas, sekolah, lembaga-lembaga pemerintah, partai politik, militer, polisi, provinsi, kabupaten, kota, dan lain-lain. Dengan budaya unggul kita bisa bergerak dari efektivitas menuju keagungan,'' papar SBY.
Semoga ini bukan sekedar "retorika" SBY belaka, tapi merupakan visi yang jelas, gamblang dan bening yang dilengkapi dengan strategi, perencanaan, program dan implementasi yang konkrit.
Dipahami dan dimengerti seluruh rakyat, dikomunikasikan dengan baik sehingga seluruh rakyat "memiliki" visi itu, untuk bersama-sama berjuang mencapainya. Memang tak gampang dan perlu perjuangan. Tapi bukan tak mungkin. Tinggal bagaimana kita mengimplementasikannya dalam kehidupan keseharian kita.
Siapa yang bertanggung jawab atas nasib negara ini? Kita semua! Anda dan juga saya! Kalau bukan kita yang melakukannya, siapa lagi?
Selamat tinggal tahun nestapa. Selamat datang tahun baru penuh harapan.

Sunday, October 09, 2005

Negara Tanpa Visi? (II)




Bisnis Indonesia
Minggu, 09-Oktober-2005
Negara Tanpa Visi? (II)

Oleh Christovita Wiloto
Managing Partner PowerPR
http://www.wiloto.com/


Seorang bocah cilik, Yuri Retno Adi Matsuda (8), menangis tanpa suara saat doa dilantunkan untuk ibunya yang dimakamkan. Kepedihan yang dalam serta trauma akibat ledakan bom bali 2 sangat nampak diraut wajah bocah itu. Yuri dan ayahnya juga jadi korban luka ledakan bom.

Ledakan bom di Jimbaran dan Kuta, Bali, Sabtu (1/10), telah menewaskan ibundanya, Ratih Tedjojanti (34), yang juga putri Soekardjo Hardjosoewirjo, anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Ratih adalah salah seorang korban tewas akibat ledakan bom di Nyoman Cafe, Jimbaran. Data terakhir pada saat tulisan ini dibuat adalah 27 orang korban tewas sia-sia, serta lebih dari 124 orang luka-luka.

Sementara itu, Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Endriartono Sutarto di Jakarta, Minggu (2/10), mengemukakan, terorisme seperti yang terjadi di Bali adalah sesuatu tindakan biadab yang seharusnya tidak ditoleransi oleh siapa pun, apa pun tujuannya.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Widodo AS kepada pers Senin (10/10) di Kantor Presiden menyatakan, "Laporan yang saya terima, ada 169 orang saksi yang sudah diperiksa dan masih terus akan dikembangkan. Sejauh ini belum ada yang ditangkap.”

Terkait dengan jaringan terorisme yang ada di Indonesia, apa pun nama organisasinya, kata Widodo, pemerintah berjanji akan membongkarnya. Apabila jaringan terorisme di Indonesia dapat dibongkar, pemerintah akan melakukan langkah hukum maksimal terhadap semua pelakunya.

Dalam kurun waktu yang singkat ini, kita sudah digempur dengan berbagai krisis nasional yang bertubi-tubi. Mulai dari masalah SARA, kemudian disusul isu flu burung. Belum lagi jelas kabar berita flu burung, tiba-tiba isu itu hilang begitu saja, berganti dengan isu kenaikan BBM yang kemudian hampir dibarengi dengan meledaknya (lagi-lagi) bom di Bali.

Khusus untuk ledakkan bom, data yang ada sangatlah mengejutkan. Sudah lebih dari 150 kali bom besar kecil meledak tak tentu arah di Indonesia, selama masa paska reformasi ini. Angka ini bukan main-main, dan yang paling mengerikan adalah, kita tidak pernah yakin benar kapan angka ini akan berhenti.

Harus ada visi

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan saya 2 minggu yang lalu, yang terbit sehari sebelum bom bali meledak. Tulisan tersebut juga merupakan tulisan yang paling banyak mendapat tanggapan dari para pembaca, jika dibandingkan dengan semua tulisan-tulisan saya selama ini.

Respon pembaca tersebut dapat saya bagi dalam 2 bagian utama, satu bagian adalah mereka yang memang merasa bahwa negara ini tidak memiliki visi yang jelas. Dan satu bagian lagi adalah mereka yang merasa negara kita sudah memiliki visi. Namun yang menarik adalah, di bagian mereka yang merasa negara ini memiliki visi. Visi yang disebutkan setiap orang berbeda satu sama lain.

Hal ini makin memperjelas, bahwa memang kita, bangsa Indonesia belum memiliki visi yang jelas, gamblang dan bening yang dimengerti oleh seluruh jajaran elit bangsa ini, apalagi rakyatnya. Pertanyaannya adalah, jika visi tersebut tidak jelas atau bahkan tidak dimengerti elit dan rakyatnya, lantas selama ini kita melangkah kemana?

Memimpin negeri sebesar Indonesia sama sekali tak mudah. Butuh visi yang konkrit agar kelangsungan negara ini bisa berjalan, dengan dukungan penuh oleh rakyat. Itu bisa tercapai, tentu saja, jika rakyat juga ikut merasakan manfaat dari apa yang dilakukan para pemimpinnya.

Visi yang jelas, gambang dan bening sangat penting bagi Indonesia, karena setidak-tidaknya memiliki 7 manfaat. Pertama, visi dapat mengekspresikan nilai dan standard tertinggi dari bangsa Indonesia. Kedua, visi dapat membedakan dan membuat Indonesia spesial di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Ketiga, visi dapat dengan jelas memaparkan tahun-tahun ke depan dari bangsa Indonesia. Keempat, visi dapat membuat bangsa Indonesia menjadi lebih fokus dalam melaksanakan segala aktifitasnya. Serta dalam mengelola semua sumber dayanya. Kelima, visi memang bukan segalanya, namun merupakan awal dari segala aktifitas bangsa Indonesia ke depan. Keenam, visi adalah masa kini dan masa yang akan datang dari bangsa Indonesia. Dan ketujuh, tanpa visi yang jelas, gamblang dan bening Indonesia akan berjalan menuju kebinasaan.

Memang untuk merumuskan visi Indonesia yang jelas, gamblang dan bening tidaklah mudah. Karena visi sering kali tidak datang terbentuk dengan terang benderang, namun merupakan kristalisasi dari proses perjalanan bangsa Indonesia selama ini. Namun, bagi Indonesia nampaknya saat ini sudah cukup waktu perjalanan untuk mengkristalisasikan sebuah visi negara Indonesia yang bernilai tinggi.

Secara mudah dan sederhana, setidaknya proses eksplorasi dan kristalisasi visi Indonesia terdiri lima langkah, yaitu :Melihat ke dalam diri : apa yang kita, bangsa Indonesia rasakan saat ini ? Melihat ke belakang : apa yang kita, bangsa Indonesia sudah pelajari ? Melihat ke sekeliling : apa yang terjadi pada bangsa-bangsa lain di dunia, terutama di Asia ? Melihat ke depan : apa gambaran utuh dari situasi dan kondisi yang akan datang? Termasuk tantangan apa yang harus dihadapi bangsa Indonesia ke depan? Melihat ke samping : apa sumber daya yg kita, bangsa Indonesia miliki ?

Indonesia kini telah berusia 60 tahun dan telah memiliki enam kepala Negara. Khususnya sejak reformasi tahun 1998, Indonesia telah mengalami empat kali pergantian kepemimpinan. Sudah saatnya kini kita bangsa Indonesia melakukan perenungan untuk mengkristalisasikan visi Indonesia ke depan yang jelas, gamblang dan bening, agar Indonesia menjadi bangsanya unggul, terkemuka, makin beradab dan makin dihormati seluruh bangsa-bangsa di dunia.

Dari enam Presiden Republik Indonesia yang ada, SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) adalah presiden satu-satunya Presiden RI yang dipilih langsung oleh seluruh rakyat Indonesia. Dengan proses yang terpanjang, hampir satu tahun. SBY, juga merupakan Presiden RI satu-satunya yang terpilih paling demokratis. Maka, yakinlah, jika SBY mampu mengajak segenap rakyat Indonesia untuk bersama-sama bangun dan berjuang, maka rakyat akan dengan senang hati mendukung perjuangan bangsa ini mencapai visi Indonesia.

Namun, sebelumnya Indonesia perlu segera mengkristalisasikan visinya terlebih dahulu, serta menentukan kemana kita semua akan melangkah.

Sunday, October 02, 2005

Negara Tanpa Visi?


Bisnis Indonesia
Minggu, 02-Oktober-2005

Negara Tanpa Visi?

Oleh Christovita Wiloto
Managing Partner PowerPR
http://www.blogger.com/


Mari kita buat survey kecil-kecilan. Sodorkan satu pertanyaan pada orang-orang di sekitar kita, ''Apa visi negara ini?'' Berani taruhan, mayoritas responden pasti menjawab, ''Tak tahu.'' Kalau pun ada yang tahu, pasti jawabannya amat klise, semacam, ''Menjadi bangsa yang adil dan makmur.''

Indonesia telah berusia 60 tahun dan memiliki enam kepala Negara. Khususnya sejak reformasi tahun 1998, Indonesia telah mengalami empat kali pergantian kepemimpinan. Yakni BJ Habibie, Abdurrahman ''Gus Dur'' Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Tapi sayang, tak satu pun di antara semua presiden tadi yang mampu “menjelaskan” bahkan ''meyakinkan'' rakyat dengan visinya yang konkret dan jelas. Sampai kini banyak orang bahkan para elite berteriak, ''Reformasi!” dan “perubahan.'' Tapi mau berubah jadi apa, semuanya terdiam. Atau gagap menjawabnya. Tidak pernah ada gambaran yang bening, jelas dan gamblang bagi semua masyarakat (baca: rakyat) tentang berubah menjadi apa, kemana arah Negara ini melangkah, atau apa visi Negara ini.

Padahal, sekadar berubah tanpa arah, sama dengan bunuh diri. Perubahan tanpa tujuan yang jelas, tak beda dengan menghancurkan negeri yang sudah kita bangun bersama dengan susah payah. Sebagai sebuah negara besar, kinerja yang dilakukan Indonesia pasca krisis, nyaris tak berarti. Apalagi, bila dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia yang sama-sama terkena krisis moneter pada 1998 -- semacam Thailand, Korea Selatan, dan Malaysia, kinerja Indonesia jauh tertinggal. Apa lagi jika dibandingkan dengan negara-negara yang tidak terkena krisis.Ibarat berlari, Indonesia sudah sangat amat terengah-engah, namun tidak pernah sampai kemana-mana. Alias hanya lari di tempat. Bahkan, seorang teman mengatakan, Indonesia sebenarnya sudah lari jauh, tapi jauh ke belakang. Sedangkan negara-negara tetangga, telah melesat jauh ke depan. Apa visinya?

Bangsa Indonesia sudah sangat penat dan sarat beban. Berbagai persoalan bahkan krisis datang silih berganti. Banyak enerji terbuang sia-sia untuk hal-hal yang semestinya tidak perlu.

Diluar bencana alam yang memang sebagian besar diluar kendali (walau sebetulnya di negara lain bencana alam bisa diprediksikan), banyak bencana-bencana nasional yang terjadi karena kurangnya pengelolaan dengan baik.

Raja Sulaiman menulis dalam Amsalnya, ”..jika tidak ada visi, maka binasalah rakyat..” Visi yang jelas diperlukan bangsa ini, karena waktu berjalan terus dan waktu yang disia-siakan tak akan pernah kembali. Hanya ketidak pastian yang pasti akan terjadi, dan banyak hal yang diluar kendali kita.

Raja Sulaiman menulis dalam Amsalnya, ”..jika tidak ada visi, maka binasalah rakyat..” Visi yang jelas diperlukan bangsa ini, karena waktu berjalan terus dan waktu yang disia-siakan tak akan pernah kembali. Hanya ketidak pastian yang pasti akan terjadi, dan banyak hal yang diluar kendali kita.

Pertanyaan sekarang bukanlah apakah kita sibuk? Tetapi apakah kita sibuk melakukan hal yang benar sesuai visi kita?

Saat kampanye pada pemilihan presiden tahun lalu, duet SBY-JK (sebutan populer untuk pasangan Susilo Bambang Yudhoyo dan Jusuf Kalla), sempat melontarkan berbagai janji, yang mereka sebut sebagai visi dan misi pemerintahan mereka, bila terpilih menjadi pasangan presiden/wapres. SBY-JK, misalnya, menjanjikan bakal membuat perubahan. Tapi tak pernah dijelaskan secara gamblang perubahan konkret apa yang akan mereka lakukan. Sementara rakyat sudah telanjur melambungkan harapannya (terhadap perubahan tersebut) setinggi langit. Ini wajar, mengingat rakyat memang telah berpuluh tahun dipaksa hidup di bawah rezim otoritarian yang didukung birokrat dan militer, serta perubahan setengah hati, yang disodorkan para presiden pengusung reformasi, yang berkuasa pasca Soeharto.
Apakah kita harus kembali ke jaman sebelum reformasi? Tentu tidak! Demokrasi saat ini merupakan hasil luar biasa yang sudah kita capai dengan perjuangan. Sebenarnya ini adalah kekuatan negara kita yang tidak dimiliki negara-negara lain. Kita tidak perlu kembali ke masa lalu dan membuat awal yang baru. Tetapi kita harus memiliki visi yang konkret dan jelas mulai sekarang agar kita memiliki masa depan yang lebih cemerlang.

Memimpin negeri sebesar Indonesia memang tak mudah. Butuh visi yang konkret, jelas dan dimengerti rakyat agar kelangsungan negara ini bisa berjalan. Dengan didukungan penuh oleh rakyat, itu bisa tercapai. Tentu saja, jika rakyat juga ikut merasakan manfaat dari apa yang dilakukan para pemimpinnya.
Jangan sampai negara ini hanya sekedar “mengalir” saja, tanpa tujuan dan visi yang jelas. Jangan juga negara ini dikelola dengan hanya atas desakan krisis demi krisis saja.

Pemimpin Negara ini harus memiliki visi yang jelas akan kemana arah dan tujuan Negara ini dipimpin. Pemimpin Negara ini harus pula mengkomunikasikan visi tersebut dengan bening, gambling dan jelas pada seluruh rakyat. Pemimpin Negara ini juga harus mampu melakukan “share the vision” kepada seluruh rakyat artinya membuat seluruh rakyat “membeli” visinya. Bukan hanya sekedar untuk memenangkan pemilu saja. Dan yang terakhir pemimpin negara ini harus mampu memimpin seluruh rakyat mencapai visi tersebut.

Wednesday, August 17, 2005

Globalization and PR


Globalization and PR
Bisnis Indonesia 10 Aug, 2003

We are familiar with the scrumptious McDonald’s burger, the crunchiness of Kentucky Fried Chicken (KFC) or the freshness of Coca Cola. Even though in numerous countries, local franchisees try to imbue the ‘touch’ of local specialties, but the basic taste of these multinational companies’ products are still same.

In a nut shell, the taste of BigMac we purchase in Jakarta, is exactly the same with the one we purchase in Tokyo, Moscow or Buenos Aires. The same apply to the crispyness of KFC’s chicken wings or the malt scent in Coca Cola.

All of these are not a matter of coincidence. Oppositely, the ’enforcement’ of taste is intentional. More than that, the service standard of each McDonald’s and KFC restaurants could be termed as similar.

In the case of KFC, for example, the same taste, is due to hystorical factor. Colonel Harland Sanders – the founder of KFC – wanted to maintain the original taste of his fried chicken.
KFC, McDonald’s and Coca Cola, are few examples of how the world could be united in culinary terminology. The exact union in terms that there’s no barrier of discrimination. The difference in foreign exchange, is almost inconsequential. Make an attempt to convert the exchange rate, the price of a bottle of Coca Cola in Jakarta, is not much different from the price of another bottle of Coca Cola in Atlanta, where the main factory and headquarter of the world highest selling softdrink company is located.

’One Taste, For All of The World’. This is the realization of globalization concept – perhaps, these are what the owners and managements of these multinational companies would say. But the scenario of ’one world, one taste’ to those allergic to all factors linked to the western world and the United States, may mean more. Even could be politicized.

For these parties, globalization is a stage of capitalism development process, which started with colonialism. Globalization is the next phase of developed countries’ obsessions to ’control’ the market in third world countries.

This scenario flows rapidly since 1970s. The realizations were through various trade forum and ............... to the meeting in Marakesh, Morocco, on April 1994 – with the signing of trade treaty among governments which known as General Agreement on Tariff and Trade (GATT).
Later, to monitor and control world trade, in 1995 World Trade Organization (WTO) was established as a replacement of GATT. WTO, at this time is a main player in the progress of globalization mechanism.

Critics on globalization have some true points. Thus, it is understandable that leaders from developing countries are often discontented with these situations. Malaysia Prime Minister, Mahathir Muhammad, for example, in front of the United Nations leaders, voiced his sharp critics by stating that the realization of globalization concept is still unfair – in terms that it benefits the rich countries.

PR Strategy

But in this occasion, I do not have intention to discuss globalization from political point of view. I just want to scrutinize the following facts. KFC, currently have not less than 11,000 outlets in more than 80 countries. KFC fried chicken is consumed by around 8 millions people. In Indonesia, KFC has become a generic name for flour covered fried chicken product.

Meanwhile, other ten millions of people in 200 countries engaged in consumption of various soft drinks manufactured by The Coca Cola company. And the same McDonald’s restaurants have become the favorite place for young generation to hang-out for hours.

To achieve these are not easy tasks – and impossible to be done without smart PR (Public Relations) strategy. And it is not cheap either.

McDonald’s, for example, is rumored have spent U$ 2 billions on promotion. But this is followed by their smart PR to thrust the topics on health in their campaign. One of these strategies is the involvement as sponsor in international sport events.

For example, Olympic Day Run – the run to commenmorate Olympic Day which routinely conducted on June rotatively in 150 countries. Currently, McDonald’s have been recorded as main sponsor of the coming Olympic Games 2004 in Athens.

The choices on sport and health topics are correct. Because McDonald’s often received critics in relation to the high cholesterol and carsinogenic ingredients in the food products – which if true, hazzardous to health.

Meanwhile, KFC smartly choose public figures to promote their products. The latest is Annika Sorenstam – female golf player, who won US open championship twice. KFC also target high rating TV shows to advertise, in example Friends, American Idol or Fear Factor.

In Indonesia, Coca Cola with theme ’Semangat Lagi’ rope in a number of musicians and teens idols as stars in their advertisements.

The purpose is to implant an image to their consumers, that Coca Cola makes their lives a success as what they experience now.

The above examples show that PR with smart communications are not only capable to support marketing of a product, but they also play important roles in ’value creation’ of a product or brand, developing close relationship between manufacturer and consumer, which in the end reaping consumer’s trust.

It should be underlined that communication should be conducted in global scale, thus the ’intimate relationship’ achieved would be able to break the barriers of border of a country.
PR, with its strength to communicate beyond borders, is indeed capable of ’uniting the world’ and giving important meanings to globalization process.

This is depend on how to focus the strength of PR into instruments which capable to realize globalization concept in positive interpretation – not only ’domination’ of manufacturers and producers in developed countries on consumers in developing countries.

It also gives access, thus products of third world countries could be accepted by consumers in powerful countries.

Etos Pengusaha Muda (1)



















ETOS PENGUSAHA MUDA (1)
di Bisnis Indonesia www.bisnis.com
Oleh Christovita Wiloto
http://www.wiloto.com
Managing Partner Wiloto Corp.

Indonesia William Henry Gates III, nama itu mungkin agak asing bagi kita. Tapi coba sebut, Bill Gates, Anda pasti maklum. Dia lah pendiri Microsoft (bersama Paul Allen), dan kini tercatat sebagai orang paling kaya di dunia versi Majalah Forbes. Tahun lalu, majalah itu menyebut kekayaan Bill Gates mencapai US$46,5 triliun! Itu, sudah terpangkas separuh dari total asetnya pada 1999, yang mencapai US$90 triliun. Di bawah kendali Gates, Microsoft tumbuh sebagai raksasa software dunia. Mempekerjakan tak kurang dari 55.000 karyawan di 85 negara, pada semester I 2004, Microsoft mampu menuai pendapatan hampir US$37 miliar. Gates juga terus memperbarui teknologi Microsoft, agar semakin efektif dan ramah bagi setiap pengguna komputer.

Lahir di Seattle, pada 28 Oktober 1955, Gates sudah terpikat pada bidang peranti lunak pada usia yang sangat muda. Dia bahkan mulai membuat program komputer saat usianya belum genap 14 tahun, dan menciptakan bahasa BASIC pada 1973, ketika masih kuliah di Harvard University.

Lalu, sebut pula nama Steven Paul Jobs. Jobs juga tercatat sebagai pemain utama di industri komputer. Bersama karibnya, Steve Wozniak, Jobs dikenal sebagai pendiri Apple Computer Co. Jobs membidani kelahiran Apple dari garasi rumahnya yang sederhana, dan resmi mengibarkan bendera Apple pada 1976. Belakangan, sekitar 1986, Jobs-yang sangat dikagumi karena keahliannya meyakinkan orang dan kemampuannya sebagai salesman unggul-merambah industri animasi. Bersama Edwin Catmull, dia mendirikan Pixar, sebuah studio animasi komputer di Emeryville, California. Karena kepemimpinannya di Pixar, dan kemapanannya di Apple, Jobs dinilai banyak pengamat industri hiburan, sebagai salah satu calon pengganti Michael Eisner, pemimpin Walt Disney Company, yang mendistribusikan dan mendanai film buatan Pixar.

Paradigma baru Kisah sukses Bill Gates dan Steve Jobs, barangkali telah menjadi klasik. Cerita mereka memulai usaha, kerap dijadikan contoh, betapa sebuah obsesi bisa membawa seseorang ke puncak ketenaran-baik karena kualitas karyanya maupun kekayaannya. Betapa sebuah ide orisinal yang mungkin awalnya tak diperhitungkan, ditambah dengan tekad yang membara, kelak terbukti mampu mengubah dunia.

Setelah era konglomerasi di Indonesia 'rontok', sebenarnya kini saatnya bagi para generasi muda untuk berani tampil menjadi para pengusaha muda yang tangguh. Indonesia membutuhkan banyak sekali para pengusaha muda dengan etos kerja yang positif, smart dan profesional. Dan ini merupakan hal yang mutlak! Semangat dan etos seperti di ataslah yang seharusnya ditiru para pengusaha muda kita agar eksis di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Pengusaha muda kita perlu membekali diri dengan kreativitas dan tekad untuk selalu menciptakan nilai tambah dari produk atau usahanya. Sehingga, nilai tambah itu nantinya dapat memberi manfaat bagi industri yang digelutinya-menambah devisa negara, mendongkrak penerimaan pajak, menciptakan lapangan kerja baru dan memberi layanan publik secara optimal, juga mengibarkan Merah Putih di tengah dunia.

Pengusaha muda seperti itu di Indonesia, sebenarnya cukup banyak. Tapi mereka lebih kerap memilih "diam dalam bekerja"-bahkan, cenderung menjauhi publikasi. Orang kemudian, baru mengenal mereka dari karya-karya dan hasil kerjanya yang spektakuler.

Sayangnya, di Indonesia, pengusaha yang kerap muncul, adalah mereka yang sejatinya adalah politikus. Atau pengusaha petualang. Yang biasanya memanfaatkan statusnya sebagai pengusaha untuk meraih karier politik. Misalnya, menggalang dana masyarakat sebanyak-banyaknya, baik dari pasar modal atau pinjaman bank, lalu mencoba menelikung hukum untuk mengemplang kewajibannya. Stop praktik seperti itu! Dan mulai dengan hal-hal yang profesional dan etis!

Coba kita bayangkan jika para eksekutif muda di berbagai lini korporasi di Indonesia berani mengambil keputusan untuk menjadi pengusaha muda. Pasti ekonomi Indonesia akan semakin semarak dengan berbagai bisnis yang bergairah, juga dengan penemuan-penemuan yang luar biasa! Coba juga kita bayangkan jika setiap setiap mahasiswa, membuat inkubator bisnis di masa akhir kuliahnya. Pasti Apple-apple baru akan bermunculan di Indonesia. Mengapa tidak dari sekarang mengubah paradigma? Menjadi pengusaha muda yang profesional?

Tuesday, August 16, 2005

Indonesia Raya

Do we able to memorize the text of Indonesia Raya? Do we know, the story behind the creation of the National Anthem of Indonesia by Wage Rudolf Supratman? How many times in a year we sing it ? Or, try to recall, when was the last time you sang the song solemnly?
Perhaps, to answer these questions, in the ceremony of the 58th National Independence Day in Presidential Palace, Sunday, August 17, the coordinator distributed a book on National Anthem Indonesia Raya, written by Bondan Winarno.

This book, which prelude written by President Megawati Soekarnoputri is not only discuss the history of Indonesia Raya, also a search of the actuality of this song in the context of being a nation and a country at present day.

In the midst of economy and political turmoil today, and the prominent threat of disintegration, we seemed as in the dire needs of ’instruments to bond’ the sense of nationalism.
And one of those ’instruments’ is the National Anthem Indonesia Raya, which lyric was written by WR. Soepratman in 1924, and played for the first time two years later.

During colonialism period, the Dutch government prohibited the display of Indonesia Raya, and prohibited the reference as National Anthem. But this prohibition was the element that pumped the sense of patriotism amongst Indonesian youth to fight the Dutch colonialism.

Indonesia Raya was even sung with such pride and gusto – to accompany the departure and victory of the fighters of independence.

Such fond memories on courage and sincerity of the fighters shall be treasured and planted till now. But us – who should be grateful on the fruit of independence presented by those fighters – remain apathyst.

Many of us only sing Indonesia Raya during celebration of August 17, in our workplaces, if not performed half-heartedly.

Even though, when we were still schooling – from elementary school to high school – we used to sing Indonesia Raya once a week during flag-raising ceremony every Monday.

After we left school, there are no more liabilities to attent such ceremony. Even private TV stations, seldomly play national and patriotic songs. It’s lack of wonder, when we grow up as adults, we oftenly forget Indonesia Raya, literally or metaphoric.

Build the Nationalism

The absence of such obligation will indirectly crush our nationalism. To prevent similar things, in few countries, for example Phillipines, the government rules that National Anthem should be played before and after movie screening in cinemas.
In neighboring countries, Singapore and Malaysia, videoclips of national anthem are aired frequently.

To preserve nationalism, perhaps we shall sing Indonesia Raya more often – especially in special occassions. For example, in the inauguration of People Consultative Assembly summit, big or small.

At least, this could remain the parliament members, that they stand there to fight for the interests and aspirations of people that they represent.

Perhaps Indonesia also need to implement national service like in other countries ? May be not that extreme, for ’Penataran P4’ made our young generation felt allergic. Because of the tendency to ’enforce’ rather than persuasive process to ’nurture’ or to ’sell’.

To nurture the sense of nationalism is not an easy task. Even though in real sense it shall be not too difficult. In the perspective of communication, to encourage nationalism should not be much different from the efforts to cultivate consumer fanatism to certain brands.

It means, to nurture the love and pride to own nation, is not effective if done sporadically, with methods that tend to be symbolic.

Ceremonial occassions still needed, but there are needs for communication forms that persuasive and ’trendy’ that love is cultivated not forced.

The same ways producers use to seduce consumers into using their products. These are done with well planned marketing and promotion strategies.

In other words, to cultivate the nationalism, should be conducted in persuasive ways which could nurture the sense of belongings and pride – proud of being Indonesian, proud of singing Indonesia Raya in international stages, proud of using Indonesian products, and the list continues.

Obviously for these to succeed, the precise strategies are needed. Thus, people will not think twice, when asked to sacrifice for their nation and country. And this scenario will made easier – as what I have stated above – if there are ’bonding instruments’, one of which the National Anthem Indonesia Raya.

In the context of the period of the struggle for independence, President Soekarno was a brilliant strategic communicator, he was a high-skilled world communicator.

Soekarno had precise understanding on the conditions of Indonesia people at that time. He understood precisely what messages should be delivered and how to deliver them. He was able to optimize all available media, both locally and foreign media.

Even with the limited media, Soekarno was able to deliver his messages to the whole nation in such clarity. To build the strong patriotism, even though attacked by various disinformation by the colonial government.

Soekarno understood well the formation of reputation of Indonesia, both in the eyes of world and its own people. Probably Soekarno’s technics and strategies are still relevant, but they should be adapted accordingly to the current context of Indonesia and the development of communications in present day.

There’s missing feeling to hear Indonesia Raya sung with love and pride.

Over Expose


Over Expose

The significance of Public Relations is undoubtable, the realization have been developed not only in big corporations or multinational companies, but also small and medium enterprises.
A law firm which has been established for a year by young low graduate, for example, is taking off after implementing a correct Strategic PR. Or when an unique beauty salon which conceptualized by a young woman is able to developed vastly because since the conceptualization period a Strategic PR have been implemented, whether in room design, brand, services provided. The strategy become very public oriented, beside to its consumers, also to efforts to fulfill public demand as a whole.

In a corporate world, PR roles become very important and more complex. An accurate strategy is needed, also in the implementation. There are needs on a precise Communications Audit before a strategy is defined according to the conditions of the company. For example: media perception, consumers, investors, government, competitor and other public to our company.
Every public perceive different characterization, and possess different perception. Different public need different approaches. The way we interact with investors should be different with the way we interact with government, for example.

After a Communications Audit is conducted, a strategy is needed, few PR strategy scenarios are formed by considering the situations and conditions. What is the A Plan, and B Plan as the contingency plan. Later, by analysis on precise diagnosis, a strategy is implemented. In the implementation period, the capability in Art of PR is crucial. A good strategy could be spoiled by wrong implementation. But on the other side, PR Action could become a boomerang, if the strategy is not precise.

Over Expose

Most of people still consider PR as appearing in media or in front of public, or making news. This is wrong! Appearing by public, media or being in the news without a correct strategy is very dangerous. This could cause an over expose, an uncontrolled reputation and could lead to crisis.
Become famous, appearing in media, become news material oftenly bring excitement to the directors. But being exposed without a correct strategy could be dangerous. Because public perception is running wild and in the end reach a critical stage of uncontrollable monster. The simplest are that public perceptions are not as we targeted. For example, when an International Bank which known as a Card Center rather than its existence as a global bank. Only because the public expose emphasized on its credit card product.

But in the reality, there are many companies still have principles of as long as famous, as long as able to be covered, to be in the news. There are no strategic PR planning and oftenly different from the planned company strategy. Oftenly the reputation formed is far deviated from the corporate vision and mission, under-positioning, over-positioning or confused positioning.
For example, a bank shall be perceived as a professional, credible, prudent and trustworthy institution, in the end perceived by public as nest of crooks. This is an example of wrong strategy which is very eminent.

Or a lawyer who should be perceived as justice defender, but seen by public as mafia of justice, because oftenly appeared in TV and printed media sporadically and misdirected. Or when an investment bank with various comprehensive financial services is perceived by public as a mere fund manager. Or when a printing company is perceived as packaging company, an others.
Once again, Public Relations is not merely appearing in media and become famous; but more than that, achieving corporate vision and mission.
To conduct repositioning on public perception which have been misled and planted strongly in their minds would need tremendous efforts, also a great deal of time and expenses, with low level of success.

Public Relations strategy is same as an headache, could be self-cured, could be cured by going to drug merchant, shaman, traditional healer, doctor or specialist. The way to diagnose may be different, which lead to different recipes and different results. A specialist will perform analysis and diagnosis carefully with more accurate results. The headache could be only a symptom, but the illness turns out to be high cholesterol, diabetic, high blood pressure, etc where treatment of each illness will be different and could not be cured by a mere pain killer.
Imagine when the illness is diabetic, but everyday we take only painkiller ? Thus, the Over Expose is exactly same like overdose of a wrong medicine. When the medicine is wrong, topped by overdose! The result is a critical and fatal illness, which may lead to the failure of the company.

Sunday, August 14, 2005

Ronald Reagan



The Great Communicator, begitu The Washington Post menyebut Ronald Reagan. Dia telah pergi. Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) ke-40 ini, meninggal dunia di usia 93 tahun, setelah sepuluh tahun menderita penyakit Alzheimer. Reagan meninggal dunia di kediamannya kawasan Bel Air, Los Angeles. Reagan tetap dikenang sebagai salah satu presiden terbaik AS.Bahkan, sahabat terdekatnya, mantan Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher mengenang Reagan sebagai "pahlawan besar Amerika yang sebenarnya".

Reagan mengumumkan kepada publik AS pada akhir1994 bahwa dirinya menderita Alzheimer yang menyebabkan kekacauan otak yang membawa pada disorientasi mental dan kemunduran fisik.Ia menjalani kehidupan yang tenang di rumahnya sejak itu. Reagan yang berdinas di Gedung Putih tahun 1981-1989, merupakan presiden AS yang paling lama hidup. Ia adalah presiden AS tertua yang pernah dipilih dan orang paling tua yang berkuasa, yang meninggalkan masa jabatan keduanya hanya beberapa hari sebelum hari ulang tahunnya yang ke-80.

Walaupun sudah tiada, namun kini suara tajam Reagan tetap akan terdengar di tengah publik. Telah diproduksi boneka Reagan yang bisa berbicara. Boneka Reagan merupakan keluaran terbaru Talking Presidents. Boneka tersenyum dengan tinggi 30 cm itu dioperasikan dengan batere dan bisa mengeluarkan 11 kalimat politik Reagan. Kalimat-kalimat politik favorit yang pernah diucapkan oleh Reagan, termasuk, "Tuan Gorbachev, runtuhkan tembok ini," dan "Anda dan saya dipertemukan oleh takdir." Yang diluncurkan oleh boneka tersebut adalah rekaman suara asli Reagan. Boneka ini laku keras, bak kacang goreng, begitu menurut John Warnock, kreator Talking Presidents.

"Reagan merupakan salah satu presiden AS favorit bagi kebanyakan orang Amerika," kata John. The Great Communicator Jika orang ditanya tentang siapa Ronald Reagan menurut mereka, maka sebagian besar orang langsung menjawab: Presiden AS atau Bintang Film. Tetapi saya cenderung setuju dengan The Washington Post, Ronald Reagan adalah seorang komunikator yang sangat hebat. Reagan dijuluki sebagai presiden paling komunikatif setelah Roosevelt. Abraham Lincoln dikenal sebagai jagonya pidato tertulis, sementara Roosevelt dijuluki jagonya pidato radio, sedang Reagan adalah Sang Aktor, dialah bintang televisi dunia.

Reagan sadar betul bagaimana peranan TV yang sangat besar sebagai media yang luar biasa daya jangkau dan pengaruhnya terhadap tiap individu di seluruh dunia. Jika kita ditanya tentang Reagan, maka kita dapat bercerita panjang lebar tentangnya. Tetapi berapa banyakkah dari kita yang memiliki kesempatan secara langsung melihat dia? Sadar atau tidak, televisi membuat segala seuatu seolah-olah nyata dan hampir-hampir diingat sebagai pengalaman pribadi setiap individu penontonnya. Pencitraan yang dibentuk oleh televisi sangatlah dahsyat. Dan Reagan adalah ahlinya. Saat ini kita hidup dalam sebuah kebudayaan reality TV di mana batas antara fakta dengan fiksi sangatlah kabur, maka disinilah Reagan memainkan peranan strategisnya.

Selain itu Reagan mampu membuat seluruh hidupnya menjadi sebuah “show” yang memikat untuk diperhatikan setiap orang, layaknya sebuah runtutan cerita film yang menarik. Hal ini tidak terlepas dari pengalamannya baik sebagai penyiar radio dan bintang Hollywood. Saya ambil beberapa contoh yang sangat menarik untuk kita pelajari bersama.

Pertama, ketika pertama kali Reagan berdinas di gedung putih pada tahun 1981. Pada saat itu lawan-lawan politiknya mencoba merusak reputasi Reagan dengan berbagai anekdot-anekdot lucu dan bodoh tentang Reagan. Sama seperti cerita-cerita konyol tentang Capres dan Cawapres via sms yang saat ini sering kita terima. Dan hasilnya? Popularitas Reagan menurun drastis. Positioning yang terbentuk saat itu tentang Reagan adalah presiden AS yang bloon dan mantan artis.

Dua bulan kemudian. DOR! Seorang pria, John Hinkley, menembank Reagan di Hotel Washington dengan enam tembakan. Satu peluru bersarang satu inci dekat jantung, begitu menurut berita.Rekaman video berita penembakan itu disiarkan berulang-ulang. Setelah penembakan itu popularitas Reagan melejit bak meteor, luar biasa jauh, sangat jauh melebihi Inul!! Satu bulan kemudian, dia sudah sembuh! Dan mengejutkan rakyat AS dengan program ekonomi baru: pemotongan pajak & anggaran negara.

Terlepas dari kontroversi yang ada, ada bisik-bisik dikalangan elit komunikator, bahwa penembakkan itu sekedar merupakan rekayasa ala Hollywood, maklum di Hollywood, dar der dor macam itu merupakan makan sehari-hari para Cowboy disana. Betul atau tidak bisik-bisik itu? Wah siapa yang tahu?! Tapi yang jelas penembakkan itu mampu meningkatkan simpati publik dunia pada Reagan.

Kedua, Star Wars, atau perang bintang. Ini adalah program yang brilian dari Ronald Reagan. Kira-kira intinya, kalau mau perang jangan di bumi, tapi di antara bintang-bintang, di luar angkasa. Program ini digembar-gemborkan keseluruh dunia melalui berbagai media terutama televisi. Karena televisi mampu menampilkan bentuk-bentuk audio visual. Seluruh mata publik dunia terpukau dan tertuju pada proyek Star Wars ini. Sampai-sampai Uni Sovyet yang saat itu menjadi musuh terbesar AS “termakan kampanye AS” itu, dan habis-habiskan mengeluarkan budgetnya untuk mampu menjawab perang bintang AS itu. Soviet menyiapkan proyek Soyuz. Dan apa yang terjadi? Uni Soviet pun bangkrut karena proyek itu. Dan dengan berbagai strategi komunikasi yang sangat luar biasa, maka hancurlah Uni Soviet menjadi berkeping-keping.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana keahlian komunikasi Reagan? Fakta membuktikan bahwa program Star Wars sebenarnya tidak pernah ada! Itu hanya isapan jempol belaka dan sekedar gertak sambal Reagan! Ha..ha..ha… siapapun yang menyadari ini akan terhenyak, ternyata inilah makna kata-kata Margareth Thatcher, “ Reagan membuat revolusi paling bersejarah di Uni Soviet tanpa ada perang dan baku tembak.” Ini merupakan bukti yang sangat nyata betapa powerful-nya startegi komunikasi, bahkan lebih dahsyat dari perang dan baku tembak.

Ketiga, Reagan juga sangat piawai dalam berpidato, kalimat-kalimatnya singkat namun tajam mengena pada sasaran. Seperti kalimat, "Jika Anda mencari perdamaian, kesejahteraan untuk Uni Soviet dan Eropa Barat, jika Anda menginginkan liberalisasi, datanglah ke gerbang ini, Pak Gorbachev. Buka gerbang ini, Pak Gorbachev," kata Reagan kepada Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev, pada saat ia secara khusus mengunjungi Gerbang Brandenburg, Berlin, 12 Juni 1987. Atau kalimat: "Saya berterima kasih kepada seluruh rakyat Amerika karena telah diberi kesempatan melayani Anda sebagai presiden," katanya 10 tahun lalu. Perhatikan kata “melayani Anda”, kalimat yang sangat sederhana namun sangat dahsyat efeknya, karena disampaikan oleh seorang presiden AS. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain tentang kehebatan Reagan berkomunikasi strategis.

Mimpi rasanya memiliki presiden RI seperti Reagan suatu saat nanti. Tapi apakah dalam konteks Indonesia saat ini seorang Reagan dapat efektif memimpin Indonesia? Mungkin jawabannya belum. Indonesia saat ini lebih memerlukan pemimpin yang rendah hati dan memiliki rasa kasih sayang yang sangat tinggi terhadap seluruh rakyat Indonesia yang sudah penat menanggung beban. Jadi yang lebih diperlukan Indonesia saat ini adalah pemimpin yang memiliki sikap melayani.

Strategic Communications



Bisnis Indonesia, Minggu 14 Agustus 2005

Strategic Communications

Oleh Christovita Wiloto
CEO Wiloto Corp.
powerpr@wiloto.com

Saya sempat takjub, ketika seorang teman dengan amat detil mengatakan, betapa Starbucks Coffee bukan sekadar jaringan kedai kopi dari AS. Melainkan juga tempat bersosialisasi -- terutama bagi masyarakat urban di negeri itu.

Teman saya tadi amat paham, bahwa perusahaan yang berpusat di Seattle, Washington, ini mengambil namanyadari nama salah satu karakter di novel Moby-Dick,dengan logo seorang siren. Lalu, ia seperti hafal diluar kepala saat mengungkapkan pada Januari 2005,Starbucks telah memiliki 8.949 outlet di seluruh dunia-- dengan rincian 6.376 outlet di AS dan 2.573 outletdi negara lain.

Ia juga bisa dengan lancar menceritakan, Starbuckskali pertama dibuka pada 1971 oleh Jerry Baldwin, ZevSiegel, dan Gordon Bowker. Howard Schultz bergabung dengan perusahaan ini pada 1982, dan terinspirasi oleh bar espresso di Italia, membuka jaringan Il Giornalepada 1985. Beberapa saat setelah pemilik aslinyamembeli Peet's Coffee and Tea, Starbucks dijual pada Schultz yang kemudian me-rebranding Il Giornale dengannama Starbucks pada 1987.

Sebenarnya, saya maklum, karena teman tadi memang seorang maniak kopi. Tapi yang membuat saya takjub,adalah pemahamannya terhadap apa pun yang berlabel Starbucks. Tentu saja, ia adalah penikmat sejati semua varian kopi Starbucks.

Persepsi positif

Apa yang terjadi pada teman saya tadi, adalah contohkecil -- namun konkret -- keberhasilan sebuah strategic communications (SC). Dalam hal ini, SC yang digencarkan Starbucks di seluruh dunia. Starbucks memang salah satu dari banyak perusahaan global yangmengoptimalkan SC untuk ''menguasai dunia.''

Hal serupa dilakukan pula, misalnya, oleh Microsoft,Coca Cola, McDonalds, Kentucky Fried Chicken, Nokia,Mercedes, Disney, Samsung, Honda, Sony, dan ratusan perusahaan global lainnya. Mereka rajin berkomunikasi dengan konsumennya tidak melulu dengan iklan, namun dengan berbagai pemberitaan positif yang dirilis secara by design dan terus menerus.

Dengan cara seperti itu, hampir setiap orang di kolong bumi pasti mengenal -- setidaknya pernah mendengar --nama-nama global tadi. Tentu saja, seperti yang terjadi pada teman saya tadi, tak sedikit di antarakita yang tak sekadar ''ngeh'', tapi paham betul seluk beluk produk dan sejarah sebuah perusahaan.

Selain itu, banyak pula penduduk dunia yang punya persepsi positif tentang masing-masing produk tersebut. Persepsi positif itulah yang mampu menciptakan trust dari seluruh penduduk dunia. Yang pada akhirnya akan menciptakan loyalitas global.

Tak cuma dalam skala korporasi. Pemerintah sejumlahnegara besar juga telah mampu memfungsikan SC untukmembangun citra positif. AS, misalnya. Kita akanmelihat gambaran amat manis mengenai negara itu, jikamenyimaknya dari apa yang disodorkan Hollywood, CNN,dan sejumlah situs internet.

Value of Corporation

Pada tataran lebih strategis, SC tak sekadar bisamendongkrak merek atau brand sebuah produk. Tapi secara siknifikan juga mampu meningkatkan nilai perusahaan di pentas global. Sehingga investor memiliki sentimen positif untuk terus mengucurkan dananya ke sana. Dan, saat nilai sahamnya kianmembaik, value of corporationnya juga bakal melambung.

Selain itu SC dapat meningkatkan sentimen positif pemerintah berbagai negara di belahan dunia yg berbeda-beda terhadap perusahaan. Sehingga negara-negara itu dengan tangan terbuka lebar menerima perusahaan-perusahaan global tersebut untuk beroperasi di negaranya. Dalam banyak kasus, si perusahaan justru diundang masuk dengan berbagai insentif yang menggiurkan.

Dengan asumsi yang sama, persepsi positif tentu jugabisa diimplementasikan di tataran hubungan antar negara.Bila pemerintah sebuah negara mampu mengoptimalkan SC citra negara tadi akan menjadi bagus.

Kalau di tingkat korporasi citra positif tadi akan berbuntut pada loyalitas, dalam skala pemerintahan, gambaran sejuk tadi akan mempertebal trust atau kepercayaan internasional. Dengan modal tersebut, takakan sulit bagi pemerintah negara tersebut untuk menggalang investasi -- khususnya dari pemodal asing-- untuk menanamkan dananya di sana.

Dan, kita tentu paham, investasi jangka panjang dan berkesinambungan yang masuk, secara otomatis akan memacu perekonomian negara yang bersangkutan ''berlarilebih cepat'' untuk menggapai kesejahteraannya. Untuk itu diperlukan strategi yang matang, cermat dan sistematis untuk melakukan strategic communications.

Sunday, March 21, 2004

SBY


SBY
Bisnis Indonesia 21 Mar, 2004

Berita karnaval kendaraan hias oleh para parpol peserta Pemilu sebagai tanda dimulainya pelaksanaan kampanye, di mana semua partai secara bersama-sama beriringan dengan damai dan meriah, hampir-hampir tak menarik perhatian publik.

Perhatian publik dan media lebih dihebohkan dengan berita perseteruan Presiden Megawati, yang komentar-komentarnya disampaikan suaminya Taufik Kiemas, dengan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Tulisan ini sama sekali tidak mencoba menilai siapa yang buruk dan yang baik, tetapi lebih mencoba menganalisa aspek komunikasi publiknya. Kasus ini sangat menarik jika meninjau para pelakunya adalah Presiden RI, suami Presiden, dan Menko Polkam. Dalam suatu bingkai situasi dan kondisi berebut peluang kursi Presiden 2004.

Menurut informasi media, setelah merasa cukup lama dikucilkan dari Kabinet, SBY akhirnya mengundurkan diri, Kamis (11/3) lalu. Pengunduran dirinya itu disampaikan dalam keterangan pers yang diliput sekitar 100 wartawan dalam dan luar negeri dalam suasana yang sangat emosional. Walaupu berkali-kali SBY mengatakan Ia tidak emosional, tapi lensa-lensa kamera media dengan jelas dapat menyampaikan pemandangan ke publik, baik local maupun internasional.

Dalam penjelasannya, SBY mengatakan, keputusan untuk melepas kursi Menko Polkam itu agar kinerja Kabinet Gotong Royong dan Presiden Megawati Soekarnoputri tidak terganggu. SBY juga mengungkapkan, sebelum menyerahkan surat resmi pengunduran diri, ia telah mengajukan surat untuk bertemu langsung dengan Presiden untuk mengklarifikasi statusnya.
Menurut media sampai saat ini Presiden tak pernah menjawab surat SBY tadi. Tetapi ia telah memilih untuk menerima pengunduran diri SBY, dan menunjuk Mendagri Hari Sabarno sebagai Menko Polkam ad interim.

Selain episode pengunduran diri SBY, episode lain yang menarik dari drama ini ketika sebelumnya Taufik Kiemas, dalam kapasitasnya sebagai suami Presiden, terpancing emosinya ketika dicegat wartawan dan ditanyai tentang informasi bahwa SBY tidak pernah lagi diajak rapat kabinet. Taufik mengatakan sikap SBY seperti anak kecil – “ngambek, karena tak diajak bermain.”

Dalam perspektif komunikasi, kasus pengunduran diri SBY dan perseteruannya dengan Taufik Kiemas, menarik didiskusikan. Apa yang dilakukan SBY, dengan tampil di TV membawakan iklan layanan masyarakat bertema ‘Dengarlah Suara Rakyat’, pada batas tertentu dapat dipersepsikan publik sebagai mencuri start kampanye. Pasalnya, meski dalam iklan tersebut, SBY tampil dalam kapasitassebagai Menko Polkam, tapi publik sudah paham bahwa ia dicalonkan sebagai presiden oleh Partai Demokrat.

Pengunduran diri SBY ini bagi banyak kalangan – termasuk, barangkali, Taufik Kiemas – dapat dipersepsikan sebagai upaya SBY untuk menggembosi Megawati. SBY dapat dianggap memanfaatkan media, saat sedang sepi isu. Sehingga, berita pengunduran SBY di media massa jauh lebih “Heboh” ketimbang berita awal kampanye.

SBY juga dianggap mencoba mengoptimalkan celah yang memungkinkannya untuk memenangi Pemilu 2004. Apalagi, bagi banyak kalangan – khususnya kelompok nasionalis -- figur SBY memang dinilai lebih berkarakter, berwibawa, ngayomi dan cerdas, serta bebas KKN, ketimbang lawan-lawannya.

Dan, sayangnya Taufik Kiemas terprovokasi dengan manuver tadi. Taufik semakin dalam tergiring pada sikap yang amat protektif terhadap Megawati dan mengambil posisi seolah-olah dia adalah juru bicara Presiden Megawati, saat tampil dalam sebuah acara talk show yang disiarkan secara langsung oleh sebuah televisi swasta.

Sebagai seorang negarawan, sangat disayangkan SBY yang menjabat Menko Polkam, memilih berbicara kepada pers, ketimbang menanyakan langsung kepada Presiden soal pengucilan dirinya dari Kabinet.

SBY, barangkali terbawa oleh ambisinya sebagai calon presiden (yang berarti menjadi kompetitor Megawati), juga tak pantas mencuri start dengan tampil dalam iklan ‘Dengarlah Suara Rakyat’ tadi. Tak heran, kalau banyak yang menilai SBY tak konsisten. Tapi, penilaian itu akhirnya memang dijawab tuntas oleh SBY dengan mengundurkan diri.

Sampai di sini, saya tak bermaksud menilai siapa yang benar, atau siapa yang salah. Tapi, rasanya ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari kasus SBY vs Taufik Kiemas dan Megawati tadi. Pertama, banyak negarawan kita yang ternyata belum paham betul, betapa pentingnya komunikasi. Saling diam antara Megawati dan SBY – ketika di antara mereka merasa ada persoalan – sungguh sebuah sikap yang tak bisa dibenarkan. Ini perlu digaris-bawahi, sebab mengelola negara sama sekali berbeda dengan mengelola partai.

Mengelola negara menyangkut hajat hidup ratusan juta rakyat. Jadi tak bisa dianggap main-main.

Tapi, tampaknya budaya ewuh pakewuh -- yang dalam banyak studi komunikasi memang ditengarai sebagai salah satu penghambat terjadinya komunikasi yang baik – ternyata masih amat kental, dan susah dihilangkan. Bahkan, di kalangan pejabat negara yang seharusnya bisa bersikap lebih realistis, lebih mengandalkanpemikiran yang jernih, ketimbang mengedepankan emosi dan ego yang berlebihan.

Sementara, statement emosional yang dilakukan Taufik Kiemas kepada pers juga kurang pada porsinya. Sebagai seorang tokoh masyarakat, ia mestinya bisa lebih menahan diri, ketika istrinya – yang kebetulan menjabat sebagai Presiden – didera persoalan kenegaraan. Kekeliruan menempatkan diri seperti yang dilakukan Taufik ini juga salah satu faktor penting terjadinya miss communication.

Kedua, pengunduran diri SBY yang oleh beberapa pengamat dinilai, karena ‘trauma’ nyaris serupa yang pernah dialaminya pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Saat itu, 1 Juni 2001, SBY juga dicopot di tengah jalan dari jabatannya sebagai Menkopolsoskam oleh Presiden Wahid, dan digantikan oleh Agum Gumelar.

Coba kita renungankan sejenak, apa kira-kira persepsi publik Indonesia dengan semua episode-episode yang ada tadi? Dan kira-kira apa pula persepsi publik internasional tetang hal ini? Sayang kan, hal ini sama-sama berdampak buruk baik bagi kubu Mega, kubu SBY, dan juga Negara kita tercinta ini.

Sunday, January 18, 2004

Strategi PR




Strategi PR
Bisnis Indonesia 18 Jan, 2004

Seorang pengacara kondang muncul di sebuah tayangan infotainment televisi. Menarik memang, karena acara infotainment tersebut lebih fokus ke berita-berita gossip para artis. Pertanyaan yang timbul adalah apakah pengacara ini telah beralih profesi menjadi artis?

Melihat pernyataan-pernyataan yang dilontarkan di acara televisi tersebut, serta penampilannya yang gondrong, memang terkesan lebih artis dari pada pengacara.
Pengacara itu gondrong dengan baju yang nampak kekecilan dengan design yang lebih mirip baju artis daripada pakaian seorang pengacara. Ada juga anting-anting juga gambar tattoo kecil.

Jika dibandingkan dengan serial TV Ally McBeal atau LA Law di mana para pengacara tampil sangat smart, konservatif, dan meyakinkan. Tentu saja penampilan pengacara yang muncul di infotainment TV itu jauh dari bagus, selain tidak mencitrakan pengacara sebagai hamba hukum, malah sebaliknya merusak citra dan persepsi publik terhadapnya.

Sebetulnya pengacara itu termasuk seorang pengacara sukses, dia sangat pandai, dan mungkin karena terlalu sibuk, dia lupa mempersiapkan penampilannya di muka kamera. Dia berpenampilan dan bicara apa adanya. Hal ini mungkin akan menjadi wajar-wajar saja dalam interaksi sehari-hari. Tetapi menjadi hal yang berbeda sama sekali, ketika tertangkap kamera TV dan ditanyangkan. Penampilannya di televisi itu segera membentuk persepsi publik yang mungkin salah terhadap dirinya.

Sebagian orang masih beranggapan bahwa ber PR adalah sekedar muncul di media atau dimuka publik, atau membuat berita-berita. Itu salah! Muncul di kalangan publik, media, menjadi berita tanpa strategi yang tepat Sangat Berbahaya. Hal tersebut dapat membuat Over Exposed, Reputasi yang tidak terkontrol, dan akhirnya mengundang krisis untuk datang.

Tetapi kenyataannya masih sangat banyak perusahaan-perusahaan, dan juga pribadi-pribadi, berprinsip asal terkenal, asal tampil, asal diliput, asal menjadi berita. Tidak ada perencanaan PR strategis yang jelas, bahkan sering kali menyimpang dari perencanaan strategis perusahaan yang telah di tetapkan. Seringkali juga reputasi yang terbentuk menyimpang jauh dari visi dan misi perusahaan, atau tujuan karir pribadi (jika kasus ini terjadi pada seorang figure), menjadi under positioning, over positioning atau confused positioning.

Apa kira-kira image Indonesia di mata masyarakat Internasional? Setelah adanya berbagai bom, kerusuhan, demontrasi, peperangan, krisis ekonomi dan berbagai skandal yang ada? Kalau mau jujur sebenarnya cukup buruk, kalau tidak mau disebut sangat buruk!

Dan tentu perlu upaya Strategic Public Relations yang sungguh-sungguh, strategis, sistematis serta terus menerus untuk mengubahnya menjadi lebih baik.Dari pengalaman saya sebagai konsultan Public Relations, dalam menangani sekitar 60 klien, tidak ada yang tidak, semua berkeinginan untuk memiliki image yang positif. Karena tanpa image positif perusahaan akan mati, produk tidak laku, bisnis tidak langgeng, karir tidak meningkat dll.

Sebetulnya dalam filosofi Public Relations, rumus dari image atau citra sangatlah sederhana: kinerja ditambah komunikasi. Inilah yang menciptakan image positif atau negatif baik bagi negara, perusahaan, produk, keluarga atau pribadi.

Kinerja yang baik tanpa komunikasi yang juga baik, tidaklah cukup untuk menciptakan image positif. Sebaliknya komunikasi yang berbusa-busa tanpa kinerja yang baik juga tidak ada artinya.

Mother Theresa adalah contoh pribadi dengan image yang sangat positif, walaupun ia melakukan karyanya jauh di tempat terpencil di Calcuta. Mother Teresa bukanlah seorang yang secara sadar menggunakan strategi PR untuk menciptakan image positifnya, tetapi segala perbuatannya sangat mengharumkan namanya, bahkan jauh setelah ia meninggal dunia. Sadar atau tidak sadar Mother Theresa telah dengan piawai memainkan strategi PR yang jitu.

Kinerja yang baikpun haruslah terkomunikasikan dengan benar kepada publik. Komunikasi terhadap kinerja yang baik juga untuk menghindari kesalahpahaman yang mungkin timbul, menghindari salah pengertian yang pada akhirnya menghindari konflik yang tidak perlu. Tanpa komunikasi yang baik orang lain atau publik mungkin saja tidak mengerti maksud dan tujuan baik kita. Image Positif, berarti kerja marathon yang terus menerus, bukan sprint, sekali cepat sudah itu berhenti.

Fenomena Sakit Kepala

Strategi Public Relations sama seperti fenomena sakit kepala, dapat diobati sendiri, ke tukang obat, dukun, tabib, sinse, dokter atau dokter ahli. Cara diagnosisnya pun berbeda-beda, resepnya juga berbeda-beda. Hasilnya pasti juga akan sangat berbeda. Seorang dokter ahli akan melakukan analisa diagnosa dengan sangat cermat dan hasilnya pasti lebih akurat. Bisa saja pusing tadi hanya sekedar symptom atau gejala, tetapi penyakitnya ternyata kolestrol tinggi, diabetik, tekanan darah tinggi,dll yang pasti treatmentnya akan sama sekali berbeda dan tidak dapat disembuhkan hanya dengan sekedar obat sakit kepala.

Bayangkan jika ternyata penyakitnya adalah diabet, tetapi kita setiap hari minum obat sakit kepala? Nah, Over Exposed itu persis seperti Over Dosis terhadap obat yang salah. Sudah obatnya salah, over dosis pula! Kalau sudah begitu akan menimbukan penyakit yang kronis dan sangat fatal, bahkan dapat menyebabkan kematian karekater baik perusahaan maupun pribadi.

Sunday, January 04, 2004

Kampanye





Kampanye

Sebanyak 24 partai politik (parpol) peserta Pemilu 2004 sudah terpilih. Nomor urut masing-masing partai juga sudah ditentukan. Dan, tentu saja, setiap parpol sudah menyiapkan jagonya masing-masing untuk diusung sebagai calon presiden.

‘Pertempuran besar’ untuk memenangkan Pemilu 2004 memang sudah di depan mata. Tak ada waktu lagi untuk bersantai. Semuanya sudah harus dipersiapkan dengan cermat, agar hasil yang dicapai bisa sesuai target.

Untuk itu, setiap parpol sudah punya strategi masing-masing untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya. Sejumlah parpol mencoba merangkul publik figur sebagai vote getter – mulai dari artis sampai kiai kondang. Sebagian parpol lain memilih mengusung sentimen primordial – baik dalam bentuk misi keagamaan maupun sentimen historis berupa kerinduan pada figur dan ajaran Soekarno atau Presiden Seharto, kedua-duanya mantan Presiden RI.

Tapi beberapa partai yang lain, mencoba lebih rasional dengan mengedepankan program-program pembangunan yang diharapkan bisa mengentaskan bangsa ini dari keterpurukannya yang telah berlangsung selama hampir enam tahun. Walau, program-program yang dijanjikan takjarang juga masih tampak sebagai sekedar sebuah janji, karena rasanya agak sulit direalisasikan menjadi sebuah bukti.

Terlepas dari apa pun skenario penggalangan massa yang dipakai partai-partai peserta Pemilu 2004 nanti, satu hal yang semestinya tak dilupakan oleh pemimpin parpol adalah bagaimana mengemas semua misi, visi dan janji-janji tadi menjadi sesuatu yang memikat masyarakat. Untuk itu, parpol perlu memahami filosofi dan paradigma baru public relations (PR) – di mana prinsip utamanya adalah memadukan kepiawaian berkomunikasi secara efektif, dengan paparan kinerjayang meyakinkan.

Untuk melakukan komunikasi yang efektif, ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Pertama, menggalang kekuatan media massa – baik TV, radio, media cetak, internet maupun SMS (short messaging services). Kemampuan media untuk menjangkau masyarakat dalam lingkup yang nyaris tak terbatas, bisa menjadi senjata ampuh untuk mensosialisasikan program partai. Apalagi, media massa juga punya kekuatan untuk mengarahkan opini publik.

Tentu saja, kekuatan media di sini harus dimanfaatkan secara optimal dengan cara-cara dan tujuan yang fair. Bukan dengan cara ‘membeli’-nya atau memanipulasi informasi. Karena, pengelola media, biasanya adalah mereka yang mau menjunjung tinggi idealisme dan sering bersikap kritis.

Kedua, komunikasi yang efektif, bisa direalisasikan dengan menjalin intimate relationship, sehingga memunculkan rasa saling percaya tanpa pamrih. Sikap saling percaya ini mutlak dibutuhkan, ketika persaingan untuk mencari dukungan terjadi dengan amat ketat seperti sekarang. Setidaknya, rasa saling percaya akan mencegah munculnya kader-kader kutu loncat – yakni mereka yang amat mudah berpindah kepercayaan ke partai lain, hanya karena iming-iming imbalan material.

Ketiga, agar efektivitas komunikasi juga dapat dijalankan dengan memilih strategi komunikasi yang sesuai dengan target audience yang akan diraih. Misalnya, partai yang ingin membidik suara mahasiswa, harus mampu berkomunikasi dengan bahasa mahasiswa disamping pada waktu bersamaan mampu secara fleksibel mengubah cara berkomunikasi sesuai dengan kondisi publik lain yang berbeda.

Lalu, bagaimana cara untuk mendongkrak kinerja partai? Kalau sebuah parpol bisa dianalogikan dengan sebuah perusahaan atau institusi bisnis, maka ada sejumlah strategi yang bisa ditempuh.

Dengan bantuan perusahaan Public Relations (PR) profesional, pimpinan partai bisa menyusun skenario strategis manajemen. Dengan kata lain, manajemen partai musti piawai mengelola organisasi, pintar menggulirkan isu positif, sekaligus tanggap menganalisis perkembangan apa pun yang terjadi di lapangan, serta cermat menempatkan positioning.

Pengelolaan organisasi yang solid mutlak dilakukan, karena apa yang bisa dilakukan sebuah kelompok untuk bangsa ini, jika untuk membentuk sebuah partai saja tidak bisa. Manajemen isu, juga tak bisa disepelekan, karena dengan penetrasi isu-isu positiflah, calon pemilih bisa dipikat. Sementara, memilih positioning partai tak bisa diabaikan, karena hal itu juga akan sangat menentukan, siapa saja calon pemilih yang musti dibidik, dan mampu memberikan suara signifikan pada partai.

Termasuk dalam upaya melambungkan kinerja, adalah membangun citra, merancang program kerja yang konkret, serta menunjukkan kepedulian pada segala apa yang dibutuhkan rakyat. Dan, yang perlu digaris-bawahi adalah, semua itu harus dilakukan secara berkesinambungan. Jangan sekadar dilakukan pada masa kampanye. Tapi juga musti diteruskan saat kelak berhasil memenangkan Pemilu, dan tampil menjadi penguasa.

Sikap pro rakyat harus selalu menjadi pedoman melangkah. Dengan kata lain, kepentingan masyarakat harus selalu ditempatkan di atas kepentingan partai. Ini penting, karena saat ini banyak partai yang ‘bermulut manis’ saat mencari dukungan. Tapi ketika sudah berkuasa, ia langsung lupa pada siapa yang dulu mendukungnya – orang Jawa bilang, ‘kacang lali karolanjarane’.

Untuk melakukan itu, diperlukan figur-figur manajerial yang memiliki skill tinggi, mempunyai visi masa depan yang jernih, serta kadar moralitas dan kredibilitas yang tak perlu diragukan. Figur-figur seperti itu, diharapkan tak hanya mampu memoles citra partai, tapi juga dapat menyelamatkan partai saat dilanda krisis – baik krisis internal maupun eksternal.

Memang tak ada jaminan, partai dengan kualitas yang mampu menjalankan praktik ideal di atas yang bakal memenangkan Pemilu 2004 mendatang. Sebab, di Indonesia massa pemilih masih kerap mengedepankan simbolisme ketimbang rasionalitas.

Tapi setidaknya, kita bisa berharap, pada partai-partai yang menempatkan prinsip-prinsipmanajemen modern, dengan paradigma baru PR yang seperti itu lah yang bisa mengentaskan bangsa ini dari krisis multi dimensi yang berkepanjangan.

Dan satu lagi, bersiaplah dengan segala isu-isu yang akan muncul dalam bentuk skandal atau manuver-manuver politik yang kurang etis dari lawan politik. Kemungkinan antisipasi terhadap situasi kritis dan krisis pun harus disiapkan dengan matang. Semua itu demi peningkatan reputasi untuk memenangkan hati rakyat.

“Selamat Tahun Baru 2004”

Bisnis Indonesia 4 Jan, 2004

Sunday, December 07, 2003

Mudik


Mudik
Bisnis Indonesia 7 Dec, 2003

Hingga satu atau dua pekan mendatang, Jakarta barangkali masih akan lengang. Maklum, Ibu Kota yang biasanya disesaki lebih dari 10 juta jiwa, sejak pertengahan November lalu, telah terkurangi bebannya sampai hampir separuhnya. Ini, karena sebagian besar penduduk Jakarta masih merayakan lebaran di kampung halamannya masing-masing.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun arus mudik masih terjadi secara bergelombang. Jutaan warga Jakarta rela mengeluarkan dana besar untuk berdesak-desakan naik bis, kereta api atau kapal laut, serta bermacet-macet hingga ribuan kilometer untuk mencapai tanah kelahirannya. Bahkan, risiko rampok, atau kecelakaan lalu lintas, sama sekali tak masuk perhitungan.

Semua perjuangan yang kadang sulit dirasionalkan tadi, dijalani hanya untuk satu tujuan. Berkumpul bersama sanak saudara di kampung halaman – sebuah nikmat yang kerap kali juga susah dikonversi dengan duit seberapa pun besarnya. Itulah kenapa, para pemudik tak akanmempersoalkan, kalau tabungannya yang dikumpulkan selama setahun, ludes untuk membiayai perjalanan pulang kampung ini.

Pertemuan secara fisik dengan sanak saudara, juga menjadi rumus mutlak bagi para pemudik. Karena itu, perjuangan untuk mudik tadi juga tak mungkin digantikan dengan sekadar bertangis-tangisan melalui telepon, email,sms,surat misalnya.

Untuk mengantisipasi besarnya gelombang arus mudik, pemerintah biasanya juga menggelar operasi berskala mega. Mulai dari pengerahan aparat di sepanjang jalur mudik, hingga menyulap kapal perang atau pesawat Hercules untuk mengangkut pemudik yang tak kebagian angkutan.

Yang menarik, tradisi mudik, bukan hanya dilakukan oleh mereka yang sehari-hari mencari nafkah di Jakarta. Tapi juga mereka yang sedang belajar, atau bekerja di luar negeri. Bahkan, gelora mudik yang dirasakan para ‘imigran’ itu kerap lebih meledak-ledak. Maklum, sepanjang tahun mereka tak hanya harus berhadapan dengan kultur asing yang sering bertolak belakang dengan budaya Indonesia, bertarung melawan cuaca yang tak sebersahabat di Indonesia, atau menelan berbagai macam makan yang tak pas dengan lidah Indonesia, tapi juga musti meredamgejolak rasa rindu kampung yang luar biasa besar.

Konsolidasi dan Mobilisasi

Mudik tak cuma dimaksudkan untuk sekadar bersilaturahmi sambil saling bermaaf-maafan. Tapi juga berkonsolidasi, mengatur strategi perantauan berikutnya bersama sanak saudara yang lain. Si Paidjo, misalnya, yang sudah jadi orang sukses di Jakarta, akan berkonsultasi, bakal membawa siapa saja saat kembali ke Ibu Kota nanti. Atau, si Bedjo yang sudah ‘mentok’ menjalankan bisnis di Surabaya, akan mendiskusikan, apakah perlu mengalihkan ‘ekspansinya’ ke kota lain – baik di Jawa atau di pulau lain.

Artinya, mudik kini juga memiliki makna ganda – sebagai pelampiasan rasa kangen, sekaligus pertemuan akbar untuk merencanakan skenario ekonomi sebuah keluarga besar. Pertemuan seperti itu, dalam terminologi bisnis barangkali bisa disamakan dengan Strategic Meeting yang selain membahas SWOT juga melakukan evaluasi implementasi strategi untuk kemudian mengambil strategi kedepan.

Yang tak kalah unik, ternyata yang mudik pada saat lebaran bukan hanya umat Muslim tetapi banyak juga yang Non Muslim mudik ke kampung halaman. Gereja-gereja di Jakarta terlihat sepi selama masa Lebaran.

Selain Itu, kentalnya keterkaitan tradisi mudik dengan aktivitas ekonomi dapat dicermati dari meningkatnya belanja di kampung halaman para pemudik tadi. Pembelian perabot baru, renovasi rumah atau nyangoni sanak keluarga menjadi kebiasaan yang kerap dijumpai di desa-desa. Dengan kondisi ini, kesejahteraan masyarakat desa setempat juga relatif terbantu.
Apresiasi penduduk setempat terhadap para pemudik juga tinggi. Mereka menjadikan contoh perantau kota sebagai contoh keberhasilan.

Bahkan warga menganggap mereka sebagai pahlawan ‘pembangunan’ yang mensejahterakan desa. Kedatangan mereka akan disambut meriah. Di sebuah desa di Kabupaten Pemalang, kedatangan para pemudik disambut dengan cara unik. Masyarakat desa menggelar pasar malam selama beberapa hari. Tujuannya jelas, untuk mendapatkan cipratan penghasilan dari para perantau yang telah menuai sukses di kota tadi.

Besarnya minat untuk berlebaran di kampung halaman inilah yang secara faktual juga membuka peluang bisnis di berbagai sektor. Bahwa para pengusaha rental mobil selalu panen di saat menjelang lebaran, tentu sudah bukan berita lagi.

Tapi kalau para operator jasa selular, gencar berlomba-lomba memberikan fasilitas khusus kepada para pelanggannya, memang baru berlangsung beberapa tahun terakhir. Agar pemudik, bisa pulang kampung dengan nikmat, para operator tadi memberikan fasilitas bebas roaming di seluruh Indonesia – sebuah fasilitas yang semula tak pernah diobral sembarangan.

Sementara, para pedagang aksesoris mobil biasanya memberikan diskon istimewa untuk penjualan piranti yang dibutuhkan selama perjalanan mudik lebaran. Mulai dari rak yang diletakkan di atap mobil hingga radio tape. Beberapa agen tunggal pemilik merek (ATPM) bahkanrutin menggelar posko siaga untuk memberikan parawatan gratis atau setidaknya paket hemat untuk kendaraan-kendaraan merek tertentu. Produsen oli atau minyak pelumas kerap berpartisipasi di posko-posko siaga tersebut.

Strategi diskon atau paket hemat tadi, sekilas memang akan memangkas pendapatan. Tapi, kalau dicermati betapa besar animo konsumen untuk memanfaatkan perang diskon dan paket hemat tadi, maka bisa dipastikan, bukan penurunan pendapatan yang terjadi, melainkanpelonjakan keuntungan yang akan diraup.

Selain itu, layanan-layanan khusus bersifat spesial tadi, juga dipercaya akan menjadi investasi yang luar biasa. Karena, para konsumen akan semakin dimanjakan. Buntutnya, loyalitas terhadap suatu brand tertentu bakal kian kental.

Itulah kedahsyatan fenomena sebuah tradisi bernama mudik. Sebenarnya agak unik juga, karena akar kata mudik sendiri, berasal dari bahasa Betawi, yakni udik. Istilah “sindiran” yang diberikan kepada mereka yang dianggap kampungan, terbelakang, dan berbagai macam karakter ‘pinggiran’ lainnya.

Tapi kini, tak akan pernah ada yang mempersoalkan dari mana istilah mudik itu berasal. Karena tradisi itu akan terus berlangsung, selama kultur family oriented yang dimiliki orang Indonesia belum berubah. Dan, kita akan terus terpesona oleh kemampuannya untuk memobilisasi ratusan juta orang, dan miliaran dana dari satu tempat ke tempat lain atas dasar “kangen”.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1424 H. Mohon Maaf Lahir Bathin.

www.wiloto.com

www.wiloto.com