Sunday, October 02, 2005

Negara Tanpa Visi?


Bisnis Indonesia
Minggu, 02-Oktober-2005

Negara Tanpa Visi?

Oleh Christovita Wiloto
Managing Partner PowerPR
http://www.blogger.com/


Mari kita buat survey kecil-kecilan. Sodorkan satu pertanyaan pada orang-orang di sekitar kita, ''Apa visi negara ini?'' Berani taruhan, mayoritas responden pasti menjawab, ''Tak tahu.'' Kalau pun ada yang tahu, pasti jawabannya amat klise, semacam, ''Menjadi bangsa yang adil dan makmur.''

Indonesia telah berusia 60 tahun dan memiliki enam kepala Negara. Khususnya sejak reformasi tahun 1998, Indonesia telah mengalami empat kali pergantian kepemimpinan. Yakni BJ Habibie, Abdurrahman ''Gus Dur'' Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Tapi sayang, tak satu pun di antara semua presiden tadi yang mampu “menjelaskan” bahkan ''meyakinkan'' rakyat dengan visinya yang konkret dan jelas. Sampai kini banyak orang bahkan para elite berteriak, ''Reformasi!” dan “perubahan.'' Tapi mau berubah jadi apa, semuanya terdiam. Atau gagap menjawabnya. Tidak pernah ada gambaran yang bening, jelas dan gamblang bagi semua masyarakat (baca: rakyat) tentang berubah menjadi apa, kemana arah Negara ini melangkah, atau apa visi Negara ini.

Padahal, sekadar berubah tanpa arah, sama dengan bunuh diri. Perubahan tanpa tujuan yang jelas, tak beda dengan menghancurkan negeri yang sudah kita bangun bersama dengan susah payah. Sebagai sebuah negara besar, kinerja yang dilakukan Indonesia pasca krisis, nyaris tak berarti. Apalagi, bila dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia yang sama-sama terkena krisis moneter pada 1998 -- semacam Thailand, Korea Selatan, dan Malaysia, kinerja Indonesia jauh tertinggal. Apa lagi jika dibandingkan dengan negara-negara yang tidak terkena krisis.Ibarat berlari, Indonesia sudah sangat amat terengah-engah, namun tidak pernah sampai kemana-mana. Alias hanya lari di tempat. Bahkan, seorang teman mengatakan, Indonesia sebenarnya sudah lari jauh, tapi jauh ke belakang. Sedangkan negara-negara tetangga, telah melesat jauh ke depan. Apa visinya?

Bangsa Indonesia sudah sangat penat dan sarat beban. Berbagai persoalan bahkan krisis datang silih berganti. Banyak enerji terbuang sia-sia untuk hal-hal yang semestinya tidak perlu.

Diluar bencana alam yang memang sebagian besar diluar kendali (walau sebetulnya di negara lain bencana alam bisa diprediksikan), banyak bencana-bencana nasional yang terjadi karena kurangnya pengelolaan dengan baik.

Raja Sulaiman menulis dalam Amsalnya, ”..jika tidak ada visi, maka binasalah rakyat..” Visi yang jelas diperlukan bangsa ini, karena waktu berjalan terus dan waktu yang disia-siakan tak akan pernah kembali. Hanya ketidak pastian yang pasti akan terjadi, dan banyak hal yang diluar kendali kita.

Raja Sulaiman menulis dalam Amsalnya, ”..jika tidak ada visi, maka binasalah rakyat..” Visi yang jelas diperlukan bangsa ini, karena waktu berjalan terus dan waktu yang disia-siakan tak akan pernah kembali. Hanya ketidak pastian yang pasti akan terjadi, dan banyak hal yang diluar kendali kita.

Pertanyaan sekarang bukanlah apakah kita sibuk? Tetapi apakah kita sibuk melakukan hal yang benar sesuai visi kita?

Saat kampanye pada pemilihan presiden tahun lalu, duet SBY-JK (sebutan populer untuk pasangan Susilo Bambang Yudhoyo dan Jusuf Kalla), sempat melontarkan berbagai janji, yang mereka sebut sebagai visi dan misi pemerintahan mereka, bila terpilih menjadi pasangan presiden/wapres. SBY-JK, misalnya, menjanjikan bakal membuat perubahan. Tapi tak pernah dijelaskan secara gamblang perubahan konkret apa yang akan mereka lakukan. Sementara rakyat sudah telanjur melambungkan harapannya (terhadap perubahan tersebut) setinggi langit. Ini wajar, mengingat rakyat memang telah berpuluh tahun dipaksa hidup di bawah rezim otoritarian yang didukung birokrat dan militer, serta perubahan setengah hati, yang disodorkan para presiden pengusung reformasi, yang berkuasa pasca Soeharto.
Apakah kita harus kembali ke jaman sebelum reformasi? Tentu tidak! Demokrasi saat ini merupakan hasil luar biasa yang sudah kita capai dengan perjuangan. Sebenarnya ini adalah kekuatan negara kita yang tidak dimiliki negara-negara lain. Kita tidak perlu kembali ke masa lalu dan membuat awal yang baru. Tetapi kita harus memiliki visi yang konkret dan jelas mulai sekarang agar kita memiliki masa depan yang lebih cemerlang.

Memimpin negeri sebesar Indonesia memang tak mudah. Butuh visi yang konkret, jelas dan dimengerti rakyat agar kelangsungan negara ini bisa berjalan. Dengan didukungan penuh oleh rakyat, itu bisa tercapai. Tentu saja, jika rakyat juga ikut merasakan manfaat dari apa yang dilakukan para pemimpinnya.
Jangan sampai negara ini hanya sekedar “mengalir” saja, tanpa tujuan dan visi yang jelas. Jangan juga negara ini dikelola dengan hanya atas desakan krisis demi krisis saja.

Pemimpin Negara ini harus memiliki visi yang jelas akan kemana arah dan tujuan Negara ini dipimpin. Pemimpin Negara ini harus pula mengkomunikasikan visi tersebut dengan bening, gambling dan jelas pada seluruh rakyat. Pemimpin Negara ini juga harus mampu melakukan “share the vision” kepada seluruh rakyat artinya membuat seluruh rakyat “membeli” visinya. Bukan hanya sekedar untuk memenangkan pemilu saja. Dan yang terakhir pemimpin negara ini harus mampu memimpin seluruh rakyat mencapai visi tersebut.

Wednesday, August 17, 2005

Globalization and PR


Globalization and PR
Bisnis Indonesia 10 Aug, 2003

We are familiar with the scrumptious McDonald’s burger, the crunchiness of Kentucky Fried Chicken (KFC) or the freshness of Coca Cola. Even though in numerous countries, local franchisees try to imbue the ‘touch’ of local specialties, but the basic taste of these multinational companies’ products are still same.

In a nut shell, the taste of BigMac we purchase in Jakarta, is exactly the same with the one we purchase in Tokyo, Moscow or Buenos Aires. The same apply to the crispyness of KFC’s chicken wings or the malt scent in Coca Cola.

All of these are not a matter of coincidence. Oppositely, the ’enforcement’ of taste is intentional. More than that, the service standard of each McDonald’s and KFC restaurants could be termed as similar.

In the case of KFC, for example, the same taste, is due to hystorical factor. Colonel Harland Sanders – the founder of KFC – wanted to maintain the original taste of his fried chicken.
KFC, McDonald’s and Coca Cola, are few examples of how the world could be united in culinary terminology. The exact union in terms that there’s no barrier of discrimination. The difference in foreign exchange, is almost inconsequential. Make an attempt to convert the exchange rate, the price of a bottle of Coca Cola in Jakarta, is not much different from the price of another bottle of Coca Cola in Atlanta, where the main factory and headquarter of the world highest selling softdrink company is located.

’One Taste, For All of The World’. This is the realization of globalization concept – perhaps, these are what the owners and managements of these multinational companies would say. But the scenario of ’one world, one taste’ to those allergic to all factors linked to the western world and the United States, may mean more. Even could be politicized.

For these parties, globalization is a stage of capitalism development process, which started with colonialism. Globalization is the next phase of developed countries’ obsessions to ’control’ the market in third world countries.

This scenario flows rapidly since 1970s. The realizations were through various trade forum and ............... to the meeting in Marakesh, Morocco, on April 1994 – with the signing of trade treaty among governments which known as General Agreement on Tariff and Trade (GATT).
Later, to monitor and control world trade, in 1995 World Trade Organization (WTO) was established as a replacement of GATT. WTO, at this time is a main player in the progress of globalization mechanism.

Critics on globalization have some true points. Thus, it is understandable that leaders from developing countries are often discontented with these situations. Malaysia Prime Minister, Mahathir Muhammad, for example, in front of the United Nations leaders, voiced his sharp critics by stating that the realization of globalization concept is still unfair – in terms that it benefits the rich countries.

PR Strategy

But in this occasion, I do not have intention to discuss globalization from political point of view. I just want to scrutinize the following facts. KFC, currently have not less than 11,000 outlets in more than 80 countries. KFC fried chicken is consumed by around 8 millions people. In Indonesia, KFC has become a generic name for flour covered fried chicken product.

Meanwhile, other ten millions of people in 200 countries engaged in consumption of various soft drinks manufactured by The Coca Cola company. And the same McDonald’s restaurants have become the favorite place for young generation to hang-out for hours.

To achieve these are not easy tasks – and impossible to be done without smart PR (Public Relations) strategy. And it is not cheap either.

McDonald’s, for example, is rumored have spent U$ 2 billions on promotion. But this is followed by their smart PR to thrust the topics on health in their campaign. One of these strategies is the involvement as sponsor in international sport events.

For example, Olympic Day Run – the run to commenmorate Olympic Day which routinely conducted on June rotatively in 150 countries. Currently, McDonald’s have been recorded as main sponsor of the coming Olympic Games 2004 in Athens.

The choices on sport and health topics are correct. Because McDonald’s often received critics in relation to the high cholesterol and carsinogenic ingredients in the food products – which if true, hazzardous to health.

Meanwhile, KFC smartly choose public figures to promote their products. The latest is Annika Sorenstam – female golf player, who won US open championship twice. KFC also target high rating TV shows to advertise, in example Friends, American Idol or Fear Factor.

In Indonesia, Coca Cola with theme ’Semangat Lagi’ rope in a number of musicians and teens idols as stars in their advertisements.

The purpose is to implant an image to their consumers, that Coca Cola makes their lives a success as what they experience now.

The above examples show that PR with smart communications are not only capable to support marketing of a product, but they also play important roles in ’value creation’ of a product or brand, developing close relationship between manufacturer and consumer, which in the end reaping consumer’s trust.

It should be underlined that communication should be conducted in global scale, thus the ’intimate relationship’ achieved would be able to break the barriers of border of a country.
PR, with its strength to communicate beyond borders, is indeed capable of ’uniting the world’ and giving important meanings to globalization process.

This is depend on how to focus the strength of PR into instruments which capable to realize globalization concept in positive interpretation – not only ’domination’ of manufacturers and producers in developed countries on consumers in developing countries.

It also gives access, thus products of third world countries could be accepted by consumers in powerful countries.

Etos Pengusaha Muda (1)



















ETOS PENGUSAHA MUDA (1)
di Bisnis Indonesia www.bisnis.com
Oleh Christovita Wiloto
http://www.wiloto.com
Managing Partner Wiloto Corp.

Indonesia William Henry Gates III, nama itu mungkin agak asing bagi kita. Tapi coba sebut, Bill Gates, Anda pasti maklum. Dia lah pendiri Microsoft (bersama Paul Allen), dan kini tercatat sebagai orang paling kaya di dunia versi Majalah Forbes. Tahun lalu, majalah itu menyebut kekayaan Bill Gates mencapai US$46,5 triliun! Itu, sudah terpangkas separuh dari total asetnya pada 1999, yang mencapai US$90 triliun. Di bawah kendali Gates, Microsoft tumbuh sebagai raksasa software dunia. Mempekerjakan tak kurang dari 55.000 karyawan di 85 negara, pada semester I 2004, Microsoft mampu menuai pendapatan hampir US$37 miliar. Gates juga terus memperbarui teknologi Microsoft, agar semakin efektif dan ramah bagi setiap pengguna komputer.

Lahir di Seattle, pada 28 Oktober 1955, Gates sudah terpikat pada bidang peranti lunak pada usia yang sangat muda. Dia bahkan mulai membuat program komputer saat usianya belum genap 14 tahun, dan menciptakan bahasa BASIC pada 1973, ketika masih kuliah di Harvard University.

Lalu, sebut pula nama Steven Paul Jobs. Jobs juga tercatat sebagai pemain utama di industri komputer. Bersama karibnya, Steve Wozniak, Jobs dikenal sebagai pendiri Apple Computer Co. Jobs membidani kelahiran Apple dari garasi rumahnya yang sederhana, dan resmi mengibarkan bendera Apple pada 1976. Belakangan, sekitar 1986, Jobs-yang sangat dikagumi karena keahliannya meyakinkan orang dan kemampuannya sebagai salesman unggul-merambah industri animasi. Bersama Edwin Catmull, dia mendirikan Pixar, sebuah studio animasi komputer di Emeryville, California. Karena kepemimpinannya di Pixar, dan kemapanannya di Apple, Jobs dinilai banyak pengamat industri hiburan, sebagai salah satu calon pengganti Michael Eisner, pemimpin Walt Disney Company, yang mendistribusikan dan mendanai film buatan Pixar.

Paradigma baru Kisah sukses Bill Gates dan Steve Jobs, barangkali telah menjadi klasik. Cerita mereka memulai usaha, kerap dijadikan contoh, betapa sebuah obsesi bisa membawa seseorang ke puncak ketenaran-baik karena kualitas karyanya maupun kekayaannya. Betapa sebuah ide orisinal yang mungkin awalnya tak diperhitungkan, ditambah dengan tekad yang membara, kelak terbukti mampu mengubah dunia.

Setelah era konglomerasi di Indonesia 'rontok', sebenarnya kini saatnya bagi para generasi muda untuk berani tampil menjadi para pengusaha muda yang tangguh. Indonesia membutuhkan banyak sekali para pengusaha muda dengan etos kerja yang positif, smart dan profesional. Dan ini merupakan hal yang mutlak! Semangat dan etos seperti di ataslah yang seharusnya ditiru para pengusaha muda kita agar eksis di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Pengusaha muda kita perlu membekali diri dengan kreativitas dan tekad untuk selalu menciptakan nilai tambah dari produk atau usahanya. Sehingga, nilai tambah itu nantinya dapat memberi manfaat bagi industri yang digelutinya-menambah devisa negara, mendongkrak penerimaan pajak, menciptakan lapangan kerja baru dan memberi layanan publik secara optimal, juga mengibarkan Merah Putih di tengah dunia.

Pengusaha muda seperti itu di Indonesia, sebenarnya cukup banyak. Tapi mereka lebih kerap memilih "diam dalam bekerja"-bahkan, cenderung menjauhi publikasi. Orang kemudian, baru mengenal mereka dari karya-karya dan hasil kerjanya yang spektakuler.

Sayangnya, di Indonesia, pengusaha yang kerap muncul, adalah mereka yang sejatinya adalah politikus. Atau pengusaha petualang. Yang biasanya memanfaatkan statusnya sebagai pengusaha untuk meraih karier politik. Misalnya, menggalang dana masyarakat sebanyak-banyaknya, baik dari pasar modal atau pinjaman bank, lalu mencoba menelikung hukum untuk mengemplang kewajibannya. Stop praktik seperti itu! Dan mulai dengan hal-hal yang profesional dan etis!

Coba kita bayangkan jika para eksekutif muda di berbagai lini korporasi di Indonesia berani mengambil keputusan untuk menjadi pengusaha muda. Pasti ekonomi Indonesia akan semakin semarak dengan berbagai bisnis yang bergairah, juga dengan penemuan-penemuan yang luar biasa! Coba juga kita bayangkan jika setiap setiap mahasiswa, membuat inkubator bisnis di masa akhir kuliahnya. Pasti Apple-apple baru akan bermunculan di Indonesia. Mengapa tidak dari sekarang mengubah paradigma? Menjadi pengusaha muda yang profesional?

Tuesday, August 16, 2005

Indonesia Raya

Do we able to memorize the text of Indonesia Raya? Do we know, the story behind the creation of the National Anthem of Indonesia by Wage Rudolf Supratman? How many times in a year we sing it ? Or, try to recall, when was the last time you sang the song solemnly?
Perhaps, to answer these questions, in the ceremony of the 58th National Independence Day in Presidential Palace, Sunday, August 17, the coordinator distributed a book on National Anthem Indonesia Raya, written by Bondan Winarno.

This book, which prelude written by President Megawati Soekarnoputri is not only discuss the history of Indonesia Raya, also a search of the actuality of this song in the context of being a nation and a country at present day.

In the midst of economy and political turmoil today, and the prominent threat of disintegration, we seemed as in the dire needs of ’instruments to bond’ the sense of nationalism.
And one of those ’instruments’ is the National Anthem Indonesia Raya, which lyric was written by WR. Soepratman in 1924, and played for the first time two years later.

During colonialism period, the Dutch government prohibited the display of Indonesia Raya, and prohibited the reference as National Anthem. But this prohibition was the element that pumped the sense of patriotism amongst Indonesian youth to fight the Dutch colonialism.

Indonesia Raya was even sung with such pride and gusto – to accompany the departure and victory of the fighters of independence.

Such fond memories on courage and sincerity of the fighters shall be treasured and planted till now. But us – who should be grateful on the fruit of independence presented by those fighters – remain apathyst.

Many of us only sing Indonesia Raya during celebration of August 17, in our workplaces, if not performed half-heartedly.

Even though, when we were still schooling – from elementary school to high school – we used to sing Indonesia Raya once a week during flag-raising ceremony every Monday.

After we left school, there are no more liabilities to attent such ceremony. Even private TV stations, seldomly play national and patriotic songs. It’s lack of wonder, when we grow up as adults, we oftenly forget Indonesia Raya, literally or metaphoric.

Build the Nationalism

The absence of such obligation will indirectly crush our nationalism. To prevent similar things, in few countries, for example Phillipines, the government rules that National Anthem should be played before and after movie screening in cinemas.
In neighboring countries, Singapore and Malaysia, videoclips of national anthem are aired frequently.

To preserve nationalism, perhaps we shall sing Indonesia Raya more often – especially in special occassions. For example, in the inauguration of People Consultative Assembly summit, big or small.

At least, this could remain the parliament members, that they stand there to fight for the interests and aspirations of people that they represent.

Perhaps Indonesia also need to implement national service like in other countries ? May be not that extreme, for ’Penataran P4’ made our young generation felt allergic. Because of the tendency to ’enforce’ rather than persuasive process to ’nurture’ or to ’sell’.

To nurture the sense of nationalism is not an easy task. Even though in real sense it shall be not too difficult. In the perspective of communication, to encourage nationalism should not be much different from the efforts to cultivate consumer fanatism to certain brands.

It means, to nurture the love and pride to own nation, is not effective if done sporadically, with methods that tend to be symbolic.

Ceremonial occassions still needed, but there are needs for communication forms that persuasive and ’trendy’ that love is cultivated not forced.

The same ways producers use to seduce consumers into using their products. These are done with well planned marketing and promotion strategies.

In other words, to cultivate the nationalism, should be conducted in persuasive ways which could nurture the sense of belongings and pride – proud of being Indonesian, proud of singing Indonesia Raya in international stages, proud of using Indonesian products, and the list continues.

Obviously for these to succeed, the precise strategies are needed. Thus, people will not think twice, when asked to sacrifice for their nation and country. And this scenario will made easier – as what I have stated above – if there are ’bonding instruments’, one of which the National Anthem Indonesia Raya.

In the context of the period of the struggle for independence, President Soekarno was a brilliant strategic communicator, he was a high-skilled world communicator.

Soekarno had precise understanding on the conditions of Indonesia people at that time. He understood precisely what messages should be delivered and how to deliver them. He was able to optimize all available media, both locally and foreign media.

Even with the limited media, Soekarno was able to deliver his messages to the whole nation in such clarity. To build the strong patriotism, even though attacked by various disinformation by the colonial government.

Soekarno understood well the formation of reputation of Indonesia, both in the eyes of world and its own people. Probably Soekarno’s technics and strategies are still relevant, but they should be adapted accordingly to the current context of Indonesia and the development of communications in present day.

There’s missing feeling to hear Indonesia Raya sung with love and pride.

Over Expose


Over Expose

The significance of Public Relations is undoubtable, the realization have been developed not only in big corporations or multinational companies, but also small and medium enterprises.
A law firm which has been established for a year by young low graduate, for example, is taking off after implementing a correct Strategic PR. Or when an unique beauty salon which conceptualized by a young woman is able to developed vastly because since the conceptualization period a Strategic PR have been implemented, whether in room design, brand, services provided. The strategy become very public oriented, beside to its consumers, also to efforts to fulfill public demand as a whole.

In a corporate world, PR roles become very important and more complex. An accurate strategy is needed, also in the implementation. There are needs on a precise Communications Audit before a strategy is defined according to the conditions of the company. For example: media perception, consumers, investors, government, competitor and other public to our company.
Every public perceive different characterization, and possess different perception. Different public need different approaches. The way we interact with investors should be different with the way we interact with government, for example.

After a Communications Audit is conducted, a strategy is needed, few PR strategy scenarios are formed by considering the situations and conditions. What is the A Plan, and B Plan as the contingency plan. Later, by analysis on precise diagnosis, a strategy is implemented. In the implementation period, the capability in Art of PR is crucial. A good strategy could be spoiled by wrong implementation. But on the other side, PR Action could become a boomerang, if the strategy is not precise.

Over Expose

Most of people still consider PR as appearing in media or in front of public, or making news. This is wrong! Appearing by public, media or being in the news without a correct strategy is very dangerous. This could cause an over expose, an uncontrolled reputation and could lead to crisis.
Become famous, appearing in media, become news material oftenly bring excitement to the directors. But being exposed without a correct strategy could be dangerous. Because public perception is running wild and in the end reach a critical stage of uncontrollable monster. The simplest are that public perceptions are not as we targeted. For example, when an International Bank which known as a Card Center rather than its existence as a global bank. Only because the public expose emphasized on its credit card product.

But in the reality, there are many companies still have principles of as long as famous, as long as able to be covered, to be in the news. There are no strategic PR planning and oftenly different from the planned company strategy. Oftenly the reputation formed is far deviated from the corporate vision and mission, under-positioning, over-positioning or confused positioning.
For example, a bank shall be perceived as a professional, credible, prudent and trustworthy institution, in the end perceived by public as nest of crooks. This is an example of wrong strategy which is very eminent.

Or a lawyer who should be perceived as justice defender, but seen by public as mafia of justice, because oftenly appeared in TV and printed media sporadically and misdirected. Or when an investment bank with various comprehensive financial services is perceived by public as a mere fund manager. Or when a printing company is perceived as packaging company, an others.
Once again, Public Relations is not merely appearing in media and become famous; but more than that, achieving corporate vision and mission.
To conduct repositioning on public perception which have been misled and planted strongly in their minds would need tremendous efforts, also a great deal of time and expenses, with low level of success.

Public Relations strategy is same as an headache, could be self-cured, could be cured by going to drug merchant, shaman, traditional healer, doctor or specialist. The way to diagnose may be different, which lead to different recipes and different results. A specialist will perform analysis and diagnosis carefully with more accurate results. The headache could be only a symptom, but the illness turns out to be high cholesterol, diabetic, high blood pressure, etc where treatment of each illness will be different and could not be cured by a mere pain killer.
Imagine when the illness is diabetic, but everyday we take only painkiller ? Thus, the Over Expose is exactly same like overdose of a wrong medicine. When the medicine is wrong, topped by overdose! The result is a critical and fatal illness, which may lead to the failure of the company.

Sunday, August 14, 2005

Ronald Reagan



The Great Communicator, begitu The Washington Post menyebut Ronald Reagan. Dia telah pergi. Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) ke-40 ini, meninggal dunia di usia 93 tahun, setelah sepuluh tahun menderita penyakit Alzheimer. Reagan meninggal dunia di kediamannya kawasan Bel Air, Los Angeles. Reagan tetap dikenang sebagai salah satu presiden terbaik AS.Bahkan, sahabat terdekatnya, mantan Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher mengenang Reagan sebagai "pahlawan besar Amerika yang sebenarnya".

Reagan mengumumkan kepada publik AS pada akhir1994 bahwa dirinya menderita Alzheimer yang menyebabkan kekacauan otak yang membawa pada disorientasi mental dan kemunduran fisik.Ia menjalani kehidupan yang tenang di rumahnya sejak itu. Reagan yang berdinas di Gedung Putih tahun 1981-1989, merupakan presiden AS yang paling lama hidup. Ia adalah presiden AS tertua yang pernah dipilih dan orang paling tua yang berkuasa, yang meninggalkan masa jabatan keduanya hanya beberapa hari sebelum hari ulang tahunnya yang ke-80.

Walaupun sudah tiada, namun kini suara tajam Reagan tetap akan terdengar di tengah publik. Telah diproduksi boneka Reagan yang bisa berbicara. Boneka Reagan merupakan keluaran terbaru Talking Presidents. Boneka tersenyum dengan tinggi 30 cm itu dioperasikan dengan batere dan bisa mengeluarkan 11 kalimat politik Reagan. Kalimat-kalimat politik favorit yang pernah diucapkan oleh Reagan, termasuk, "Tuan Gorbachev, runtuhkan tembok ini," dan "Anda dan saya dipertemukan oleh takdir." Yang diluncurkan oleh boneka tersebut adalah rekaman suara asli Reagan. Boneka ini laku keras, bak kacang goreng, begitu menurut John Warnock, kreator Talking Presidents.

"Reagan merupakan salah satu presiden AS favorit bagi kebanyakan orang Amerika," kata John. The Great Communicator Jika orang ditanya tentang siapa Ronald Reagan menurut mereka, maka sebagian besar orang langsung menjawab: Presiden AS atau Bintang Film. Tetapi saya cenderung setuju dengan The Washington Post, Ronald Reagan adalah seorang komunikator yang sangat hebat. Reagan dijuluki sebagai presiden paling komunikatif setelah Roosevelt. Abraham Lincoln dikenal sebagai jagonya pidato tertulis, sementara Roosevelt dijuluki jagonya pidato radio, sedang Reagan adalah Sang Aktor, dialah bintang televisi dunia.

Reagan sadar betul bagaimana peranan TV yang sangat besar sebagai media yang luar biasa daya jangkau dan pengaruhnya terhadap tiap individu di seluruh dunia. Jika kita ditanya tentang Reagan, maka kita dapat bercerita panjang lebar tentangnya. Tetapi berapa banyakkah dari kita yang memiliki kesempatan secara langsung melihat dia? Sadar atau tidak, televisi membuat segala seuatu seolah-olah nyata dan hampir-hampir diingat sebagai pengalaman pribadi setiap individu penontonnya. Pencitraan yang dibentuk oleh televisi sangatlah dahsyat. Dan Reagan adalah ahlinya. Saat ini kita hidup dalam sebuah kebudayaan reality TV di mana batas antara fakta dengan fiksi sangatlah kabur, maka disinilah Reagan memainkan peranan strategisnya.

Selain itu Reagan mampu membuat seluruh hidupnya menjadi sebuah “show” yang memikat untuk diperhatikan setiap orang, layaknya sebuah runtutan cerita film yang menarik. Hal ini tidak terlepas dari pengalamannya baik sebagai penyiar radio dan bintang Hollywood. Saya ambil beberapa contoh yang sangat menarik untuk kita pelajari bersama.

Pertama, ketika pertama kali Reagan berdinas di gedung putih pada tahun 1981. Pada saat itu lawan-lawan politiknya mencoba merusak reputasi Reagan dengan berbagai anekdot-anekdot lucu dan bodoh tentang Reagan. Sama seperti cerita-cerita konyol tentang Capres dan Cawapres via sms yang saat ini sering kita terima. Dan hasilnya? Popularitas Reagan menurun drastis. Positioning yang terbentuk saat itu tentang Reagan adalah presiden AS yang bloon dan mantan artis.

Dua bulan kemudian. DOR! Seorang pria, John Hinkley, menembank Reagan di Hotel Washington dengan enam tembakan. Satu peluru bersarang satu inci dekat jantung, begitu menurut berita.Rekaman video berita penembakan itu disiarkan berulang-ulang. Setelah penembakan itu popularitas Reagan melejit bak meteor, luar biasa jauh, sangat jauh melebihi Inul!! Satu bulan kemudian, dia sudah sembuh! Dan mengejutkan rakyat AS dengan program ekonomi baru: pemotongan pajak & anggaran negara.

Terlepas dari kontroversi yang ada, ada bisik-bisik dikalangan elit komunikator, bahwa penembakkan itu sekedar merupakan rekayasa ala Hollywood, maklum di Hollywood, dar der dor macam itu merupakan makan sehari-hari para Cowboy disana. Betul atau tidak bisik-bisik itu? Wah siapa yang tahu?! Tapi yang jelas penembakkan itu mampu meningkatkan simpati publik dunia pada Reagan.

Kedua, Star Wars, atau perang bintang. Ini adalah program yang brilian dari Ronald Reagan. Kira-kira intinya, kalau mau perang jangan di bumi, tapi di antara bintang-bintang, di luar angkasa. Program ini digembar-gemborkan keseluruh dunia melalui berbagai media terutama televisi. Karena televisi mampu menampilkan bentuk-bentuk audio visual. Seluruh mata publik dunia terpukau dan tertuju pada proyek Star Wars ini. Sampai-sampai Uni Sovyet yang saat itu menjadi musuh terbesar AS “termakan kampanye AS” itu, dan habis-habiskan mengeluarkan budgetnya untuk mampu menjawab perang bintang AS itu. Soviet menyiapkan proyek Soyuz. Dan apa yang terjadi? Uni Soviet pun bangkrut karena proyek itu. Dan dengan berbagai strategi komunikasi yang sangat luar biasa, maka hancurlah Uni Soviet menjadi berkeping-keping.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana keahlian komunikasi Reagan? Fakta membuktikan bahwa program Star Wars sebenarnya tidak pernah ada! Itu hanya isapan jempol belaka dan sekedar gertak sambal Reagan! Ha..ha..ha… siapapun yang menyadari ini akan terhenyak, ternyata inilah makna kata-kata Margareth Thatcher, “ Reagan membuat revolusi paling bersejarah di Uni Soviet tanpa ada perang dan baku tembak.” Ini merupakan bukti yang sangat nyata betapa powerful-nya startegi komunikasi, bahkan lebih dahsyat dari perang dan baku tembak.

Ketiga, Reagan juga sangat piawai dalam berpidato, kalimat-kalimatnya singkat namun tajam mengena pada sasaran. Seperti kalimat, "Jika Anda mencari perdamaian, kesejahteraan untuk Uni Soviet dan Eropa Barat, jika Anda menginginkan liberalisasi, datanglah ke gerbang ini, Pak Gorbachev. Buka gerbang ini, Pak Gorbachev," kata Reagan kepada Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev, pada saat ia secara khusus mengunjungi Gerbang Brandenburg, Berlin, 12 Juni 1987. Atau kalimat: "Saya berterima kasih kepada seluruh rakyat Amerika karena telah diberi kesempatan melayani Anda sebagai presiden," katanya 10 tahun lalu. Perhatikan kata “melayani Anda”, kalimat yang sangat sederhana namun sangat dahsyat efeknya, karena disampaikan oleh seorang presiden AS. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain tentang kehebatan Reagan berkomunikasi strategis.

Mimpi rasanya memiliki presiden RI seperti Reagan suatu saat nanti. Tapi apakah dalam konteks Indonesia saat ini seorang Reagan dapat efektif memimpin Indonesia? Mungkin jawabannya belum. Indonesia saat ini lebih memerlukan pemimpin yang rendah hati dan memiliki rasa kasih sayang yang sangat tinggi terhadap seluruh rakyat Indonesia yang sudah penat menanggung beban. Jadi yang lebih diperlukan Indonesia saat ini adalah pemimpin yang memiliki sikap melayani.

Strategic Communications



Bisnis Indonesia, Minggu 14 Agustus 2005

Strategic Communications

Oleh Christovita Wiloto
CEO Wiloto Corp.
powerpr@wiloto.com

Saya sempat takjub, ketika seorang teman dengan amat detil mengatakan, betapa Starbucks Coffee bukan sekadar jaringan kedai kopi dari AS. Melainkan juga tempat bersosialisasi -- terutama bagi masyarakat urban di negeri itu.

Teman saya tadi amat paham, bahwa perusahaan yang berpusat di Seattle, Washington, ini mengambil namanyadari nama salah satu karakter di novel Moby-Dick,dengan logo seorang siren. Lalu, ia seperti hafal diluar kepala saat mengungkapkan pada Januari 2005,Starbucks telah memiliki 8.949 outlet di seluruh dunia-- dengan rincian 6.376 outlet di AS dan 2.573 outletdi negara lain.

Ia juga bisa dengan lancar menceritakan, Starbuckskali pertama dibuka pada 1971 oleh Jerry Baldwin, ZevSiegel, dan Gordon Bowker. Howard Schultz bergabung dengan perusahaan ini pada 1982, dan terinspirasi oleh bar espresso di Italia, membuka jaringan Il Giornalepada 1985. Beberapa saat setelah pemilik aslinyamembeli Peet's Coffee and Tea, Starbucks dijual pada Schultz yang kemudian me-rebranding Il Giornale dengannama Starbucks pada 1987.

Sebenarnya, saya maklum, karena teman tadi memang seorang maniak kopi. Tapi yang membuat saya takjub,adalah pemahamannya terhadap apa pun yang berlabel Starbucks. Tentu saja, ia adalah penikmat sejati semua varian kopi Starbucks.

Persepsi positif

Apa yang terjadi pada teman saya tadi, adalah contohkecil -- namun konkret -- keberhasilan sebuah strategic communications (SC). Dalam hal ini, SC yang digencarkan Starbucks di seluruh dunia. Starbucks memang salah satu dari banyak perusahaan global yangmengoptimalkan SC untuk ''menguasai dunia.''

Hal serupa dilakukan pula, misalnya, oleh Microsoft,Coca Cola, McDonalds, Kentucky Fried Chicken, Nokia,Mercedes, Disney, Samsung, Honda, Sony, dan ratusan perusahaan global lainnya. Mereka rajin berkomunikasi dengan konsumennya tidak melulu dengan iklan, namun dengan berbagai pemberitaan positif yang dirilis secara by design dan terus menerus.

Dengan cara seperti itu, hampir setiap orang di kolong bumi pasti mengenal -- setidaknya pernah mendengar --nama-nama global tadi. Tentu saja, seperti yang terjadi pada teman saya tadi, tak sedikit di antarakita yang tak sekadar ''ngeh'', tapi paham betul seluk beluk produk dan sejarah sebuah perusahaan.

Selain itu, banyak pula penduduk dunia yang punya persepsi positif tentang masing-masing produk tersebut. Persepsi positif itulah yang mampu menciptakan trust dari seluruh penduduk dunia. Yang pada akhirnya akan menciptakan loyalitas global.

Tak cuma dalam skala korporasi. Pemerintah sejumlahnegara besar juga telah mampu memfungsikan SC untukmembangun citra positif. AS, misalnya. Kita akanmelihat gambaran amat manis mengenai negara itu, jikamenyimaknya dari apa yang disodorkan Hollywood, CNN,dan sejumlah situs internet.

Value of Corporation

Pada tataran lebih strategis, SC tak sekadar bisamendongkrak merek atau brand sebuah produk. Tapi secara siknifikan juga mampu meningkatkan nilai perusahaan di pentas global. Sehingga investor memiliki sentimen positif untuk terus mengucurkan dananya ke sana. Dan, saat nilai sahamnya kianmembaik, value of corporationnya juga bakal melambung.

Selain itu SC dapat meningkatkan sentimen positif pemerintah berbagai negara di belahan dunia yg berbeda-beda terhadap perusahaan. Sehingga negara-negara itu dengan tangan terbuka lebar menerima perusahaan-perusahaan global tersebut untuk beroperasi di negaranya. Dalam banyak kasus, si perusahaan justru diundang masuk dengan berbagai insentif yang menggiurkan.

Dengan asumsi yang sama, persepsi positif tentu jugabisa diimplementasikan di tataran hubungan antar negara.Bila pemerintah sebuah negara mampu mengoptimalkan SC citra negara tadi akan menjadi bagus.

Kalau di tingkat korporasi citra positif tadi akan berbuntut pada loyalitas, dalam skala pemerintahan, gambaran sejuk tadi akan mempertebal trust atau kepercayaan internasional. Dengan modal tersebut, takakan sulit bagi pemerintah negara tersebut untuk menggalang investasi -- khususnya dari pemodal asing-- untuk menanamkan dananya di sana.

Dan, kita tentu paham, investasi jangka panjang dan berkesinambungan yang masuk, secara otomatis akan memacu perekonomian negara yang bersangkutan ''berlarilebih cepat'' untuk menggapai kesejahteraannya. Untuk itu diperlukan strategi yang matang, cermat dan sistematis untuk melakukan strategic communications.

Sunday, March 21, 2004

SBY


SBY
Bisnis Indonesia 21 Mar, 2004

Berita karnaval kendaraan hias oleh para parpol peserta Pemilu sebagai tanda dimulainya pelaksanaan kampanye, di mana semua partai secara bersama-sama beriringan dengan damai dan meriah, hampir-hampir tak menarik perhatian publik.

Perhatian publik dan media lebih dihebohkan dengan berita perseteruan Presiden Megawati, yang komentar-komentarnya disampaikan suaminya Taufik Kiemas, dengan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Tulisan ini sama sekali tidak mencoba menilai siapa yang buruk dan yang baik, tetapi lebih mencoba menganalisa aspek komunikasi publiknya. Kasus ini sangat menarik jika meninjau para pelakunya adalah Presiden RI, suami Presiden, dan Menko Polkam. Dalam suatu bingkai situasi dan kondisi berebut peluang kursi Presiden 2004.

Menurut informasi media, setelah merasa cukup lama dikucilkan dari Kabinet, SBY akhirnya mengundurkan diri, Kamis (11/3) lalu. Pengunduran dirinya itu disampaikan dalam keterangan pers yang diliput sekitar 100 wartawan dalam dan luar negeri dalam suasana yang sangat emosional. Walaupu berkali-kali SBY mengatakan Ia tidak emosional, tapi lensa-lensa kamera media dengan jelas dapat menyampaikan pemandangan ke publik, baik local maupun internasional.

Dalam penjelasannya, SBY mengatakan, keputusan untuk melepas kursi Menko Polkam itu agar kinerja Kabinet Gotong Royong dan Presiden Megawati Soekarnoputri tidak terganggu. SBY juga mengungkapkan, sebelum menyerahkan surat resmi pengunduran diri, ia telah mengajukan surat untuk bertemu langsung dengan Presiden untuk mengklarifikasi statusnya.
Menurut media sampai saat ini Presiden tak pernah menjawab surat SBY tadi. Tetapi ia telah memilih untuk menerima pengunduran diri SBY, dan menunjuk Mendagri Hari Sabarno sebagai Menko Polkam ad interim.

Selain episode pengunduran diri SBY, episode lain yang menarik dari drama ini ketika sebelumnya Taufik Kiemas, dalam kapasitasnya sebagai suami Presiden, terpancing emosinya ketika dicegat wartawan dan ditanyai tentang informasi bahwa SBY tidak pernah lagi diajak rapat kabinet. Taufik mengatakan sikap SBY seperti anak kecil – “ngambek, karena tak diajak bermain.”

Dalam perspektif komunikasi, kasus pengunduran diri SBY dan perseteruannya dengan Taufik Kiemas, menarik didiskusikan. Apa yang dilakukan SBY, dengan tampil di TV membawakan iklan layanan masyarakat bertema ‘Dengarlah Suara Rakyat’, pada batas tertentu dapat dipersepsikan publik sebagai mencuri start kampanye. Pasalnya, meski dalam iklan tersebut, SBY tampil dalam kapasitassebagai Menko Polkam, tapi publik sudah paham bahwa ia dicalonkan sebagai presiden oleh Partai Demokrat.

Pengunduran diri SBY ini bagi banyak kalangan – termasuk, barangkali, Taufik Kiemas – dapat dipersepsikan sebagai upaya SBY untuk menggembosi Megawati. SBY dapat dianggap memanfaatkan media, saat sedang sepi isu. Sehingga, berita pengunduran SBY di media massa jauh lebih “Heboh” ketimbang berita awal kampanye.

SBY juga dianggap mencoba mengoptimalkan celah yang memungkinkannya untuk memenangi Pemilu 2004. Apalagi, bagi banyak kalangan – khususnya kelompok nasionalis -- figur SBY memang dinilai lebih berkarakter, berwibawa, ngayomi dan cerdas, serta bebas KKN, ketimbang lawan-lawannya.

Dan, sayangnya Taufik Kiemas terprovokasi dengan manuver tadi. Taufik semakin dalam tergiring pada sikap yang amat protektif terhadap Megawati dan mengambil posisi seolah-olah dia adalah juru bicara Presiden Megawati, saat tampil dalam sebuah acara talk show yang disiarkan secara langsung oleh sebuah televisi swasta.

Sebagai seorang negarawan, sangat disayangkan SBY yang menjabat Menko Polkam, memilih berbicara kepada pers, ketimbang menanyakan langsung kepada Presiden soal pengucilan dirinya dari Kabinet.

SBY, barangkali terbawa oleh ambisinya sebagai calon presiden (yang berarti menjadi kompetitor Megawati), juga tak pantas mencuri start dengan tampil dalam iklan ‘Dengarlah Suara Rakyat’ tadi. Tak heran, kalau banyak yang menilai SBY tak konsisten. Tapi, penilaian itu akhirnya memang dijawab tuntas oleh SBY dengan mengundurkan diri.

Sampai di sini, saya tak bermaksud menilai siapa yang benar, atau siapa yang salah. Tapi, rasanya ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari kasus SBY vs Taufik Kiemas dan Megawati tadi. Pertama, banyak negarawan kita yang ternyata belum paham betul, betapa pentingnya komunikasi. Saling diam antara Megawati dan SBY – ketika di antara mereka merasa ada persoalan – sungguh sebuah sikap yang tak bisa dibenarkan. Ini perlu digaris-bawahi, sebab mengelola negara sama sekali berbeda dengan mengelola partai.

Mengelola negara menyangkut hajat hidup ratusan juta rakyat. Jadi tak bisa dianggap main-main.

Tapi, tampaknya budaya ewuh pakewuh -- yang dalam banyak studi komunikasi memang ditengarai sebagai salah satu penghambat terjadinya komunikasi yang baik – ternyata masih amat kental, dan susah dihilangkan. Bahkan, di kalangan pejabat negara yang seharusnya bisa bersikap lebih realistis, lebih mengandalkanpemikiran yang jernih, ketimbang mengedepankan emosi dan ego yang berlebihan.

Sementara, statement emosional yang dilakukan Taufik Kiemas kepada pers juga kurang pada porsinya. Sebagai seorang tokoh masyarakat, ia mestinya bisa lebih menahan diri, ketika istrinya – yang kebetulan menjabat sebagai Presiden – didera persoalan kenegaraan. Kekeliruan menempatkan diri seperti yang dilakukan Taufik ini juga salah satu faktor penting terjadinya miss communication.

Kedua, pengunduran diri SBY yang oleh beberapa pengamat dinilai, karena ‘trauma’ nyaris serupa yang pernah dialaminya pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Saat itu, 1 Juni 2001, SBY juga dicopot di tengah jalan dari jabatannya sebagai Menkopolsoskam oleh Presiden Wahid, dan digantikan oleh Agum Gumelar.

Coba kita renungankan sejenak, apa kira-kira persepsi publik Indonesia dengan semua episode-episode yang ada tadi? Dan kira-kira apa pula persepsi publik internasional tetang hal ini? Sayang kan, hal ini sama-sama berdampak buruk baik bagi kubu Mega, kubu SBY, dan juga Negara kita tercinta ini.

Sunday, January 18, 2004

Strategi PR




Strategi PR
Bisnis Indonesia 18 Jan, 2004

Seorang pengacara kondang muncul di sebuah tayangan infotainment televisi. Menarik memang, karena acara infotainment tersebut lebih fokus ke berita-berita gossip para artis. Pertanyaan yang timbul adalah apakah pengacara ini telah beralih profesi menjadi artis?

Melihat pernyataan-pernyataan yang dilontarkan di acara televisi tersebut, serta penampilannya yang gondrong, memang terkesan lebih artis dari pada pengacara.
Pengacara itu gondrong dengan baju yang nampak kekecilan dengan design yang lebih mirip baju artis daripada pakaian seorang pengacara. Ada juga anting-anting juga gambar tattoo kecil.

Jika dibandingkan dengan serial TV Ally McBeal atau LA Law di mana para pengacara tampil sangat smart, konservatif, dan meyakinkan. Tentu saja penampilan pengacara yang muncul di infotainment TV itu jauh dari bagus, selain tidak mencitrakan pengacara sebagai hamba hukum, malah sebaliknya merusak citra dan persepsi publik terhadapnya.

Sebetulnya pengacara itu termasuk seorang pengacara sukses, dia sangat pandai, dan mungkin karena terlalu sibuk, dia lupa mempersiapkan penampilannya di muka kamera. Dia berpenampilan dan bicara apa adanya. Hal ini mungkin akan menjadi wajar-wajar saja dalam interaksi sehari-hari. Tetapi menjadi hal yang berbeda sama sekali, ketika tertangkap kamera TV dan ditanyangkan. Penampilannya di televisi itu segera membentuk persepsi publik yang mungkin salah terhadap dirinya.

Sebagian orang masih beranggapan bahwa ber PR adalah sekedar muncul di media atau dimuka publik, atau membuat berita-berita. Itu salah! Muncul di kalangan publik, media, menjadi berita tanpa strategi yang tepat Sangat Berbahaya. Hal tersebut dapat membuat Over Exposed, Reputasi yang tidak terkontrol, dan akhirnya mengundang krisis untuk datang.

Tetapi kenyataannya masih sangat banyak perusahaan-perusahaan, dan juga pribadi-pribadi, berprinsip asal terkenal, asal tampil, asal diliput, asal menjadi berita. Tidak ada perencanaan PR strategis yang jelas, bahkan sering kali menyimpang dari perencanaan strategis perusahaan yang telah di tetapkan. Seringkali juga reputasi yang terbentuk menyimpang jauh dari visi dan misi perusahaan, atau tujuan karir pribadi (jika kasus ini terjadi pada seorang figure), menjadi under positioning, over positioning atau confused positioning.

Apa kira-kira image Indonesia di mata masyarakat Internasional? Setelah adanya berbagai bom, kerusuhan, demontrasi, peperangan, krisis ekonomi dan berbagai skandal yang ada? Kalau mau jujur sebenarnya cukup buruk, kalau tidak mau disebut sangat buruk!

Dan tentu perlu upaya Strategic Public Relations yang sungguh-sungguh, strategis, sistematis serta terus menerus untuk mengubahnya menjadi lebih baik.Dari pengalaman saya sebagai konsultan Public Relations, dalam menangani sekitar 60 klien, tidak ada yang tidak, semua berkeinginan untuk memiliki image yang positif. Karena tanpa image positif perusahaan akan mati, produk tidak laku, bisnis tidak langgeng, karir tidak meningkat dll.

Sebetulnya dalam filosofi Public Relations, rumus dari image atau citra sangatlah sederhana: kinerja ditambah komunikasi. Inilah yang menciptakan image positif atau negatif baik bagi negara, perusahaan, produk, keluarga atau pribadi.

Kinerja yang baik tanpa komunikasi yang juga baik, tidaklah cukup untuk menciptakan image positif. Sebaliknya komunikasi yang berbusa-busa tanpa kinerja yang baik juga tidak ada artinya.

Mother Theresa adalah contoh pribadi dengan image yang sangat positif, walaupun ia melakukan karyanya jauh di tempat terpencil di Calcuta. Mother Teresa bukanlah seorang yang secara sadar menggunakan strategi PR untuk menciptakan image positifnya, tetapi segala perbuatannya sangat mengharumkan namanya, bahkan jauh setelah ia meninggal dunia. Sadar atau tidak sadar Mother Theresa telah dengan piawai memainkan strategi PR yang jitu.

Kinerja yang baikpun haruslah terkomunikasikan dengan benar kepada publik. Komunikasi terhadap kinerja yang baik juga untuk menghindari kesalahpahaman yang mungkin timbul, menghindari salah pengertian yang pada akhirnya menghindari konflik yang tidak perlu. Tanpa komunikasi yang baik orang lain atau publik mungkin saja tidak mengerti maksud dan tujuan baik kita. Image Positif, berarti kerja marathon yang terus menerus, bukan sprint, sekali cepat sudah itu berhenti.

Fenomena Sakit Kepala

Strategi Public Relations sama seperti fenomena sakit kepala, dapat diobati sendiri, ke tukang obat, dukun, tabib, sinse, dokter atau dokter ahli. Cara diagnosisnya pun berbeda-beda, resepnya juga berbeda-beda. Hasilnya pasti juga akan sangat berbeda. Seorang dokter ahli akan melakukan analisa diagnosa dengan sangat cermat dan hasilnya pasti lebih akurat. Bisa saja pusing tadi hanya sekedar symptom atau gejala, tetapi penyakitnya ternyata kolestrol tinggi, diabetik, tekanan darah tinggi,dll yang pasti treatmentnya akan sama sekali berbeda dan tidak dapat disembuhkan hanya dengan sekedar obat sakit kepala.

Bayangkan jika ternyata penyakitnya adalah diabet, tetapi kita setiap hari minum obat sakit kepala? Nah, Over Exposed itu persis seperti Over Dosis terhadap obat yang salah. Sudah obatnya salah, over dosis pula! Kalau sudah begitu akan menimbukan penyakit yang kronis dan sangat fatal, bahkan dapat menyebabkan kematian karekater baik perusahaan maupun pribadi.

Sunday, January 04, 2004

Kampanye





Kampanye

Sebanyak 24 partai politik (parpol) peserta Pemilu 2004 sudah terpilih. Nomor urut masing-masing partai juga sudah ditentukan. Dan, tentu saja, setiap parpol sudah menyiapkan jagonya masing-masing untuk diusung sebagai calon presiden.

‘Pertempuran besar’ untuk memenangkan Pemilu 2004 memang sudah di depan mata. Tak ada waktu lagi untuk bersantai. Semuanya sudah harus dipersiapkan dengan cermat, agar hasil yang dicapai bisa sesuai target.

Untuk itu, setiap parpol sudah punya strategi masing-masing untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya. Sejumlah parpol mencoba merangkul publik figur sebagai vote getter – mulai dari artis sampai kiai kondang. Sebagian parpol lain memilih mengusung sentimen primordial – baik dalam bentuk misi keagamaan maupun sentimen historis berupa kerinduan pada figur dan ajaran Soekarno atau Presiden Seharto, kedua-duanya mantan Presiden RI.

Tapi beberapa partai yang lain, mencoba lebih rasional dengan mengedepankan program-program pembangunan yang diharapkan bisa mengentaskan bangsa ini dari keterpurukannya yang telah berlangsung selama hampir enam tahun. Walau, program-program yang dijanjikan takjarang juga masih tampak sebagai sekedar sebuah janji, karena rasanya agak sulit direalisasikan menjadi sebuah bukti.

Terlepas dari apa pun skenario penggalangan massa yang dipakai partai-partai peserta Pemilu 2004 nanti, satu hal yang semestinya tak dilupakan oleh pemimpin parpol adalah bagaimana mengemas semua misi, visi dan janji-janji tadi menjadi sesuatu yang memikat masyarakat. Untuk itu, parpol perlu memahami filosofi dan paradigma baru public relations (PR) – di mana prinsip utamanya adalah memadukan kepiawaian berkomunikasi secara efektif, dengan paparan kinerjayang meyakinkan.

Untuk melakukan komunikasi yang efektif, ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Pertama, menggalang kekuatan media massa – baik TV, radio, media cetak, internet maupun SMS (short messaging services). Kemampuan media untuk menjangkau masyarakat dalam lingkup yang nyaris tak terbatas, bisa menjadi senjata ampuh untuk mensosialisasikan program partai. Apalagi, media massa juga punya kekuatan untuk mengarahkan opini publik.

Tentu saja, kekuatan media di sini harus dimanfaatkan secara optimal dengan cara-cara dan tujuan yang fair. Bukan dengan cara ‘membeli’-nya atau memanipulasi informasi. Karena, pengelola media, biasanya adalah mereka yang mau menjunjung tinggi idealisme dan sering bersikap kritis.

Kedua, komunikasi yang efektif, bisa direalisasikan dengan menjalin intimate relationship, sehingga memunculkan rasa saling percaya tanpa pamrih. Sikap saling percaya ini mutlak dibutuhkan, ketika persaingan untuk mencari dukungan terjadi dengan amat ketat seperti sekarang. Setidaknya, rasa saling percaya akan mencegah munculnya kader-kader kutu loncat – yakni mereka yang amat mudah berpindah kepercayaan ke partai lain, hanya karena iming-iming imbalan material.

Ketiga, agar efektivitas komunikasi juga dapat dijalankan dengan memilih strategi komunikasi yang sesuai dengan target audience yang akan diraih. Misalnya, partai yang ingin membidik suara mahasiswa, harus mampu berkomunikasi dengan bahasa mahasiswa disamping pada waktu bersamaan mampu secara fleksibel mengubah cara berkomunikasi sesuai dengan kondisi publik lain yang berbeda.

Lalu, bagaimana cara untuk mendongkrak kinerja partai? Kalau sebuah parpol bisa dianalogikan dengan sebuah perusahaan atau institusi bisnis, maka ada sejumlah strategi yang bisa ditempuh.

Dengan bantuan perusahaan Public Relations (PR) profesional, pimpinan partai bisa menyusun skenario strategis manajemen. Dengan kata lain, manajemen partai musti piawai mengelola organisasi, pintar menggulirkan isu positif, sekaligus tanggap menganalisis perkembangan apa pun yang terjadi di lapangan, serta cermat menempatkan positioning.

Pengelolaan organisasi yang solid mutlak dilakukan, karena apa yang bisa dilakukan sebuah kelompok untuk bangsa ini, jika untuk membentuk sebuah partai saja tidak bisa. Manajemen isu, juga tak bisa disepelekan, karena dengan penetrasi isu-isu positiflah, calon pemilih bisa dipikat. Sementara, memilih positioning partai tak bisa diabaikan, karena hal itu juga akan sangat menentukan, siapa saja calon pemilih yang musti dibidik, dan mampu memberikan suara signifikan pada partai.

Termasuk dalam upaya melambungkan kinerja, adalah membangun citra, merancang program kerja yang konkret, serta menunjukkan kepedulian pada segala apa yang dibutuhkan rakyat. Dan, yang perlu digaris-bawahi adalah, semua itu harus dilakukan secara berkesinambungan. Jangan sekadar dilakukan pada masa kampanye. Tapi juga musti diteruskan saat kelak berhasil memenangkan Pemilu, dan tampil menjadi penguasa.

Sikap pro rakyat harus selalu menjadi pedoman melangkah. Dengan kata lain, kepentingan masyarakat harus selalu ditempatkan di atas kepentingan partai. Ini penting, karena saat ini banyak partai yang ‘bermulut manis’ saat mencari dukungan. Tapi ketika sudah berkuasa, ia langsung lupa pada siapa yang dulu mendukungnya – orang Jawa bilang, ‘kacang lali karolanjarane’.

Untuk melakukan itu, diperlukan figur-figur manajerial yang memiliki skill tinggi, mempunyai visi masa depan yang jernih, serta kadar moralitas dan kredibilitas yang tak perlu diragukan. Figur-figur seperti itu, diharapkan tak hanya mampu memoles citra partai, tapi juga dapat menyelamatkan partai saat dilanda krisis – baik krisis internal maupun eksternal.

Memang tak ada jaminan, partai dengan kualitas yang mampu menjalankan praktik ideal di atas yang bakal memenangkan Pemilu 2004 mendatang. Sebab, di Indonesia massa pemilih masih kerap mengedepankan simbolisme ketimbang rasionalitas.

Tapi setidaknya, kita bisa berharap, pada partai-partai yang menempatkan prinsip-prinsipmanajemen modern, dengan paradigma baru PR yang seperti itu lah yang bisa mengentaskan bangsa ini dari krisis multi dimensi yang berkepanjangan.

Dan satu lagi, bersiaplah dengan segala isu-isu yang akan muncul dalam bentuk skandal atau manuver-manuver politik yang kurang etis dari lawan politik. Kemungkinan antisipasi terhadap situasi kritis dan krisis pun harus disiapkan dengan matang. Semua itu demi peningkatan reputasi untuk memenangkan hati rakyat.

“Selamat Tahun Baru 2004”

Bisnis Indonesia 4 Jan, 2004

Sunday, December 07, 2003

Mudik


Mudik
Bisnis Indonesia 7 Dec, 2003

Hingga satu atau dua pekan mendatang, Jakarta barangkali masih akan lengang. Maklum, Ibu Kota yang biasanya disesaki lebih dari 10 juta jiwa, sejak pertengahan November lalu, telah terkurangi bebannya sampai hampir separuhnya. Ini, karena sebagian besar penduduk Jakarta masih merayakan lebaran di kampung halamannya masing-masing.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun arus mudik masih terjadi secara bergelombang. Jutaan warga Jakarta rela mengeluarkan dana besar untuk berdesak-desakan naik bis, kereta api atau kapal laut, serta bermacet-macet hingga ribuan kilometer untuk mencapai tanah kelahirannya. Bahkan, risiko rampok, atau kecelakaan lalu lintas, sama sekali tak masuk perhitungan.

Semua perjuangan yang kadang sulit dirasionalkan tadi, dijalani hanya untuk satu tujuan. Berkumpul bersama sanak saudara di kampung halaman – sebuah nikmat yang kerap kali juga susah dikonversi dengan duit seberapa pun besarnya. Itulah kenapa, para pemudik tak akanmempersoalkan, kalau tabungannya yang dikumpulkan selama setahun, ludes untuk membiayai perjalanan pulang kampung ini.

Pertemuan secara fisik dengan sanak saudara, juga menjadi rumus mutlak bagi para pemudik. Karena itu, perjuangan untuk mudik tadi juga tak mungkin digantikan dengan sekadar bertangis-tangisan melalui telepon, email,sms,surat misalnya.

Untuk mengantisipasi besarnya gelombang arus mudik, pemerintah biasanya juga menggelar operasi berskala mega. Mulai dari pengerahan aparat di sepanjang jalur mudik, hingga menyulap kapal perang atau pesawat Hercules untuk mengangkut pemudik yang tak kebagian angkutan.

Yang menarik, tradisi mudik, bukan hanya dilakukan oleh mereka yang sehari-hari mencari nafkah di Jakarta. Tapi juga mereka yang sedang belajar, atau bekerja di luar negeri. Bahkan, gelora mudik yang dirasakan para ‘imigran’ itu kerap lebih meledak-ledak. Maklum, sepanjang tahun mereka tak hanya harus berhadapan dengan kultur asing yang sering bertolak belakang dengan budaya Indonesia, bertarung melawan cuaca yang tak sebersahabat di Indonesia, atau menelan berbagai macam makan yang tak pas dengan lidah Indonesia, tapi juga musti meredamgejolak rasa rindu kampung yang luar biasa besar.

Konsolidasi dan Mobilisasi

Mudik tak cuma dimaksudkan untuk sekadar bersilaturahmi sambil saling bermaaf-maafan. Tapi juga berkonsolidasi, mengatur strategi perantauan berikutnya bersama sanak saudara yang lain. Si Paidjo, misalnya, yang sudah jadi orang sukses di Jakarta, akan berkonsultasi, bakal membawa siapa saja saat kembali ke Ibu Kota nanti. Atau, si Bedjo yang sudah ‘mentok’ menjalankan bisnis di Surabaya, akan mendiskusikan, apakah perlu mengalihkan ‘ekspansinya’ ke kota lain – baik di Jawa atau di pulau lain.

Artinya, mudik kini juga memiliki makna ganda – sebagai pelampiasan rasa kangen, sekaligus pertemuan akbar untuk merencanakan skenario ekonomi sebuah keluarga besar. Pertemuan seperti itu, dalam terminologi bisnis barangkali bisa disamakan dengan Strategic Meeting yang selain membahas SWOT juga melakukan evaluasi implementasi strategi untuk kemudian mengambil strategi kedepan.

Yang tak kalah unik, ternyata yang mudik pada saat lebaran bukan hanya umat Muslim tetapi banyak juga yang Non Muslim mudik ke kampung halaman. Gereja-gereja di Jakarta terlihat sepi selama masa Lebaran.

Selain Itu, kentalnya keterkaitan tradisi mudik dengan aktivitas ekonomi dapat dicermati dari meningkatnya belanja di kampung halaman para pemudik tadi. Pembelian perabot baru, renovasi rumah atau nyangoni sanak keluarga menjadi kebiasaan yang kerap dijumpai di desa-desa. Dengan kondisi ini, kesejahteraan masyarakat desa setempat juga relatif terbantu.
Apresiasi penduduk setempat terhadap para pemudik juga tinggi. Mereka menjadikan contoh perantau kota sebagai contoh keberhasilan.

Bahkan warga menganggap mereka sebagai pahlawan ‘pembangunan’ yang mensejahterakan desa. Kedatangan mereka akan disambut meriah. Di sebuah desa di Kabupaten Pemalang, kedatangan para pemudik disambut dengan cara unik. Masyarakat desa menggelar pasar malam selama beberapa hari. Tujuannya jelas, untuk mendapatkan cipratan penghasilan dari para perantau yang telah menuai sukses di kota tadi.

Besarnya minat untuk berlebaran di kampung halaman inilah yang secara faktual juga membuka peluang bisnis di berbagai sektor. Bahwa para pengusaha rental mobil selalu panen di saat menjelang lebaran, tentu sudah bukan berita lagi.

Tapi kalau para operator jasa selular, gencar berlomba-lomba memberikan fasilitas khusus kepada para pelanggannya, memang baru berlangsung beberapa tahun terakhir. Agar pemudik, bisa pulang kampung dengan nikmat, para operator tadi memberikan fasilitas bebas roaming di seluruh Indonesia – sebuah fasilitas yang semula tak pernah diobral sembarangan.

Sementara, para pedagang aksesoris mobil biasanya memberikan diskon istimewa untuk penjualan piranti yang dibutuhkan selama perjalanan mudik lebaran. Mulai dari rak yang diletakkan di atap mobil hingga radio tape. Beberapa agen tunggal pemilik merek (ATPM) bahkanrutin menggelar posko siaga untuk memberikan parawatan gratis atau setidaknya paket hemat untuk kendaraan-kendaraan merek tertentu. Produsen oli atau minyak pelumas kerap berpartisipasi di posko-posko siaga tersebut.

Strategi diskon atau paket hemat tadi, sekilas memang akan memangkas pendapatan. Tapi, kalau dicermati betapa besar animo konsumen untuk memanfaatkan perang diskon dan paket hemat tadi, maka bisa dipastikan, bukan penurunan pendapatan yang terjadi, melainkanpelonjakan keuntungan yang akan diraup.

Selain itu, layanan-layanan khusus bersifat spesial tadi, juga dipercaya akan menjadi investasi yang luar biasa. Karena, para konsumen akan semakin dimanjakan. Buntutnya, loyalitas terhadap suatu brand tertentu bakal kian kental.

Itulah kedahsyatan fenomena sebuah tradisi bernama mudik. Sebenarnya agak unik juga, karena akar kata mudik sendiri, berasal dari bahasa Betawi, yakni udik. Istilah “sindiran” yang diberikan kepada mereka yang dianggap kampungan, terbelakang, dan berbagai macam karakter ‘pinggiran’ lainnya.

Tapi kini, tak akan pernah ada yang mempersoalkan dari mana istilah mudik itu berasal. Karena tradisi itu akan terus berlangsung, selama kultur family oriented yang dimiliki orang Indonesia belum berubah. Dan, kita akan terus terpesona oleh kemampuannya untuk memobilisasi ratusan juta orang, dan miliaran dana dari satu tempat ke tempat lain atas dasar “kangen”.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1424 H. Mohon Maaf Lahir Bathin.

Sunday, November 16, 2003

Mystery Show


Mystery Show
dimuat di Bisnis Indonesia

A mother tells a story that her two years old son suddenly often struck by fear when the door at home is left open. The toddler is afraid if a ghost suddenly appeared from behind of the opened door. Another mother shares a story of her daughter who used to be known as brave suddenly becomes easily scared. Even to bathroom in the house, the girl demands to be accompanied. Lately, as reported by national newspaper, the two mothers realize that their children have unintentionally watched mystery show in TV.

Our TV screen, is now very frightening. The reason is almost all TV stations broadcast show of ‘spirits’. The formats are various, from short film, miniseries, adventure, investigation to standard program such as infotainment.

Indeed, majority of the program is aired at night. One of the purposes is to enhance the mystery effect or frightening ambience of the program. But there are TV stations that carelessly air these frightening shows in the evening, even afternoon. At least, the promos of these mystery shows are oftenly filled in afternoon and evening programs, even in the programs, which designated to the children.

More disturbing is, these mystery, sorcery and superstitious shows are continuously shown during Ramadhan, when Muslim people conducting fasting month. In the blessed month, all TV stations indeed polish themselves with spiritual programs. But the mystery shows’ portion are not reduced.

’What can we say, these mystery shows have high ratings. Even higher than infotainment or dangdut’, claimed one top official of a private TV station.

Rating – is the crux of the matter. The owner and management of TV stations are still put rating in pedestal, as indicator of success of a program. This happened because the advertisers also use the same language that is rating language to decide where to place the budget of their advertisement.

Annoyingly, mystery shows with high rating oftenly produced only to trigger the primitive instinct of human – fear. This instinct is unique. The more a person is frightened, the more interested he is to search for the source of his fear.

In other world, these ’satanic’ programs are not meant to be education programs. If found later that these shows tend to bring viewers to be polytheist, obviously the owners and management of TV stations will wash their hands of this matter and feel that they are not responsible.

’This is an industry with high capital, ideally a program should be educating, entertaining and saleable. But educating and entertaining program not necessarily saleable. Oppositely, the saleable programs could be not educating’, revealed an official in Indonesia Private TV Station Association.

Program Creativity and Human Resources

Up to this point, it seems that there’s no meeting point to solve this dilemma. Even though, this is not a problem without solution. TV stations should be more creative in developing higher quality shows. Here, TV producers could involve a research team, which able to understand clearly what are programs that demanded by viewers.

Quiz with millions and billions Rupiahs prize could be conducted, as long as covered by something, which is educative. Short film could be made, but without misleading viewers by hedonist lifestyle which oftenly lead to moral degradation. Infotainment could be produced, as long as not only gossiping and pitching one with another.

There is no prohibition in making criminal report program, as long as not frightening people on the street. Making mystery shows also would not be a problem, if the purpose is to bring closer one to his God.

It is a shame that the tendencies and facts in Indonesia are disappointing. The high number of TV stations is not bring them to be more competitive, least creative. What happened is, when one TV station reaps success with certain program, other TV stations will follow suit with duplications.

This duplication process has started to infect many Production Houses, which are main suppliers to non-news program in our TV stations. Duplication could be done by simply copying foreign program or by adapting successful program of other TV station.

This situation is effect of the limited numbers of human resources in television. This is the cause of interesting phenomenon, when a new TV station is established, there are rampant hijacking of human resources. This can be understood as to be able to run in speed, a new TV station should be equipped with experienced human resources. Dan, the easiest shortcut to fulfill this human resources need is to hijack from other TV stations.

Until certain limit, this phenomenon will not be a prominent problem. But if left dragging, could be counterproductive to our TV industry. Thus, if this situation is not addressed promptly, do cease the dream that our TV stations will be able to reap success in international stage. The skepticism is they may have surrendered, to develop programs, merely for profit without responsibility to moral degradation of viewers. Indeed, this is a terrible attitude. In my opinion, all of us – the owners, professionals and consumers of TV programs – would not want that to happen.

Sunday, November 02, 2003

Elegant Campaign Through Media


Elegant Campaign Through Media
Bisnis Indonesia 11/02/2003

There are interesting phenomenons in campaign (more precisely stealing the start of campaign) of presidential candidates approaching 2004 general election. One of these is the utilization of mass media as instrument to deliver vision and mission to public.

Surya Paloh, for example. Coincidentally, he is the owner of Metro TV. Thus, the Medan born man who thrust forward as president hopeful in Golkar Party’s convention is able to optimize the expose of his various activities through Metro TV.

Surya’s rival in the same convention, Wiranto, chooses printed media. The figure who has published a bulletin with topic ‘Good Morning’, has planned to establish a newspaper ‘Nasional’.
Meanwhile, Amien Rais – one of the figures who oftenly seen as representation of Islamic group, used Ramadhan as momentum by being the reference of a program broadcasted by Trans TV.

While Megawati Soekarnoputri has indirectly scores credit point, after SCTV aired exclusive interview conducted by Rosiana Silalahi with George W Bush some time a go. In the interview, which took 15 minutes, Bush praised Mega’s policy in fighting terrorism.

In this situation, a mutualism symbiosis emerges, where Bush is able to dictate his foreign policy to Mega; and oppositely, Mega also gains international recognition through Bush’s statement.
From this point, it’s evident there’s tendency of presidential candidates to optimize the roles of Public Relations (PR) and media. These methods are simultaneously will propel credibility and reputation of the candidate. Public sympathy could be nurtured unintentionally. Campaign in disguise through media will also minimize the emergence of rough politic manoeuvres – as often occurred in street campaign.

Street campaign – with charade of motorbikes and posters in various public places – which was prime choice in the past general elections, not only destroy the environment but also degrading the positioning of the presidential hopeful.

The impression on this particular model of campaign – pardon – too hooliganism. Then what could be expected from this type of campaign to attract sympathy? Remember, the people have been fed up with hooliganism style of government, which has gained upper hand lately. The people wish for peaceful campaign with high content, which expected to deliver a qualified leader.

More, campaign by motorbikes charade oftenly led to physical conflict, which bring fear to people. In the bigger scale, this type of campaign will become a boomerang because the president candidate will be perceived as the source of disorder.

With the strength of media and PR, the current presidential candidates not only able to inform their activities; but also create public opinions by displaying their cares to public. The method is by studying public’s taste first, then expose it through media.

In PR’s perspective, this scenario is implementation of strategy to identify the issue before seeking for the solution. Here, though PR and media, the presidential candidate is expected to be smart to create value by nurturing an intimate relationships with his/her constituents.

Such relationship will be emotionally bring the presidential hopeful closer to his/her potential voters. This will be useful if the coming 2004 general election will choose a person not a mere ‘symbol in picture’.

In the United States and western countries, campaign program – both in presidential election, major election or other public officers – always utilize PR and media to support their effectivities. Indonesia, which starts to adopt modern general election conduct, should involve PR and media roles to guard its qualities.

PR and media will ease the presidential hopeful to monitor key figures and positions, which would be able to optimize the achievement of certain objectives. Surely, the objectives meant here are what expected by the people in the presidential hopeful.

Hence, one thing that should be remembered by these presidential candidates is that the positive image will not be sustainable if only depending on the adeptness in communication alone. Public opinion, which developed through media, still could be destroyed if not followed by good performance from the presidential candidate.

Imagine, what’s the meaning of Surya Paloh’s thundering speech, if public have the knowledge that the figure put his interests before that of public. What’s the meaning of Bush’ praise to Megawati if in the fact, we perceive Megawati’s role is more of easily dictated figure rather than a character as symbol in fighting repression of New Order. What’s the meaning, if Amien Rais’ Ramadhan insight is not followed by good conduct of his party’s cadres which easily brushed with various shameful scandals. Then, for what purpose Wiranto spends billion Rupiahs fund to polish his image through National newspaper, if judicially he cannot avoid the fact that he is one of the loyalists of New Order and Cendana family – an icon which deemed to be erased of its existence in public’s political dictionary.

Another matter, which is very important for the presidential candidates, is their commitment to not to involved in money politics. Such strategy will be in vain, because voters today are more educated. Thus the choice will not be easily swayed by a sack of money. If this is forced, it will not be impossible that it will receive public outcries.

Thus, please compete in the election stage elegantly and fairly. This is the right way in implementing the philosophy of democracy.

Sunday, July 27, 2003

Iklan vs PR



Iklan vs PR
Bisnis Indonesia 27 Jul, 2003

“The Fall of Advertising and The Rise of PR” yang di tulis Al Ries dan Laura Ries adalah buku marketing yang sangat menghebohkan dunia pemasaran, mungkin bisa dikatakan paling heboh saat ini.

Tiga puluh tahun lalu, bersama Jack Trout, Al Ries menulis "The Positioning Era Cometh" yang juga sangat heboh dan sangat mempengaruhi dunia pemasaran sampai saat kini. Menurut Ries, era 70-an adalah The Positioning Era Cometh dan saat ini adalah The Public Relations Era Cometh.

Ries selama ini juga dikenal sebagai figur yang amat pro advertising . Ries adalah alumni DePauw University, Greencastle, Indiana. Setelah lulus kuliah, ia mulai menapaki karier dengan bekerja di departemen pemasaran General Electric Schnectady, New York.

Ries memiliki karier yang luar biasa, mulai dari Needham, Louis & Brorby, hingga Marsteller Inc. Ries bahkan sudah mendirikan advertising agency -nya sendiri pada 1963, dengan bendera Ries Cappiello Colwell di New York.

Secara umum, dalam buku yang dibagi dalam lima pokok bahasan itu, Ries ingin memaparkan, bagaimana sukses sebuah merk, akan lebih mudah dibangun melalui pendekatan PR, bukan periklanan (advertising ).

Argumentasinya yang dilakukan iklan selama ini, tak lebih dari sekadar cara untuk mengungkapkan segala sesuatu yang baik semata (dalam istilah Ries, “ … advertising can only defend brand ..”). Sementara, PR merupakan skenario terpadu untuk membangun sebuah pemahaman, atau bahkan mengubah persepsi.

Periklan menurut Ries menuju kekeruntuhan karena dalam pemasaran periklanan miskin kredibilitas, suatu unsur yang maha dahsyat pentingnya untuk dapat membangun kepercayaan konsumen atau publik pada umumnya terhadap suatu merek, sedangkan Strategic PR dapat menciptakan kredibilitas itu.

Pendekatan iklan yang 'heboh' dan dengan biaya yang sangat besar, oleh Ries dianggap harus diubah dengan pembangunan bertahap yang dilakukan strategic PR .

Hal lain yang disampaikan Ries adalah periklanan seharusnya hanya digunakan untuk mempertahankan merek, setelah merek itu pada posisi mapan karena strategi PR yang jitu.
Buku ini menjadi sangat kontroversial, dan hal itu sangatlah wajar terjadi, betapa tidak, karena hal ini menghajar paradigma pemasaran yang ada saat ini, bahwa iklan adalah suatu yang amat penting.

Ries mengatakan bahwa iklan itu spesial, menggebrak, visual, menjangkau semua orang, mahal, lucu, tidak kreatif, tidak kredibel, bahkan mati. Sedangkan menurutnya PR itu linier, membangun perlahan-lahan, verbal, menjangkau seseorang, murah, serius, kreatif, bisa dipercaya kredibel, bahkan hidup!

Di Indonesia

Terlepas dari pro dan kontra yang ada, saya jadi teringat pada pengalaman waktu pertama kali saya diangkat menjadi agency secretary BPPN akhir tahun 1998, pada hari pertama kerja, saya menemukan kenyataan bahwa pemberitaan BPPN sangatlah buruk. Tidak ada strategi PR yang serius untuk membentuk citra BPPN.

Tidak ada staff yang menangani media secara intensif, juga tidak ada investor relations , government relations juga dilakukan secara sporadis. Yang ada hanya iklan-iklan setengah halaman yang dimuat diberbagai surat kabar besar, yang walau secara design cukup bagus, tetapi sangat tidak menjawab isu yang ada saat itu.

Headline pemberitaan bicara soal apa, iklan setengah halaman koran menyampaikan pesan lain yang tidak ada korelasinya sama sekali. Ketika warisan pekerjaan itu sampai pada saya, luar biasa kagetnya saya ketika harus mengurus pembayaran atas tagihan-tagihan pemasangan iklan-iklan tersebut, luar biasa besarnya!

Apakah citra BPPN dapat dirubah dengan iklan-iklan yang mahal itu? Sayang sekali tidak! Hal yang sama juga terjadi pada Inul, tiga tulisan saya sebelumnya menjelaskan fenomena Inul, bagaimana Inul dapat melejit luar biasa hebatnya hanya dengan strategi PR yang dilakukannya, sengaja maupun tidak.

Inul tidak pernah beriklan, sama sekali! Tetapi hasilnya luar biasa dahsyat, tidak hanya terhadap popularitas semata, tetapi juga secara financial . Inul merupakan salah satu contoh Indonesia yang jelas, bahwa PR memang lebih dahsyat dari iklan.

Siapapun jika memiliki uang dapat membeli satu halaman Koran untuk iklan dan berkata “Saya Nomor Satu, Pilihlah Saya”, tetapi strategi PR mengajarkan bahwa kinerja Anda harus bagus dan diketahui publik, sehingga “orang lain” atau pihak ketiga dapat berkata “dia memang baik”.
Hal ini yang disebut dengan referensi, hal ini juga yang menciptakan kredibilitas, yaitu jika pihak lain mengakui kinerja anda. Dalam PR, kita menyebutnya sebagai “Third Parties Endorsement”.
Hal itulah yang terjadi pada Inul, tanpa sengaja ketika ada yang menistakan Inul secara terang-terangan di muka publik, serta merta orang-orang terkemukan membelanya.
Dan semua pembelaan dari pihak ketiga itu menjadi Third Parties Endorsement yang maha dahsyat bagi citra Inul, karena Third Parties Endorsement sangat kredibel.
Contoh lain adalah Mak Erot yang sangat terkenal dan menurut saya memiliki ekuitas merek yang cukup tinggi, terbukti dengan banyaknya pemalsuan namanya, Mak Erot tidak pernah beriklan.

Bakpia Patok, Kampung Daun, Dagadu, Cihampelas, yang terkenal itu, juga nyaris tanpa iklan. Mungkin awalnya karena mereka memang tidak memiliki budget yang cukup untuk iklan, sehingga mereka semaksimal mungkin mencari strategi yang kreatif untuk memasarkan produknya.

Di Indonesia juga banyak tokoh-tokoh yang terkenal seperti dr. Boyke, Hembing, Hermawan Kartajaya, Hotman Paris, Renald Khasali, dan lain-lain, yang sadar maupun tidak telah berhasil menerapkan strategi PR nya untuk “memasarkan diri” dan meningkatkan brand equity nya, tanpa iklan.

Di tingkat dunia kita mengenal Intel, Microsoft, Harry Potter, Google, The Body Shop, PlayStation yang juga nyaris tak pernah beriklan.

Pertanyaannya sekarang adalah, masih masuk akalkah strategi beriklan dengan biaya yang sangat besar itu? Be Smart!

Sunday, March 23, 2003

Kecerdasan Inul (1)

















Kecerdasan Inul (1)
Bisnis Indonesia, 23 Maret 2003

Dalam lebih dari sebulan terakhir ini Inul mendadak sontak menjadi isyu yang sangat asyik dibicarakan oleh hampir setiap orang Indonesia. Semua media massa memberitakan dan mengulasnya baik dalam bentuk berita, analisa, opini, maupun feature.

Televisi bahkan meneguk keuntungan yang tidak sedikit dengan menayangkan Inul.Baik dari yang sekadar mengulas, bahkan sampai menanggap Inul hingga satu jam, baik dalam bentuk show khusus Inul, liputan tentang Inul, atau Inul sebagai bintang tamu. Dan percaya atau tidak rating acara-acara TV itu menjadi luar biasa melonjak tinggi sekali, iklannyapun luar biasa banyaknya.

Pesan-pesan sms pun banyak sekali yang bertemakan Inul, dari mulai gambar pinggul Inul yang bergoyang-goyang, disusul dengan pesan lucu.

Inul pun diseminarkan secara komersial, dan ternyata laku. Tentu saja dengan popularitas yang sedemikian hebatnya, Inul menikmati penghasilan yang luar biasa banyaknya. Laris Manis SCTV, dengar-dengar, pada saat awal mengundang Inul hanya membayar Rp750 ribu, tetapi ketika Inul meledak SCTV harus rela membayar Inul sebesar Rp 125 juta untuk sekali tayang selama satu jam di 3 in 1.

Dan ketika Inul ditanya apa alasan harganya langsung melonjak menjadi Rp125 juta, dengan lugunya Inul kurang lebih menjawab 'ya segitu aja'. Mungkin Inul memakai desas-desus rate-nya Krisdayanti sebagai benchmark dalam menentukan harga. Tak heran jika dengan kondisi seperti ini, kini Inul bisa mendapatkan lebih dari Rp750 juta dalam satu bulan.

Kecerdasan & kesederhanaan

Kalau kita simak kita dapat melihat kecerdasan seorang Inul yang sederhana. Ketenaran Inul tidaklah datang mendadak, tetapi dirintis dari kesetiaannya untuk menampilkan pertunjukan musik yang terbaik.

Bahkan ketika Inul masih rajin manggung dengan Orkes Melayu (OM) Mahendra, OM Bianglala atau Orkes Melayu lainnya dari daerah Jebang Benjeng Gresik. Walaupun manggung di atas sawah dari satu hajatan ke hajatan lain, dari satu desa ke desa lain.

VCD Inul juga penjualannya luar biasa, dalam sehari pedagang kaki lima VCD di Jakarta bahkan dapat menjual 50 keping VCD Inul. Percaya atau tidak VCD-VCD Inul yang sangat laku itu, hanya merupakan video dokumentasi dari penampilan-penampilan Inul yang dari desa ke desa itu.

Namun mungkin karena Inul tahu VCD-nya bakal dibajak, maka secara cerdik dari satu lagu ke lagu yang lain Inul menuliskan nama orkes melayunya lengkap dengan alamat dan nomor telepon yang dapat dihubungi.

Jadi pembajakan VCD tidak lagi menjadi suatu kelemahan yang menyedihkan, tetapi justru menjadi kekuatan sebagai sarana promosi yang efektif dan efisien. Di sini saya melihat kecerdasan luar biasa dalam bentuk yang sangat sederhana.

Dan karena VCD-nya itulah Inul makin terkenal, dengan VCD penampilan Inul dapat dinikmati oleh lebih banyak khalayak tanpa hambatan ruang dan waktu. Karena VCD juga Inul kian banyak tawaran manggung.

Banyak orang memposisikan Inul sebagai penyanyi dangdut, tapi saya melihat bahwa Inul bukan saja seorang penyanyi dangdut, tetapi seorang entertainer sejati yang mampu menghibur tidak hanya dengan dangdut tetapi juga campursari, pop dan bahkan rock.

Kemampuan Inul dalam berkomunikasi dengan massa penontonpun sangat baik, Inul dapat mengajak Pak Lurah untuk berjoget bahkan bernyanyi bersama.

Ketika diwawancarai wartawan pun dengan gaya yang lugu dan ceplas-ceplos ia dapat menangkis pertanyaan yang paling sulit sekali pun.

Keberadaan Inul rupanya sudah dilirik juga oleh partai-partai yang akan berlaga di Pemilu yang akan datang. Karena orang seperti Inul tentu akan secara efektif mengumpulkan massa, dan saya berani bertaruh bahwa massa yang akan dikumpulkan Inul akan mengalahkan artis manapun di Indonesia.

Untuk itulah mungkin Taufik Kiemas 'merangkul' Inul, baik dalam arti kiasan maupun sesungguhnya. PDIP perlu kesediaan Inul untuk mau mendukung partainya di pemilu nanti, sambil dengan rangkulannya Taufik mengirim pesan ke partai-partai lain, yang kira-kira berbunyi "Sorry ya Inul sudah saya book!"

Sumber : Bisnis Indonesia, 23 Maret 2003
Oleh Christovita Wiloto
Managing Partner Wiloto Corp. Indonesia

Sunday, February 23, 2003

Character Assassination



Character Assassination
Bisnis Indonesia 23 Feb, 2003

Pemilu 2004 kira-kira masih 1,5 tahun lagi. Namun, bagi sejumlah kalangan, terutama para politikus, rentang waktu ini sangat pendek, karena itu berbagai strategi, taktik dan intrik politik pun mulai digelar.

Divestasi Indosat yang mustinya lebih bersifat komersial bisnis menjadi lebih berbau politik daripada komersialnya. Terasa sekali kentalnya aroma pertentangan kepentingan antara berbagai kekuatan politik dalam kasus ini.

Tidak hanya itu, demonstrasi pun sempat memacetkan jalan-jalan di Jakarta beberapa waktu yang lalu. Yang menarik untuk diperhatikan adalah adanya beberapa konflik terbuka antar orang-orang besar yang sering disebut sebagai elite politik.

"Ada upaya sistematis untuk menjadikan saya orang yang paling bermasalah di republik ini, padahal itu tidak benar," kata Wiranto dalam jumpa pers di Hotel Century Park Jakarta akhir Januari. Hal tersebut dikatakan Wiranto bahwa seolah-olah dia di-character assassination-kan. Di tempat lain Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi sempat melalui tim pengacaranya melakukan somasi terhadap Amien Rais, karena merasa di-character assassination-kan.

Kejadian tersebut sempat menghebohkan karena pihak yang disomasi mengadakan perlawanan.
Character assassination bukan hal yang baru di 'persilatan' dunia politik Indonesia. Beberapa waktu lalu Amien Rais juga pernah memberi statement di media massa bahwa dia di-character assasination-kan oleh isu hubungannya dengan Zarima.

Apa sih Character assassination itu? Dalam bahasa sederhananya ya pembunuhan karakter, entah itu manusia, organisasi, atau bahkan negara. Terkadang orang yang terkena dampaknya walaupun secara fisik masih hidup, tetapi sebagai karakter dia mati, karena tidak dipercaya oleh publik lagi.

Hal yang critical di sini adalah public trust, kepercayaan publik, itu yang menjadi logika dari nilai suatu karakter. Berbagai upaya yang dilakukan orang untuk menciptakan dan menjaga reputasi dan hal-hal yang secara sistematis dan sengaja dilakukan untuk menghancurkan reputasi suatu karakter dapat dikategorikan sebagai pembunuhan karakter.

Kenyataan bahwa banyak elite politik dan tokoh masyarakat Indonesia yang merasa dirinya di-character assasination-kan, dapat memberi gambaran kepada kita bahwa cara-cara seperti ini nampaknya sangat disukai oleh politikus kita, terutama menjelang pemilu.

Elegan

Dalam perspektif komunikasi (politik), upaya untuk mendiskreditkan pesaing (lawan politik) sebenarnya juga dapat digolongkan sebagai aktivitas public relations (PR). Hanya saja, model PR yang dikembangkan dalam skenario seperti itu adalah pola lama-kalau tak mau dikatakan sebagai pola yang sudah kadaluwarsa.

Dalam pola tersebut, aktivitas PR sekadar diarahkan untuk menunjukkan, apa yang kami lakukan adalah baik dan benar, sementara yang kalian katakan semuanya salah.
Itulah paradigma kuno aktivitas PR, yang semestinya sudah harus kita tinggalkan. Bukan hanya karena model itu cenderung tidak fair, tapi juga karena efektivitasnya yang sangat rendah dibandingkan ongkos yang harus dikeluarkan.

Logika sederhana saja, kalau kita mencaci maki seseorang dengan tuduhan atau kata-kata yang amat kasar, barangkali reputasi orang tadi memang akan hancur lebur. Tapi, apakah kemudian simpati publik otomatis akan beralih ke kita? Justru sebaliknya publik tidak menyukai hal itu dan pada saat yang sama orang tersebut akan kehilangan juga reputasi baiknya.

Dalam terminologi PR, ada peran yang dikenal sebagai the guardians of public trust. Dalam posisinya yang seperti itu, seorang politikus harus mampu menciptakan kepercayaan publik tentu saja dengan cara-cara yang elegan.

Dalam arti, upaya mem-PR-kan diri sebaiknya jangan dilakukan dengan pola yang cenderung syur sendiri. Apalagi, jika itu juga dilakukan dengan menginjak kepala orang lain.

Akan lebih terhormat, jika kebijakan PR diarahkan pada upaya menarik simpati dengan cara menciptakan kepercayaan publik terhadap dirinya tanpa harus membuka aib pihak lain.
Kalau kita adalah perusahaan yang membuat sepatu olah raga, misalnya, tunjukkan apa kepedulian kita terhadap konsumen dan masyarakat. Dan jangan melecehkan produk pesaing kita yang kebetulan hampir serupa.

Tentu saja, model PR seperti itu membutuhkan strategi komunikasi yang lebih cerdas. Model ini membutuhkan kemampuan yang cukup untuk meng-create value. Seorang pelaku PR, diharapkan tak cuma bisa menjajakan produk yang ingin dijualnya, tapi juga membangun produk tadi menjadi sesuatu yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Salah satu caranya, adalah dengan mengakrabkan hubungan produsen dengan konsumen.

Keakraban inilah yang pelan tapi pasti akan menciptakan iklim penuh keterbukaan antara produsen dan konsumen.

Sumber:
Bisnis Indonesia
Oleh:
Christovita Wiloto
Managing Partner Wiloto Corp. Indonesia

Sunday, January 26, 2003

Apollo 11 & Komunikasi Saat Krisis



Apollo 11 & Komunikasi Saat Krisis
Bisnis Indonesia 26 Jan, 2003

Sejarah Apollo adalah sejarah umat manusia. Terutama bangsa Amerika. Namun, ketika ada yang meragukan keotentikan pendaratan Apollo 11 di Bulan pada Juli 1969, hebohlah seluruh Negeri Paman Sam.

Apalagi, keberhasilan misi Apollo 11, yang diawaki Neil Amstrong dan Edwin 'Buzz' Aldrin, selama bertahun-tahun dijadikan simbol kemenangan bangsa Amerika atas Uni Soviet dalam persaingan menaklukkan angkasa luar. Soviet sendiri sebelumnya berhasil meluncurkan Soyus -pesawat berawak pertama ke luar orbit Bumi. Tapi Soyus tak pernah mendarat di Bulan.

Salah satu figur yang paling sering bersuara keras meragukan keberhasilan misi Apollo 11 adalah Bart Sibrel-sutradara lokal yang dikenal cerdas dan cermat dalam membuat film. Setidaknya, ada lima kejanggalan yang selalu dipertanyakan Sibrel

Pertama, dalam foto-foto pendaratan Amstrong dan 'Buzz' Aldrin di Bulan, bendera AS Stars and Stripes tampak berkibar-kibar. Padahal, Bulan adalah kawasan hampa udara.

Kedua, beberapa foto menunjukkan adanya huruf C di batu dan pasir Bulan. Sejumlah studio Hollywood juga kerap menandai propertinya dengan huruf yang sama, sehingga ada pertanyaan, jangan-jangan pendaratan Apollo 11 di Bulan sebenarnya dilakukan di sebuah studio raksasa Hollywood, di lokasi yang dirahasiakan.

Ketiga, bayangan Amstrong dalam foto-foto lain saling bertabrakan dengan bayangan objek lain. Padahal, bayangan yang muncul karena sinar Matahari selalu jatuh sejajar. Jadi, mungkinkah ini terjadi karena adanya beberapa sumber sinar sekaligus, seperti yang biasa terjadi dalam sebuah studio film?

Keempat, Apollo 11 mengangkut kendaraan Bulan, Lunar Roving Vehicle, yang berukuran 3,1 m x 1,3 m. Sementara, ukuran Apollo 11 sendiri hanya 1,5 m x 1,3 m.

Dan yang terakhir, dari seluruh foto publikasi pendaratan Apollo 11 di Bulan, tak ada satu pun yang menampakkan bintang berkilauan. Padahal, di kawasan hampa udara seperti di Bulan, bintang mestinya tampak jauh lebih terang ketimbang di Bumi yang udaranya pekat oleh polusi.
Berbekal argumentasi di atas, Sibrel pernah meminta 'Buzz' Aldrin bersumpah di atas kitab Injil bahwa ia memang pernah berjalan-jalan di Bulan. Akibatnya, 'Buzz' naik pitam, dan memukul Sibrel di sebuah hotel di Los Angeles.

Untuk meredam silang pendapat tersebut, NASA mencoba mereaksinya dengan membuat semacam buku putih soal misi Apollo 11. Mereka meminta James Oberg, kolumnis antariksa kenamaan, untuk menulis buku tersebut.

Konon, Oberg dibayar Rp150 juta (kala itu) untuk merealisasikan buku putih tersebut. Tapi anehnya, proyek 'buku putih' NASA tadi tiba-tiba dibatalkan, hanya sehari setelah pengumuman jadwal terbitnya.

Dalam situasi seperti itu sangat wajar bila pihak yang terpojok tiba-tiba menjadi terkejut, panik, lalu lepas kontrol karena tak siap mental. Inilah yang terjadi pada 'Buzz' Aldrin, sampai ia menonjok Sibrel.

Ini sungguh sebuah sikap yang tak layak dilakukan oleh seorang 'pahlawan bangsa'. NASA juga tampak over reaktif dengan proyek buku putihnya, meski kemudian dibatalkan tanpa penjelasan apa pun.

Langkah kongkret

Kontroversi misi Apollo 11 merupakan contoh menarik dalam studi public relations (PR). Khususnya, terkait dengan pengelolaan komunikasi saat krisis.

Dalam kasus ini yang dimaksud dengan krisis adalah keraguan publik terhadap kebenaran pendaratan Apollo 11 di Bulan, kecurigaan adanya rekayasa misi yang sebenarnya hanya berupa cerita celluloid.

Kecurigaan seperti ini sangat beralasan mengingat saat ini teknologi sinema semakin canggih dan memungkinkan terjadinya rekayasa terhadap pencapaian berbagai kepentingan.

Namun, dalam menghadapi kasus-kasus semacam itu, seorang PR seharusnya membuat sejumlah langkah kongkret. Dimulai dengan memberi penjelasan selogis mungkin terhadap kritik yang muncul.

Saat dicerca dengan argumen yang memang kuat seperti itu, NASA dapat memberikan penjelasan ilmiah yang bisa diterima akal. Misalnya, bendera Stars and Stripes tampak berkibar karena memang sengaja dipasang kayu melintang di ujung atas tiangnya, sehingga bendera itu tampak seakan-akan tertiup angin.

Atau bayangan yang saling bertabrakan adalah akibat distorsi kamera, dan Lunar Roving Vehicle bisa muat di kabin Apollo 11 yang berukuran lebih kecil karena ia diangkut dalam keadaan terurai, dan seterusnya.

Krisis komunikasi dapat juga terjadi dalam kasus lain. Misalnya soal rencana merger bank yang mungkin berakibat pada terjadinya rush, seorang PR bisa meredamnya dengan mengingatkan publik bahwa pemerintah masih menjamin dana nasabah bank.

Atau kalau ada kabar produk yang dikeluarkan klien kita ternyata tak baik untuk kesehatan, sebaiknya cepat dikatakan bahwa terhadap produk itu akan dilakukan penelitian lebih cermat, dan kalau perlu, produk tersebut segera ditarik dari pasaran.

Singkatnya, saat krisis terjadi ada beberapa hal yang harus dipegang teguh oleh seorang PR, agar citra perusahaan tak langsung ambrol hanya karena satu kritik.

Jangan membuat spekulasi apa pun terhadap situasi yang terjadi. Jangan pernah mencoba membohongi publik. Tetap lah pada fakta yang terjadi. Jangan pula melawan arus pemberitaan media, cermati saja ke mana arahnya, lalu berikan penjelasan secara gamblang bagaimana kejadian yang sebenarnya.

Usahakan Anda-sebagai seorang manajer PR-selalu menjadi sumber utama yang menjernihkan semua persoalan yang muncul. Di sini tetap lah bersikap tenang dan siap bekerja sama dengan siapa pun.

Dengan resep seperti itu akar permasalahan dapat diatasi. Bukan tidak mungkin pihak-pihak yang selama ini bersikap apriori menjadi simpati. Semua itu memang butuh profesionalitas yang tinggi. Tidak susah bukan?

Sumber:
Bisnis Indonesia
Oleh:
Christovita Wiloto
Managing Partner Wiloto Corp. Indonesia

www.wiloto.com

www.wiloto.com